Radikalisme Hanya Bisa Dilawan Dengan Nilai-Nilai Agama dan Budaya

0
172
Foto: Pater Philipus Tulle didampngi Wagub Benny Litelnony dan Sekda NTT, Fran s salem dalam kegiatan bimbingan rohani kepada ASN Tingkat Provinsi NTT

NTTsatu.com – KUPANG – Radikalisme yang tengah “menggelora” saat ini harus dihadapi dan dilawan dengan kekuatan nilai-nilai agama dan budaya yang telah lama dihidupi masyarakat.

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Pater Dr. Philpus Tule, SVD dalam kegiatan Pembinaan Rohani Gabungan bagi ASN Lingkup Pemerintah Provinsi NTT di Aula Utama El Tari, Jumat (26/5). Kegiatan ini diprakarsai Dewan Pengurus Korpri Provinsi NTT dengan tema “Bahaya Radikalisme Agama Dari Perspektif Agama-Agama Formal, Sebuah Pendekatan Pluralitas Kebangsaan”.

Menurut Dosen Islamologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere itu, secara etimologis, kata radikal, fundamental, fanatis memiliki makna positif serta harus dimiliki oleh setiap umat beragama.

“Sebagai  orang beriman, kita harus menjadi radikal, kembali ke fundamen atau dasar agama yakni Kitab Suci, Injil, Al-Quran, teologi, hadits dan tradisi. Orang yang sungguh kembali ke akar agamanya akan menghayati imannya secara benar, melihat nilai-nilai luhur dalam kebudayaan serta menolak penggunaan kekerasan. Kata-kata tersebut akan bermakna negatif ketika ditambah akhiran isme sehingga menjadi radikalisme, fundamentalisme dan fanatisme dengan mengedepankan pendekatan kekerasan dan pemaksaan kehendak kepada orang lain. Sesungguhnya, radikalisme, fundamentalisme dan terorisme ada dalam semua sejarah agama,” jelas salah satu penulis buku Identitas Muslim Pribumi NTT tersebut.

Lebih lanjut penulis buku Mendambakan Rumah Allah, Mendiami Rumah Leluhur tersebut, akar radikalisme dan fundamentalisme bersumber dari persoalan ekonomi, politik dan penafsiran  yang keliru terhadap  agama.

“Paham radikalisme telah merasuk orang individu, masyarakat, organisasi, partai politik dan lingkungan pendidikan. Dedengkot radikalisme di Indonesia mengintai remaja dan anak-anak muda yang masih labil untuk dijadikan pengikut dan anggota kelompok radikal. Pemerintah dan semua komponen bangsa harus terus meningkatkan kewaspadaan untuk membendung penyebaran radikalisme dan fundamentalisme,” katanya.

Menurut Ketua STFK Ledalero itu, semua pihak harus bersatu padu untuk membongkar radikalisme lewat upaya-upaya deradikalisasi.

“Ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk melawan radikalisme. Pertama, dengan mengembangkan wacana keagamaan baru dengan mengusung budaya damai. Kedua, para tokoh agama harus bisa membina umatnya menjadi orang militan yang tekun berdoa dan membaca kitab suci, rajin beribadah. Ketiga, mengembangkan pendidikan multikulturalisme mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Keempat, melanggengkan otonomi relasi agama dan budaya. Kekuatan sosial budaya ini menjadi modal penting membendung radikalisme,” jelas Philipus Tule.

Langkah berikutnya, tambah Pater Philipus, adalah dengan  memperluas dan mengektifkan jejaring tokoh lintas iman dan agama yang memperjuangkan spiritualitas lintas iman.

“Upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan, pemerataan pembangunan di seluruh pelosok negeri serta penegakan hukum yang adil, juga menjadi langkah penting untuk membendung penyebaran radikalisme semakin luas,” tutup Pater Philipus sembari menegaskan Pancasila, UUD 1945, Kebhinekanan dan NKRI merupakan warisan pendiri bangsa yang harus terus ditegakan dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun.

Senada dengan itu Wakil Gubernur NTT,  Benny A. Litelnoni bersama Sekretaris Daerah Provinsi NTT, Fransiskus Salem mengajak semua ASN yang hadir untuk senantiasa bersyukur atas karya ilahi di luar diri kita. Mereka mengajak semua yang hadir untuk lebih menyadari sentuhan rohani yang senantiasa hadir, di tengah hirup pikuk kehidupan sehari-hari.

Secara khusus, Frans Salem menyampaikan ucapan terimakasih dan permohonan maafnya, untuk kerjasama semua ASN selama berkarya. Sebagai Sekretaris Daerah Provinsi yang akan mengakhiri masa tugasnya Juli nanti, ia mengulangi niat untuk menyukseskan rencana pembangunan Monumen Pancasila. (humas setda ntt)

Komentar ANDA?