Respons Dan Reaksi Sebuah Catatan

0
409

Oleh : Thomas Tokan Pureklolon

Respons dan reaksi, dua kata yang kedengarannya mirip bahkan ada yang mengatakan bahwa kata yang mirip dengan “respons” adalah “reaksi,” yang kadang berkonotasi negatif.

Jika anda minum obat yang diberikan oleh seorang dokter dan merespon obat itu, bagi saya berarti obat itu sangat positif untuk kesembuhan Anda, dan Anda pun tidak dinilai sebagai penjual obat yang mujarab. Tetapi jika Anda bereaksi karena obat itu, bagi saya artinya ada sesuatu yang tidak diinginkan atau ada sesuatu yang buruk telah terjadi pada kesehatan Anda, dan pada saat yang sama Anda dinilai sebagai penjual obat. Itulah sebuah perbedaan yang sangat kecil. Walaupun reaksi dan respons bisa memiliki arti yang mirip, bagi saya respons memiliki konotasi yang positip.

Ada juga contoh lain adalah kata “masalah” dan “tantangan.” Masalah adalah ada sesuatu yang serius dengan implikasi negatif. Saya sendiri lebih memilih kata “tantangan.” Bisa jadi terdapat sebuah tren paradoks yang terendab pada saya terhadap kata “tantangan”.

Karena itu, dalam penggunaan dan pemahamannya, saya lebih menyukai tantangan, tetapi pada saat yang sama saya pun menyukai masalah.

Terkadang juga, ketika harus mengucapkan kata “masalah,” saya memperhalusnya dengan kata “tantangan”. Bisa juga hal ini selaras dengan sebuah prinsip bahwa masalah memiliki manfaat tersendiri yang berupa kesempatan ketika Anda melatih diri untuk mencari dan menemukannya. Seperti krisis dan situasi, kesulitan dan rintangan, situasi dan masalah, kegagalan dan pengalaman bepergian di sebuah wilayah yang jauh dan tak tau kapan kembali, misalnya. Kalau pun kembali, proses kembalinya sangat fantastis dan problematis. Semuanya hanya segelintir contoh dalam pilihan kata untuk menyampaikan apa yang kita maksud.

Ada lebih banyak contoh lagi yang bisa dilihat; bisa dari latar belakang pengalaman dan bisa dari perjuangan hidup lewat sebuah lembaga yang penuh dengan kekerasan yang mencekam. Melalui pengalaman dan perjuangan hidup bisa teridentifikasi secara tenang status quesionisnya dari segala sesuatu secara damai atau sebaliknya sangat mencekam. Dari sinilah bisa dibuat preferensi mana yang positip dan mana yang negatip pada saat yang bersamaan.

Kata-kata positip dan menguatkan, dapat menciptakan sikap positip dan proses berpikir yang positip dan bisa oke di dalamnya. Jika hal tersebut terus dikembangkan, bisalah segera hadir sebuah sosok keterampilan baru yang
akan menjadi sebuah respon berantai dari pikiran positip, yang akan mendorong tindakan yang mengarah pada berbagai peristiwa yang akan menciptakan hasil positip yang gemilang.

Yang terus diharapkan adalah sikap positip tercermin dalam pilihan kata yang terus memancarkan optimisme bagi siapa pun yang mendengar dan membacanya. Optimisme ini, kiranya menjadi kekuatan dan katalis baru untuk terus menciptakan hasil yang luar biasa dalam setiap hidup dan kehidupan ini.

Semuanya terjadi seperti air mengalir dan hadirnya kata-kata dalam ucapan penuh syukur dan kegembiraan yang meluap dari hati nan ikhlas, yang tentu memiliki makna, nilai dan tujuan hidup yang berpengaruh lebih luas. Itulah harapan siapapun jua.

Praise the Lord and Grace upon Grace.

============

*) Thomas Tokan Pureklolon.
                       Dosen Universitas Pelita Harapan.
                       Penulis 9 buku referensj Ilmu Politik.

Komentar ANDA?