SEKOLAH OLAHRAGA, ADA MASA DEPAN?

0
750

Oleh: Robert Bala

Apakah orang sekolah di SEKOLAH OLAHRAGA hanya jadi atlit? Apakah orang yang belajar di SKO (Sekolah Keberbakatan Olahraga) punya masa depan?

Ini pertanyaan yang kesekian kali. Banyak orang tua justru melarang anaknya agar tidak belajar di SKO. “Sekolah hanya main-main, nanti masa depanmu bagaimana?” Itu keluhan beberapa anak SMP tentang komentar orang tua mereka saat mereka ungkapkan mau sekolah di Sekolah Olahraga.

Saya rasa kecemasan orang benar adanya. Banyak orang yang hanya ‘main-main’ di sekolah olahraga. Orang tua tentu cemas, kalau2 hidup hanya ‘main-main’ saja. Apakah bisa menjamin masa depan cara-cara seperti itu?

Selain itu, sudah terbukti, banyak atlit yang jaya pada masanya tetapi kemudian di hari tuanya sangat tidak diperhatikan. Saya pernah temui Elyas Pical di Mall. Kini jadi satpam. Karena itu komentar dan pendapat orang bisa saja benar.

Terhadap mereka, saya tidak mau bantah. Saya hanya memberikan beberapa referensi. Daniel Hurek (mantan Wakil Wali Kota Kupang), lulusan sekolah olahraga. Dia dari SGO (sekolah guru olahraga). Linus Lusi Making, S.Pd, M.Pd, kini Kadis P dan K juga dari SGO. Di Lembata, Thomas Ola, wakil bupati, adalah pemain sepak bolah PSK Kupang. Dan yang paling popular bagi orang NTT, Frans Lebu Raya. Dia dari SGO dan kemudian kuliah juga olahraga.

Artinya, olahraga membuka pintu bagi mereka untuk mencapai prestasi yang lain. Karena itu sekolah di sekolah olahraga tidak berarti tidak punya masa depan. Olahraga jadi pintu. Pertanyaan kita, mengapa olahraga bisa mengantar mereka ke pintu sukses? Artinya tidak semua yang bersekolah di Sekolah Olahraga.
Pertanyaan di atas sedikit demi sedikit terjawab. Awal dekade lalu (2010) saya mendengar tentang negara paling maju dalam dunia pendidikan: Finlandia. Di sini terdapat jawaban mengapa olahraga berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahun dan menjadikan mereka paling hebat dalam pendidikan.

Di negara Nordik, Eropa Utara ini, ternyata model pembelajaran dilakukan dengan mengombinasikan belajar dan bergerak. Bagi mereka, semboyoan movement is the door to learning (Gerakan adalan pintu masuk kepada pembelajaran) itu sungguh dilaksanakan. Itu berarti olah tubuh, olah batin, olah otak harusnya berjalan bersamaan (hal mana sering dilupakan dalam pendidikan kita).

Ide dari negara terhebat ini kemudian dikukuhkan melalui pengalaman seorang Amerika, Timothy D Walker. Ia mengajar beberapa tahun di Finlandia, negara istrinya. Di sana ia menyibak rahasia mengapa Finlandia bisa menjadi negara hebat dalam pendidikan dan menulisnya dalam buku: Teach Like Finland: 33 Simple Strategies for Joyful Classrooms (2017).

Buku ini baru saya baca tahun 2019, 2 tahun setelah buku ini terbit. (Buku ini setleah baca, saya kirim ke SKO SMARD, dan para guru di Lembata bisa pinjam buku ini atau datang dan baca sendiri di perpustakaan SKO SMARD Lembata). Tetapi buah pemikirannya sudah rasa rangkum dalam buku: CREATIVE TEACHING, Mengajar Mengikuti Kemauan Otak (Gramedia, 2018). Intinya, kalau orang bergerak maka akan terjadi sirkulasi yang baik oksigen di otak. Sirkulasi seperti ini akan sangat mendukung proses absorbsi atau penyerapan pembelajaran.

Inovasi dan Kreativitas

Belajar dari Finlandia dan mencermati kegalauan atau pertanyaan orang tua, maka beberapa hal berikut bisa menjadi acuan dalam penentuan untuk pemilihan sekolah.

Pertama, kecemasan tentang padatnya pembelajaran di sekolah, sudah menjadi keluhan. Terlalu banyak upaya untuk menjejali siswa dengan materi. Nyaris ada ruang untuk ‘bergerak’ (apalagi beristirahat). Di Finlandia, justru pendidikan efektif hanay 3 jam. Waktu yang lainnya untuk istirahat (break) beberapa kali. Juga pagi, siang, dan sore selalu disertai gerakan.

Atas hal ini maka di SKO San Bernardino Lembata yang berdiri pada tahun 2017, hal ini yang pertama kali diterapkan. Sejak pagi siswa bergerak di lapangan. Kegiatan dari pkl 06.00 – 07.30. Setelahnya siswa pulang rumah dan kemudian kembali ke sekolah. Pembelajaran hanya 4 jam (masih lebih banyak dari Finlandia). Ini sebuah terobosan yang sudah dilakuakn sejak awal. Karena itu ketika sekolah-sekolah menolak ‘full day school’, SKO SMARD Lembata justru melakukannya dengan senang hati.

Kedua, dengan kecerdasan yang dimiliki seseorang, maka ia harus bermimpi menjadi yang terbaik. Sejak awal mendirikan sekolah ini, beberapa atlit profesional dilibatkan. Eduardus Nabunome, alm sudah menjadi partner sejak awal. Berbagai diskusi dengan peraih paling fenomenal yang tidak sedikit rekornya belum terkalahkan hingga saat ini, dilakukan.

Dengan Chris John, bahkan kami ajak ke Lembata pada tahun 2016. Bersama Chris John, di atas ring tinju di Lewoleba Lembata pada 22 Desember 2016, Chris John meluncurkan berdirinya SKO San Bernardino. Sebuah inspirasi, terobosan, untuk menyadarkan bahwa mimpi menjadi terbaik itu bukan sesuatu yang tidka mungkin. Ia bisa dijangkau sejauh orang bisa melatih dari awal secara konssiten.

Ketiga, prestasi olahraga (kalau diraih) maka hendaknya menjadi jembatan untuk mengenyam pendidikan. Banyak orang, dengan status sebagai atlit atau juara, memiliki peluang untuk belajar di sekolah favorit dan universitas negeri yang bagus di Indonesia. Itulah yang dilakukan seorang siswa saya di Jakarta. Sang ayah justru menjadikan olahrag (renang) sebagai jembatan mencari pendidikan dan ia peroleh. Anaknya bahkan kini mendapatkan beasiswa di Singapura.

Ini yang ia jelaskan. Banyak orang tidak memanfaatkan itu. Dana yang diperoleh kemudian dihambur-hamburkan. Ia akhirnya jadi miskin pada masa tuanya. Karena itu masa depan tidak bergantung pada pemerintah. Ia harus memanfaatkan ketenarannya untuk belajar atau kuliah.

Keempat, masa depan atlit atau olahragawan ditentukan oleh semangat kewirausahaan yang perlu dibangun dari awal. Saat menginisiasi SKO San Bernardino (SMARD) di Lembata, kami sangat menyadari bahwa wirausaha (enterprenuership) perlu menjadi wadahnya. Karena itu di sekolah ini, kami merumuskan agar kewirausahaan menjadi bagian dan terumuskan dari awal dalam misi: Menjadi lembaga pendidikan yang menghasilkan Alit, Berprestasi, Cerdas, Dijiwai, Enterprenuerhsip (ABCDE).

Banyak usaha dilaksanakan baik siswa maupun guru untuk membangun semangat kewirausahaan. Usaha jualan, melakukan pelatihan ke sekolah-sekolah, gerakan senam bersama, pelatihan Kempo, sekadar menyebut beberapa contoh dilakukan sebagai media wirausaha.

Kalau begitu pertanyaan tentang masa depan melalui olahraga menjadi sesuatu yang sangat mungkin. Disebut demikian karena melalui olahraga orang tidak saja memperoleh kesehatan dan kebugaran tubuh. Hal sepert ini memang yang tampak dan bisa dipantau dari kondisi fisik seesorang.

Yang terpenting, olahraga justru mencerdaskan otak. Gerakan sangat membantu meningkatkan prestasi. Juga melalui olahraga orang bisa membangun kerjasama (team work) dan solidaritas. Orang membina komunikasi dan sportivitas hal mana sangat dibutuhkan di era milenial seperti ini. Orang disebut sukses di abad 21 bila memiliki 4K (Kritis, Kreatif, Komunikatif, dan Kolraboratif). Semua aspek ini dipenuhi secara meyakinkan dalam olahraga dan menjamin sebuah kehidupan yang lebih baik.

========

Robert Bala. Ketua Yayasan Koker Niko Beeker, mewadahi SKO San Bernardino Lembata, NTT. Penulis buku Creative Teaching, Mengajar Mengikuti Kemauan Otak (Gramedia, 2018).

Komentar ANDA?