Renungan Akhir Tahun 2020

0
517

Oleh Mgr. Petrus  Turang

Persekutuan Gerejani

Gereja berada dalam krisis multidimensional. Gereja harus memandang krisis sekarang ini dalam terang Injil tidak seperti mengadakan otopsi pada jasad orang mati. Cara pandang terhadap krisis harus berdasarkan pengharapan dan terang Injil. Memang krisis sangatlah mengganggu, bilamana persekutuan gerejani telah melupakan untuk melihat dan menghayatinya dalam semangat terang Injil.

Gereja bekerja sama demi melayani Injil, khususnya mewartakan Injil kepada mereka yang sangat berkekurangan dalam perjalanan hidup. Kita tidak dapat melihat wajah Allah, tetapi kita dapat berjumpa dengan sesama, utamanya mereka yang berkekurangan. Oleh karena itu, karya cinta kasih menjadi bagian utuh dalam pelayanan pastoral, yaitu demi memajukan perkembangan manusia seutuhnya bagi semua orang.

Refleksi atas krisis yang terjadi dalam Gereja mengingatkan kita untuk tidak menilai Gereja secara berlebihan terkait dengan krisis yang diakibatkan oleh skandal masa lalu dan sekarang. Nyatanya, semuanya terjadi akibat kelemahan kepemimpinan yang membawa dampak perbedaan pandangan dan cara berpikir, keributan, bahkan pemberontakan. Universalitas dari perutusan gerejani menjadi lemah, karena kurangnya kerja sama dalam melakukan pelayanan pastoral bersama, khususnya dalam masa krisis.

Setiap krisis dengan benar menuntut suatu pembaruan. Jika kita sesungguhnya menginginkan pembaruan, kita harus berani terbuka sepenuhnya. Kita perlu berhenti melihat reformasi dari Gereja sebagai merajut kembali pakaian yang lama. Reformasi atau pembaruan dalam Gereja di masa krisis mengisyaratkan semangat bersaudara menurut kaidah Injili, yaitu semangat berkorban demi kebaikan bersama.

Selama krisis akibat pandemi Covid-19, Gereja menyatukan diri dengan seluruh upaya masyarakat dunia untuk menemukan jalan keluar bersama menuju lingkungan hidup yang sehat. Gereja sebagai persekutuan umat beriman perlu berpartisipasi sebagai warga masyarakat dunia demi keutuhan lingkungan hidup yang sehat.

Gereja Keuskupan Agung Kupang juga prihatin atas keadaan krisis sekarang ini. Para pastor dan pemimpin umat setempat tetap menjalankan pelayanan pastoral dalam kewaspadaan, yaitu patuh pada protocol kesehatan, agar kesehatan hidup terjaga dan berada dalam keseimbangan. Kita semua berupaya untuk bahu membahu dan saling menopang demi kebaikan yang membawa kegembiraan bagi banyak orang. Terima kash atas segala pelayanan dan pengorbanan, biarpun kita masih berada dalam pembatasan dan perlambatan. Emmanuel, Allah beserta kita, menguatkan dan menyuburkan semangat Injil dalam karya pastoral kita bersama!

Masyarakat dunia

Masyarakat dunia memang berada dalam krisis yang bercorak multidimensional utamanya dalam kaitan dengan wabah corona virus. Masing-masing bangsa dan negara mencari jalan efektif untuk meringankan terpaan corona virus Covid-19. Krisis sekarang ini berdampak pada setiap orang dan segala sesuatu, tanpa kecuali. Sesungguhnya, krisis selalu sudah hadir di mana-mana dalam setiap masa sejarah, khususnya dalam hubungan dengan ideologi, politik, ekonomi, teknologi, ekologi dan agama. Bahayanya adalah bahwasannya bangsa atau negara hanya berpikir tentang keamanan diri sendiri, seperti nasionalisme sempit, sehingga penanganan bersama tidak menjadi tekad bersama sedunia.

Pada umumnya, krisis mempunyai dampak positif, karena krisis juga menjadi suatu kesempatan untuk mendorong terciptanya gaya hidup baru. Sejatinya, berbarengan dengan krisis, muncul juga konflik yang selalu menciptakan perselisihan dan kompetisi, yaitu atau menciptakan orang-orang lain dalam lingkungan kawan untuk dicintai  atau lingkungan musuh untuk diperangi, termasuk upaya-upaya untuk memerangi wabah Covid-18. Perbedaan pandangan selalu hadir di kala masyarakat dunia terjebak dalam krisis kehidupan.

Kerja sama dan kesepakatan sosial ekonomi politik mengalami pembatasan dan perlambatan, sehingga umat manusia harus menghadapi kedaruratan dengan waspada. Masyarakat dunia dewasa ini sangat memerlukan solidaritas global demi kebaikan bersama, khususnya bangsa dan negara yang sedang berkembang. Kepemimpinan masyarakat dunia perlu mengedepankan kerjasama yang baik dan benar demi memastikan ketahanan kesehatan masyarakat dunia. Program kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas ketimbang pembiayaan persenjataan yang mungkin menyulut kekerasan, diskriminasi dan juga korupsi.

Kerja sama solidaritas global perlu menjadi program prioritas masyarakat dunia, agar ketahanan hidup bersama dapat berkembang kembali dalam keadilan dan perdamaian. Dalam upaya untuk menemukan cara pengobatan yang berdampak universal, para pemimpin masyarakat dunia harus terbuka satu sama lain secara jujur demi menggerakkan keahlian medis menuju hasil-hasil yang berdampak kebaikan bersama secara global.

Masyarakat Indonesia

Krisis multidimensional juga melanda masyarakat Indonesia. Pemerintah menetapkan kebijakan untuk menjaga kesehatan masyarakat berbarengan dengan upaya-upaya untuk menekuni pertumbuhan hidup ekonomi, khususnya dalam hal pangan. Penularan virus Covid-19 belum dapat dikendalikan dengan efektif, karena pemahaman yang berbeda serta penanganan dengan keterjangkauan yang beragam pula.

Krisis yang menghantam kehidupan berbangsa, khususnya sosial politik, juga harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh, agar kebersamaan bangsa tetap kuat dalam menghadapi pelbagai tantangan dan kesulitan hidup di tengah wabah covid-19. Lingkungan “saling mengucilkan” perlu mendapatkan pendekatan yang efektif, agar kebersamaan semakin melemahkan atau menyngkirkan sikap intoleran dalam perjalanan hidup. Pemerintah harus mengutamakan solidaritas berbangsa dalam menangani persoalan kesehatan. Pelbagai radikalisme yang berdampak extremisme dan bahkan terorisme dapat ditanggulangi, artinya dapat diselesaikan menurut peradaban manusiawi yang adil.

Perombakan kabinet dengan penggantian beberapa menteri mudah-mudahan membawa angin segar yang mampu mengarahkan masyarakat menuju pertumbuhan hidup yang berkelanjutan dalam keadilan dan perdamaian. Persoalan krisis kesehatan tetap harus menjadi prioritas, jikalau bangsa kita ingin mengalami pertumbuhan hidup sosial ekonomi yang maju dan sejahtera bagi semua. Pemerintah dan pihak swasta perlu bekerjasama untuk menciptakan semakin tersedianya lapangan kerja bagi generasi muda dalam bingkai menciptakan suatu lingkungan hidup yang adil bagi semua.

Kehidupan demokrasi harus dilaksanakan dalam kejujuran dan keadilan, karena kuasa tertinggi berada dalam tangan rakyat, yang tidak hanya terbatas pada perwakilan terpilih. Pemerintah tetap perlu mendengarkan aspirasi masyarakat demi memaju- kan dan menyuburkan keadilan sosial bagi semua. Dalam keadaan krisis sekarang ini, seluruh komponen bangsa harus mengutamakan kerjasama aktif, kreatif dan efektif guna menanggulangi terpaan Covid-19.

Kehadiran Polri, TNI dan BIN telah menumbuhkan sinergitas yang kreatif dan efektif dalam upaya bersama untuk menanggulangi wabah Covid-19. Masyarakat NTT merasakan kebersamaan dalam menumbuhkan lingkungan hidup yang bersih dan sehat dengan mematuhi 3M dan 3T demi keamanan hidup dan penghidupan. Informasi dan komunikasi yang konstruktif dalam penanganan Covid-19 hadir demi kebaikan bersama, khususnya dalam menggerakkan komunikasi sosial ekonomi yang aman dan berkeadilan.

Masyarakat NTT

Masyarakat NTT juga tidak terlepas dari krisis multidimensional. Tantangan kesehatan harus tetap menjadi prioritas guna menjaga rasa aman dalam perjalanan hidup. Upaya-upaya besar di bidang pertumbuhan ekonomi, termasuk pariwisata, tidak akan berjalan mulus, bilamana kesehatan masyarakat terganggu tanpa penanganan yang baik dan benar. Di mana-mana perlu suatu kerjasama yang efektif, karena keadaan krisis hanya dapat diatasi dengan membangun perilaku peduli satu sama lain.

Pemerintah Daerah sedang mengusahakan “perubahan sosial” di NTT dengan pelbagai program pengembangan yang bernada ‘premium’. Kita berharap bahwa program ini akan berdampak bagi seluruh perjalanan masyarakat NTT dan tidak saja berkisar di kalangan elit terbatas. Namun, pantas apresiasi atas gerakan perubahan dalam masyarakat NTT dan mudah-mudahan membawa perilaku bersama untuk bangkit sejahtera  dalam lingkungan hidup yang berkelanjutan secara  manusiawi.

Kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan seperti perbaikan serta pembenahan infrastruktur (jalan dan listrik) sangat membantu masyarakat untuk bekerja dengan lebih baik dan terencana. Dengan demikian, keterbukaan sejahtera makin terpampang luas dan cerah di masa depan. Kehadiran komunikasi digital juga semakin terpenuhi, sehingga komunikasi antar warga semakin mudah. Hanya harus diingat bahwa komunikasi digital tidak memperluas ujaran-ujaran yang tidak mendukung persaudaraan dan persahabatan sosial.

Pengembangan sarana dan prasarana kehidupan di beberapa tempat mudah-mudahan tidak meninggalkan tempat lain, tetapi berkembang dalam antarhubungan yang saling menopang dan saling menguntungkan bagi pertumbuhan hidup bersama. Penghidupan pertanian harus mendapatkan perhatian yang tepat, agar program pengembangan sosial ekonomi seperti TJPS tidak hanya tetap di bibir, tetapi menjadi kenyataan yang menghidupkan dan memberdayakan kesejahateraan bersama.

Pembaruan kepemimpinan pemerintah daerah tentu saja membawa kegembiraan bersama. Persoalannya, apakah pembaruan ini akan memberikan dampak perubahan dalam pelayanan kehidupan masyarakat atau menjadi ajang kekuasaan yang sempit dan kaku. Mudah-mudahan para pemimpin terpilih akan melaksanakan amanah dengan rendah hati demi kebaikan masyarakat di daerahnya, khususnya dalam upaya menumbuhkan kerukunan hidup dan penghidupan.

Persoalan sosial budaya perlu mendapatkan perhatian efektif, agar berbarengan dengan krisis saat ini pendidikan peradaban baru sesungguhnya dapat memajukan perilaku masyarakat yang bersaudara dan bersahabat. Budaya peduli sesama harus ditumbuhkan demikian rupa, sehingga warga masyarakat dapat hidup dalam keadilan dan perdamaian, khususnya kerukunan antarumat beragama. Dengan demikian, setiap orang dapat melakukan peran aktif dan kreatif untuk memajukan kesejahteraan bersama, khususnya dalam hal sosial ekonomi, tanpa membedakan.

Ajakan akhir

Pada akhir tahun 2020, pantaslah kita bersyukur kepada Allah yang Mahakuasa dan Maharahim atas perlindungan-Nya, sehingga kita boleh mengalami kehadiran-Nya di tengah pelbagai krisis, khususnya krisis kesehatan akibat Covid-19. Dengan mengalami pelbagai kenyataan dan keadaan yang menggembirakan, memprihatinkan dan menyedihkan, kita sadar akan keterbatasan manusiawi dalam memelihara lingkungan hidup. Kita mohon pengampunan serta berkat, agar di masa depan kita mampu mengembangkan lingkungan hidup lebih bersaudara dan bersahabat di dalam kekuatan dan pertolongan rahmat-Nya.

Dalam kebijakan terhadap krisis kesehatan saat ini, kita bersiap masuk ke dalam waktu yang baru, yaitu Tahun 2021. Kita masih berada dalam krisis yang sama. Kita perlu membangun perilaku baru yang penuh ketekunan demi kebaikan bersama. Para penyedia berita hendaknya melakukannya dengan kejujuran dan penuh tanggungjawab demi suatu komunikasi sosial yang konstruktif dalam memajukan informasi yang mendorong kesejahteraan masyarakat. Para pemimpin dan seluruh masyarakat perlu membangun kerjasama yang terbuka, efektif dan kreatif guna memajukan ketahanan hidup yang berdampak bagi semua orang. Budaya peduli bersesama akan menjadi kekuatan bersama untuk menghadapi krisis kehidupan yang sedang berlangsung sekarang ini. Kita tidak takut, tetapi berani untuk bergerak bersama demi kemanusiaan yang adil dan beradab. Selamat menyongsong Tahun Baru 2021 dan Tuhan Mahakuasa memberkati kita semua!

Kupang, 28 Desember 2020

Mgr. Petrus Turang Uskup Agung Kupang

Komentar ANDA?