RDP DPRD dan Pedagang Pasar Alok Berujung Ricuh

0
232
Foto: Para pedagang Pasar Alok memenuhi ruang paripurna DPRD Sikka setelah tuntutan mereka tidak diakomodir dalam rapat dengar pendapat bersama DPRD Sikka dan pemerintah, Rabu (6/9)

NTTsatu.com – KUPANG – Suasana ruang paripurna DPRD Sikka, Rabu (6/9), jadi memanas dan tampak hiruk pikuk. Ratusan pedagang dari Pasar Alok berteriak-teriak melampiaskan kekecewaan mereka kepada anggota DPRD Sikka. Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara dua pihak itu pun berujung ricuh.

Para pedagang spontan ramai-ramai berteriak mempersoalkan hasil RDP yang mereka anggap tidak ada keputusan final atas tuntutan mereka. Mereka kecewa karena RDP selama 4 jam sejak pukul 10.00 Wita tidak menghasilkan sebuah keputusan. RDP tersebut dipimpin Wakil Ketua DPRD Sikka Stephanus Say.

Kekecewaan para pedagang menyusul Stephanus Say menutup RDP dengan sejumlah rekomendasi kepada Dinas Koperasi Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sikka. Rekomendasi tersebut disimpulkan dari berbagai pikiran dan pendapat anggota DPRD, pemerintah dan para pedagang. Usai menyampaikan rekomendasi Stephanus Say langsung menutup RDP.

Kondisi ini memicu amarah para pedagang yang mengikuti RDP. Spontan mereka berteriak-teriak menuding DPRD Sikka gagal memperjuangkan aspirasi mereka. Tampak beberapa perempuan pedagang yang kusuk mengikuti RDP sejak pagi begitu kecewa dengan sikap politik DPRD Sikka.

Namun kondisi ini tidak berlangsung lama. Aparat keamanan dari Polres Sikka segera sigap mengantisipasi pembiasan.

Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Yoseh Benyamin melakukan pendekatan persuasif kepada beberapa pedagang yang masih melampiaskan kekecewaan. Kurang lebih setengah jam, suasana berngsur kondusif. Para pedagang meninggalkan ruang paripurna, dan berkumpul di luar Gedung DPRD Sikka.

Sebelummya RDP di ruang paripurna berlangsung cukup seru antara antara anggota DPRD Sikka, pemerintah dalam hal ini Dinas Koperasi Perdagangan dan Perindistruan dan Dinas Satpol PP dan Damkar, bersama para pedagang Pasar Alok yang didampingi GMNI Cabang Sikka. RDP ini menyangkut masalah retribusi parkir kendaraan bermotor dan sejumlah masalah pada Pasar Alok.

Para pedagang melalui GMNI Sikka menyampaikan 6 tawaran untuk didiskusikan bersama:

Pertama, mendesak UPT Pasar Alok melalui DPRD Sikka memberhentikan retribusi parkir dalam bentuk apapun kepada para pengguna pasar.

Kedua, GMNI Sikka mengkaji bahwa pemberlakuan karcis berlangganan di Pasar Alok terindikasi pungutan liar.
Ketiga, mendesak UPT Pasar Alok melalui DPRD Sikka meninjau dan mengkaji kembali penerapan pembayaran retribusi parkir di depan pintu masuk.

Keempat, mendesak UPT Pasar Alok melalui DPRD Sikka menata kembali fasilitas-fasilitas umum berupa WC dan los-los yang diperuntukkan bagi pedagang.
Kelima, mendesak UPT Alok melalui DPRD Sikka menata kembali manajemen parkiran di Pasar Alok yang tidak efektif.

Keenam, mendesak Kepala Dinas Koperasi dan Perindag untuk segere mencopot Kepala UPT Pasar Alok.

Foto: Aksi demonstrasi para pedagang Pasar Alok bersama GMNI Cabang Sikka ke DPRD Sikka, Rabu (6/9), terkait retribusi jasa umum

Dalam RDP ini, sebagian besar Anggota DPRD Sikka memberi apresiasi atas kinerja yang sudah dilakukan Kepala UPT Pasar Alok. Apresiasi yang sama juga kepada Dinas Satpol PP dan Damkar yang telah mengamankan dan menegakkan peraturan daerah terkait retribusi parkir dan tagihan tunggakan sewa jasa fasilitas.

Soal pemakaian dan fungsi fasilitas sebagai sarana prasarana di Pasar Alok, DPRD Sikka sependapat agar pemerintah melalui Dinas Koperasi dan Perindag dan Kepala UPT Pasar Alok melakukan penataan yang maksimal untuk kepentingan pelayanan dan kenyamanan di dalam pasar.

Para pedagang di Pasar Alok memilih menyampaikan aspirasi mereka melalui DPRD Sikk setelah buntunya dialog terbatas dengan Kepala Dinas Koperasi dan Perindag Lukman, Kepala Satpol PP dan Damkar Yoseph Benyamin pada Senin (4/9) lalu. Mereka melakukan aksi demonstrasi ke Gedung DPRD Sikka didampingi puluhan aktifis GMNI Sikka, beramai-ramai long march dari Pasar Alok, berjalan kaki sejauh kurang lebih 3 kilometer.

Aksi long march ini dikawal ketat puluhan aparat keamanan dari Polres Sikka. Sebuah mobil voordjeder memandu jalannya long march. Bendera-bendera GMNI berkibar di antara ratusan pendemo. Puluhan kendaraan roda dua mengikutinya dari belakang.

Mereka membawa sebuah spanduk besar yang bertuliskan stop penghisapan terhadap pedagang dengan hagstag “savepedagang”.

Sebelum mengikuti RDP, sejumlah aktifis GMNI Sikka dan pedagang pasar bergantian melakukan orasi dari atas sebuah kendaraan pick up. Inti dari orasi adalah menyampaikan tuntutan-tuntutan kepada DPRD Sikka untuk mencabut Perda Nomor 11 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. (vic)

 

Komentar ANDA?