Seluruh Masyarakat Kabupaten Sikka Terancam Penyakit Kaki Gajah

0
218
Foto: Sejumlah wartawan meminum obat pencegahan penyakit kaki gajah, disaksikan langsung Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka Maria Bernadina Sada Nenu, di ruang kerja kepala dinas, Rabu (1/11)

NTTsatu.com – MAUMERE – Penyakit kaki gajah atau yang disebut filariasis tidak boleh dianggap remeh. Analisa medis menyebutkan seluruh masyarakat Kabupaten Sikka diprediksi terancam penyakit ini. Satu-satunya cara pencegahan yakni dengan meminum obat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka Maria Bernadina Sada Nenu saat advokasi gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) bersama para pekerja media di Kabupaten Sikka, Rabu (1/11), membeberkan analisa medis itu. Menurut dia, satu orang yang terkena filariasis kronis maka bisa menulari 10 orang. Lalu 10 orang yang tertular berpotensi menulari 100 orang.

Hingga kini, lanjutnya, sudah terdata 356 orang di Kabupaten Sikka yang mengalami filariasis kronis. Kondisi ini jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Kabupaten Sikka yang kurang lebih 349.548, maka bisa dipastikan seluruh masyarakat Kabupaten Sikka terancam penyakit ini.

“Kita tidak bisa deteksi seseorang terkena penyakit kaki gajah atau tidak. Untuk deteksi harus menggunakan mikroskop. Satu-satunya pencegahan hanya dengan minum obat. Kami terus sosialisasi agar masyarakat secara sadar mencegah penyakit ini sejak awal,” jelas Maria Bernadina Sada Nenu di ruang kerjanya.

Pada momen advokasi ini, Maria Bernadina Sada Nenu sempat menayangkan gambar 3 orang pasien di Kabupaten Sikka yang mengalami filariasis kronis. Gambar yang ditayangkan menunjukkan membesarnya kantung zakar (skrotum) pasien. Maria Bernadina Sada Nenu sengaja tidak memberitahu identitas pasien untuk menjaga etika kedokteran.

Maria Valentina Tory, Pelaksana Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka menyebutkan dari 356 kasus filariasis, yang paling tinggi adalah dari Puskesmas Watubaing Kecamatan Talibura yakni sebanyak 58 kasus. Menyusul Puskesmas Paga dan Puskesmas Lekebai masing-masing 55 kasus. Setelah itu Puskesmas waigete 46 kasus, Puskesmas Tanarawa 43 kasus, dan Puskesmas Magepanda 36 kasus.

Puskesmas Teluk di Desa Pemana terdata 23 kasus, Puskesmas Wolofeo 17 kasus, Puskesmas Boganatar 8 kasus, Puskesmas Nita 5 kasus, Puskesmas Nanga dan Puskesmas Wolomarang masing-masing 3 kasus, Puskesmas Kopeta 2 kasus, dan Puskesmas Berua dan Puskesmas Waipare masing-masing 1 kasus.

Pencegahan penularan penyakit kaki gajah di Kabupaten Sikka kini sudah memasuki tahun yang ketiga. Organisasi kesehatan dunia yaitu WHO sudah mencanangkan program dunia bebas filariasis pada tahun 2020. Selama tiga tahun ini, ungkap Maria Bernadina Sada Nenu, pihaknya gencar melakukan sosialisasi.

Sosialisasi dilakukan dengan banyak cara terutama bergandengan tangan bersama tokoh-tokoh agama, para camat, dan pihak sekolah. Dalam sosialisasi petugas kesehatan biasanya langsung membagikan obat pencegahan penyakit kaki gajah untuk langsung diminum setelah selesai makan.

Sejumlah wartawan yang mengikuti kegiatan advokasi pun dibagikan obat pencegahan kaki gajah dan langsung meminumnya. Maria Bernadina Sada Ninu berharap aksi massal para wartawan ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat lainnya. (vic)

Komentar ANDA?