Ritual Adat Bisa Lerai Lewotobi?

0
526

Oleh: Robert Bala

Meletusnya gunung Lewotobi laki-laki sejak 23/12/2023,  telah meninggalkan duka mendalam. Aneka cara digunakan untuk (kalau bisa) melerai ‘amukan’ ‘si Lewotobi laki-laki’. Semua mata menengadah ke langit (kerap dengan tatapan kosong). Malah kerap, meski doa semakin ditingkatkan intensitas, bencana malah makin menjadi-jadi.

Tak cukup doa dari jauh. Toko adat dari Nurabelen mendekati gunung dengan jarak hanya 30m dari lava yang tengah mengganas (16/1), Kompas 17/1. Dengan sesajen: anak kambing jantan, beras yang dolah dengan cara ditumbuk, tembakau, dan minuman yang disuling dari air lontar atau kelapa, mereka berharap agar ‘emosi gunung’ itu meredah.

Yang jadi pertanyaan: apakah sesajin itu bisa melerai amukan gunung Lewotobi? Atau, apakah bila setelah seremoni terjadi tetapi letusan tidak berkurang malah kian menjadi-jadi, apakah itu pratana bahwa sesajin itu masih belum sempurnah? Atau, apakah bila setelah 3 minggu meletus dan diadakan seremoni dan letusan itu berakhir, apakah itu terjadi karena doa dan seremoni?

Pertanyaan ini tidak bermaksud meremehkan tidak saja ritual adat tetapi juga doa-doa tulus. Malah pertanyaan ini bila diletakkan secara tepat dapat menjernihkan iman oleh karena pandangan yang dewasa dan bijak.

Otonomi Ciptaan

Pertanyaan cukup problematis ini tentu tidak mudah dijawab. Tetapi jawaban ini bisa dicari pada kemahabijaksananya Sang Pencipta Ia memberi otonomi pada ciptaan, saat menciptakan bumi dan segala isinya (termasuk manusia di dalamnya).

Cara berpikir seperti ini memang tidak mudah dipahami manusia. Ketika membuat (atau menciptakan) sesuatu, manusia selalu memiliki pengaruh pada ciptaan atau buatan tangannya. Apa yang dihasilkan tidak ingin hilang begitu saja. Karenanya selalu ada dalam jangkauan dan genggaman ‘si pembuat’ atau ‘penciptanya’.

Hak paten sebagai pengakuan akan karya cipta / hak paten bisa membantu pemahaman kita. Selain mendorong inovasi, juga hak paten diterbitkan karena memiliki keuntungan ekonomis bagi pencipta. Karenanya ia tidak akan dilepaskan begitu saja.

Logika seperti ini berbeda dengan Tuhan, Sang Pencipta. Sekali ia mencipta, Ia memberikan otonomi dan tidak dikuasai lagi. Alam lalu bergerak sesuai hukum alamnya. Dengan demikian ketika ada ‘amukan’ alam (seperti gunung meletus), maka ia tidak bisa ditafsir sebagai hukuman dari Tuhan. Itu terjadi karena alam sendiri yang bisa disebabkan oleh perbuatan manusia atau pada sisi lain oleh umur alam ciptaan yang selalu mengikuti hukum alam. Ia ada dan akan disebut pernah ada karena telah hilang waktunya.

Mengapa otonomi ciptaan perlu dipahami dan bencana dianggap sebagai konsekuensi dari otonomi alam? Karena wajar saja. Bagaimana mungkin, Tuhan (lera wulan tanah ekan) yang begitu indah diciptakanNya, diporak-porandakan sendiri oelh Sang PenciptaNya? Apakah masuk akal ketika Tuhan begitu ‘marah’ sehingga ia menghanguskan ciptaaNya sendiri?

Pertanyaan ini mengingatkan kita akan wafatnya Mbah Maridjan. Penjaga gunung Merapi yang wafat terpanggang pada 26/10/2010. Mengapa bisa terjadi? Karena ia (dan media yang terlampau menjadikannya sakti) menganggap alam masih ‘dikontrol’ oleh sesajen. Penjelasan ini hanya mau menyadarkan bahwa ciptaan memiliki otonomi. Dengan demikian ritual dengan keyakinan setangguh apapun tidak akan melerai bencana karena keduanya tidak ada dalam hubungan saling terkait.

Pemahaman seperti ini tentu sangat menarik meski di sisi lain memiliki celah untuk disalah tafsir. Ada yang berhenti pada pemahaman ini dan langsung mengambil kesimpulan keliru. Pemahaman tentang otonomi ciptaan dan tidak ada kaitan lagi dengan ‘Sang Pencipta’ membuat orang merasa tidak perlu beragama lagi dan menjadi atheis.

Cara pandang seperti ini perlu dijernihkan. Otonomi ciptaan justru menggambarkan begitu kasih tak bertepi dari Sang Pencipta. Ia tidak egois seperti manusia pada umumnya yang selalu menajga agar ciptaanNya tetap berada di bawah kontrolNya. Ia justru memberikan otonomi sekaligus memberikan tanggungjawab pada manusisa untuk mengaturnya secara bijaksana.

Di sinilah jawabannya. Adanya bencana alam misalnya tidak bisa dipisahkan dari perubatan manusia terhadap alam. Tentu perbuatan itu tidak bisa dilihat secara langsung tetapi kerap menjadi akumulasi selama ratusan ribu malah jutaan tahun sebelumnya.

Memang korelasi antara tindakan manusia dan alam dalam arti tertentu (seperti banjir bandang akibat deforestasi atau penggundulan hutan, mudah dipahami. Pada kasus lain seperti gunung meletus, tidak mudah dicari korelasi untuk menjelaskan akumulasi tekanan dalam kawah atau ruang magma, lelehan batuan pada kerak bumi, atau akumulasi penumpukkan gas yang menjadi sebab meletusnya gunung. Yang mungkin bahwa proses letusnya gunung bisa dicari penjelasannya sebagai konsekuensi sebuah ciptaan yang ada dalam ruang dan waktu. Ada waktu untuk lahir dan ada. Ada waktu untuk mati dan menjadi tidak ada.

Lalu apa fungsi ritual atau doa? Bila uraian pemikiran ini kita terima maka doa merupakan momen reflektif bagi manusia untuk mengakui betapa mahabijaksananya Tuhan yang memberikan otonomi pada ciptaan. Dengan doa juga manusia bisa memberi ruang pada rasa seesal karena terlampau serakah menguasai alam dan sesama demi kepentingan sesaat yang juga sesat. Di situ doa bisa mengantar manusia kepada pertobatan.

Pada tahapan ini, seremoni masyarakat dari Nurabelen – Flotim diterima sebagai ungkapan permohonan maaf. Tetapi yang perlu dikoreksi, maaf melalui ritual tidak dibuat untuk menghentikan letusan. Akumulasi tekanan dan gas tetap akan keluar meski ritual adat dan doa disampaikan. Yang ada, doa dan ritual bermanfaat bagi manusia untuk bisa menjadi lebih tenang dalam menyikapi bencana dan menyesuaikan irama hidupnya agar tidak menjadi begitu terpukul akibat amukan alam.

Refleksi positif inilah yang barangkali dibahasakan dengan jelas oleh Ebiet G. Ade, mengajak kita untuk segeralah bersujud dan bersyukur karena mumpung kita masih diberi waktu untuk tidak saja ingat akan kemahabijaksanaan Tuhan yang mencipta dan memberi otonomi tetapi juga untuk lebih ingat pada sesama yang ternyata di depan Lewotobi semuanya sama tidak ada yang lebih dan kurang.

==========

Robert Bala. Penulis buku: Memaknai Badai Kehidupan (Penerbit Kanisius, Jogjakarta)

Komentar ANDA?