Seminar Kerukunan : Misi tanpa Implementasi Itu Halunisasi

0
341

NTTSATU.COM — KUPANG — Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Kota Kupang, RD Maxi Un Bria mengatakan “ Heterogenitas adalah ciri masyarakat post modern yang tidak terbantahkan lagi.” Dalam masyarakat yang majemuk di Kota Kupang, apa yang hendak dilakukan? Umat katolik harus berpartisipasi dan bermisi. Misi tanpa implementasi itu adalah halunisasi, katanya mengutip Thomas Alva Edison.

“Kegiatan seminar sehari dengan tema Merajut Kerukunan Intern Umat Katolik untuk Membangun Iman yang Tangguh dan Moderat demi Kebersamaan Umat baru diselenggarakan hari Sabtu, 24 Juli 2021 setelah panitia mendapat izin dari Satuan Gugus Tugas Covid-19 Kota Kupang melalui surat nomor : Satgas. 2040/VII/2021 tanggal 23 Juli 2021 perihal Pemberian Izin/Rekomendasi,” demikian  Bernardinus Asiena Sepu, S.Sos, Ketua Panitia kegiatan ini.

Bernardinus Asiena Sepu lebih lanjut mengatakan bahwa: tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan peran tokoh agama , pengurus ormas dan tokoh agama  untuk menjadi corong gereja dan pemerintah dalam meningkatkan kerukunan dengan semangat gereja, dan untuk menjadi aktor-aktor  kerukunan beragama yang membimbing, membinakeharmonisan kehidupan keagamaan berlandaskan falsafah Pancasila dan UUD 1945.

Kegiatan yang dilaksanakan di Swiss-Belinn Kristal Hotel, dibuka secara resmi oleh Plt. Kakanwil Hasan Manuk, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, Hasan Manuk mengatakan bahwa,  Pembangunan di bidang agama, pada hakekatnya bertujuan untuk  memajukan kualitas masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa serta mampu menciptakan keselarasan dan keseimbangan  baik manusia sebagai pribadi  maupun dalam hubungan dengan masyarakat dan lingkungannya. Semakin mantap kerukunan dan keserasian intern umat beragama, antarumat beragama dan antara umat bergama dengan pemerintah. Untuk mencapai maksud inilah kegiatan hari ini diadakan.

PLH. Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT dalam kesempatan itu juga menyampaikan lima faktor penyebab terjadinya konflik internal maupun eksternal yakni: moral, sekterian, komunal, terosrisme dan politisasi agama. “Saya mengajak peserta agar dalam diskusi ini hendaknya setiap orang memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mencari kebenaran di dalam diskusi ini, apabila tidak diberikan kesempatan, dapat saja orang itu akan mencari kebenaran dengan jalannya sendiri.

Panitia menghadirkan dua narasumber yang benar-benar berkompeten di bidangnya. RD. Dus Duka, Vikjen Keuskupan Agung Kupang, tampil sebagai narasumber pertama mengambil judul:” Gereja Sebagai Comunio   Umat Allah.

Di depan peserta yang berjumlah 65 orang, yang terdiri dari para pastor paroki se-kota Kupang dan Paroki Simon Petrus Tarus, Ketua-ketua DPP, WKRI, Legio Maria, OMK dan THS-THM yang berasal dari paroki se-kota Kupang, ia mengatakan bahwa  tema ini mau menggambarkan bahwa gereja bukanlah sebuah institusi tetapi sebagai realitas sosial. Sebagai realitas sosial, hendaklah gereja mengusahakan untuk hidup rukun bersaudara baik secara internal maupun secara eksternal.

Dalam semangat kerukunan dan persaudaraan itulah Gereja dituntut untuk menjalankan tugasnya yang terdiri dari liturgia (ibadat) , kerygma (pewartaan), diakonia (pelayanan), koinonia (persekutuan) dan marturia (pengorbanan). Pada kesempatan itu beliau juga menginformasikan bahwa Paus Fransiskus pada bulan Oktober 2021 akan melaksanakan sinode para uskup sedunia. Dalam sinode itu para uskup akan membahas tentang persekutuan, partisipasi dan missi gereja katolik di tengah dunia yang semakin canggih ini.
RD. Maxi Un Bria, Calon Doktor Komunikasi Politik dan Diplomasi pada sebuah universitas ternama di Jakarta tampil sebagai pemateri kedua dengan judul:” Umat Katolik di Tengah Masyarakat yang Heterogen.”
Pada bagian awal beliau menyampaikan data statistik tentang jumlah umat katolik di Provinsi Nusa Tenggara Timur secara lokal di Kesukupan Agung Kupang, sambil membandingkannya dengan agam-agama lainnya.
RD Maxi Un Bria mengungkapkan :” Data statistik menggambarkan bahwa penduduk NTT berjulah 5.636.432 jiwa. Jumlah penduduk itu terdiri dari 52% setara dengan 2.957.981 jiwa orang katolik; 39, 3 %  atau setara dengan 2.199.971 penduduk yang beragama Kristen Protestan, 8 % atau 466.815 jiwa penganut agama Islam dan sisanya 0,20 umat Hindu dan 0,01 pemeluk agama Budha. Sedangkan secara lokal khusus di Kota Kupang data statistik menunjukkan bahwa penduduk Kota Kupang berjumlah 570.106 jiwa yang terdiri dari 75,70% agama Kristen Protestan; 15,55% umat katolik; 7,54% umat Islam dan Hindu 1,16 % serta Budha 0,03%.
Kata Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Kota Kupang itu, “ Heterogenitas adalah ciri masyarakat post modern yang tidak terbantahkan lagi.” Dalam masyarakat yang majemuk di Kota Kupang, apa yang hendak dilakukan? Umat katolik harus berpartisipasi dan bermisi. Misi tanpa implementasi itu adalah halunisasi, katanya mengutip Thomas Alva Edison. Di tengah Masyarakat yang majemuk ini, orang katolik harus tetap bermisi untuk menciptakan kerukunan baik secara internal maupun secara eksternal. Bahwa berdasarkan Dekrit Kerasulan Awam dalam Konsili Vatikan II menghendaki adanya partisipasi alam kegiatan-kegiatan merasul umat Allah itulah yang disebut sebagai implementasi. Dalam implementasi pastoralnya, gereja hendaknya memperjuangkan dan menegakan nilai-nilai universal seperti damai sejahtera, kebaikan, keadilan dan kebenaran.
Seminar Sehari ini ditutup oleh Yohanes Kardi, S.Kom, Plt. Kepala Bidang Urusan Agama Katolik. Dalam sambutannya, menyampaikan tugas pokok yang diemban oleh Bidang Urusan Agama Katolik yakni fungsi Agama dan fungsi Pendidikan.Untuk mendukung fungsi keagamaan, ada enam output yang harus dicapai dalam tahun 2021 ini yakni, Pengelolaan dan Bimbingan Kelompok Katolik, Bantuan Rumah Ibadat, Kerukunan Internal  Umat Katolik, Dukungan Layanan Agama Katolik, Pemberdayaan Umat Katolik dan Penyuluh Agama Katolik Non PNS.
“Hari ini kita telah mencapai salah satu output dari fungsi keagamaan yakni Kerukunan Internal Umat Katolik. Kiranya peserta dapat mengimplementasi kan dengan baik dan benar nilai-nilai universal sebagaimana sudah disampaikan oleh para narasumber,” katanya. (*/gan)

Komentar ANDA?