Sepak Terjang Para Pemburu Sperma, Darah, dan Sidik Jari

0
222
Foto: Tim Divisi Identifikasi Sidik Jari (INAFIS) Polri bekerja keras mengungkap pelaku kejahatan

NTTsatu.com – Telepon berdering. Dari telepon itu selalu datang permintaan rekan penyidik reserse agar Divisi Identifikasi Sidik Jari (INAFIS) membantu mereka di sebuah TKP. Panggilan tugas ini selalu berubah saban hari. Satu waktu pembunuhan sadis, kali lain kebakaran, ada juga mayat yang ditemukan mengambang, sampai pencurian terencana.

Panggilan semacam itu makanan sehari-hari bagi Aipda Wahyudin, anggota divisi INAFIS Polda Metro Jaya. Selama 16 tahun terakhir, dia bertugas mengolah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Lebih khusus lagi Wahyudin adalah spesialis pemburu, tepatnya pemburu sidik jari kasus-kasus pidana.

Metode penyidikan ilmiah, seperti yang ditekuni Wahyudin, adalah cabang ilmu kepolisian paling membutuhkan jam terbang dan juga kemampuan logika mumpuni. Tidak heran, hanya petugas pilihan bisa terlibat di dalam tim tersebut. Ada pemeo bahwa polisi pengolah TKP adalah aparat yang mampu membuat benda mati bicara tentang latar belakang sebuah peristiwa kejahatan.

Ditemui Kamis pekan lalu, Wahyudin menceritakan lengkap metodenya mengolah TKP tindak kejahatan. Jenis kejahatan akan menentukan metode pengolahan TKP sejak awal. Ambil contoh TKP sebuah kasus pembunuhan.

Jika laporan dari rekan polisi di lapangan sudah memastikan ada mayat terbunuh, tim INAFIS sejak dari kantor akan mempersiapkan semua alat untuk mencari sidik jari.

“Alat pengambilan sidik jari atau biasa disebut mandis, lalu plastik untuk di TKP, ada tinta sidik jari, blanko, sendok mayat untuk mengambil sidik jari. Kita harus lengkap semua,” kata pria 39 tahun itu.

Setiba lokasi, tim INAFIS langsung berkoordinasi dengan manajer olah TKP, minimal polisi berpangkat Inspektur Dua. Tim kemudian memeriksa posisi awal mayat. Posisi ini menentukan banyak hal. Polisi selain tim olah TKP bahkan dilarang keras memindah jasad dari posisi semula, apalagi jika diduga korban pembunuhan. Tim mulai memotret semua detail, baik posisi tubuh, kondisi TKP, serta benda-benda di sekitarnya, sekaligus memasang garis polisi agar selain petugas tidak ada yang menerobos TKP.

Walau sejak berangkat dilaporkan terjadi pembunuhan, tim harus memastikan status korban dengan memeriksa denyut nadi. Dalam beberapa kasus, kadang korban masih hidup walau kondisinya mengenaskan.

Pemeriksaan tubuh korban juga membantu polisi menyelidiki penyebab kematian. “Kita lihat ada luka tumpul atau luka tembak. Setelah kita lihat lalu kita ambil sidik jari korban. Sidik jari perlu kalau korban tak ada identitas. Nanti kerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri untuk tahu namanya,” urai Wahyudin.

Setelah memeriksa korban, fokus lain dari tim ketika berurusan dengan kasus pembunuhan adalah barang bukti. Benda sekecil apapun bisa menjadi petunjuk penyidikan. Entah itu sehelai rambut, atau cairan yang bisa jadi adalah sperma.

Kondisi pintu, seandainya TKP berada di sebuah ruangan, menjadi perhatian lain petugas INAFIS. Rusak tidaknya pintu atau kaca akan menentukan motif kejahatan itu. Untuk pembunuhan berencana, biasanya pelaku sudah dikenal korban sehingga tidak perlu ada perusakan jendela atau kunci.

Di lokasi yang diduga terjadi kejahatan pembunuhan, tim Olah TKP biasanya akan langsung mencari lemari. Alasannya banyak kasus pembunuhan di negara ini terjadi karena kepanikan pelaku pencurian melihat aksinya dipergoki. Artinya, pembunuhan yang terjadi tak direncanakan. Barulah, jika tak ada barang berharga hilang, polisi akan mengembangkan temuan-temuan lain untuk menentukan modus.

Penjelasan serupa kami terima dari Komisaris Polisi Suyamta. Pria 52 tahun ini menjabat sebagai Kasie Identifikasi (INAFIS) Polda Metro Jaya.

Selama berkarir, Yamata mengaku rata-rata jejak pelaku kejahatan bisa dia temukan dalam sekali pemeriksaan. “Kita cari menggunakan serbuk magnet untuk menimbulkan sidik jari. Biasanya langsung muncul. Tapi kalau ada yang engga bisa dikembangkan di TKP, kita lakukan di lab menggunakan serbuk magnet dicampur aseton,” ungkapnya.

Semua bukti yang terkumpul itu kemudian dimasukkan kantong serta diberi label tanggal pengumpulannya. Tak lupa satu personel INAFIS bertugas memotret semua proses tersebut dari awal sampai akhir.

Setelah bukti yang dirasa penting terdata, barulah INAFIS dan reserse akan menggali keterangan saksi. Biasanya saksi ini adalah keluarga, warga sekitar, atau pengurus RT setempat. Saksi tersebut juga harus ada saat pengambilan barang bukti.

Saat semuanya selesai dikerjakan, tim INAFIS pulang. Tapi pekerjaan paling berat baru dimulai. Mereka harus memeriksa bank data sidik jari. Belum lagi menguji sampel darah, sperma, rambut, atau semua benda terkait tubuh yang ditemukan.

Setiap temuan biologis yang bukan berasal dari korban biasanya akan langsung dicurigai milik pelaku. Suyamta memastikan sedikit sekali pelaku kejahatan yang sempurna menutupi aksi, serapi apapun rencananya. Sebab tanpa disadari, pelaku selalu meninggalkan sidik jari maupun darah walaupun jumlahnya amat sedikit, bahkan ketika dia memakai sarung tangan saat melakukan kejahatan.

“Terutama ketika hendak kabur melarikan diri,” kata Suyamta.

INAFIS tentu tidak sendirian mengungkap kasus dengan cara mengolah TKP serta memeriksa mayat pembunuhan. Ada tim Disaster Victim Identification (DVI), kemudian ada juga Laboratorium Forensik (Labfor) yang masing-masing memiliki bidang kerja berbeda namun saling terkait.

DVI, contohnya, tidak secara langsung berurusan dengan lokasi kejadian perkara. Namun informasi dari tim ini akan sangat membantu identifikasi terutama untuk jenazah yang kondisinya sulit dikenali.

DVI biasanya terlibat di fase post-mortem di rumah sakit ataupun autopsi, intinya menggali semua keterangan tentang orang yang sudah meninggal. DVI sekaligus bertugas menelaah fase ante-mortem, yakni mengumpulkan data-data dari keluarga korban. DVI biasanya dilibatkan ketika korban tewas lebih dari satu.

“Kami bersinggungan dengan biologis, apakah itu korban atau mayatnya, atau mungkin yang berhubungan apakah ada darah, mungkin bercak-bercak lain yang ada di TKP,” urai Kepala Urusan DVI Polda Metro, Komisaris Polisi Asep Gunardi.

Jangan lupakan juga tim Pusat Laboratorium Forensik. Tim ini tak cuma mengidentifikasi mayat, namun juga mencari penyebab kematiannya. Dari keterangan Dokter Forensik Polda Metro Jaya Kompol Aji Kadarmo, korban kejahatan pasti terdapat tanda-tanda kekerasan di tubuhnya.

Setelah memastikan korban meninggal tak wajar, selanjutnya tim forensik mendalami tanda-tanda kematian, misal lebam, kekakuan mayat, sampai penurunan suhu tubuh jasad. Semua itu berguna untuk memperkirakan waktu kematiannya.

“Jadi kalau misal kita temukan lebam mayat sekian, maka waktu kematian sekian, nah ini informasi ini sangat penting. Setelah itu kita lakukan pencatatan, pembuatan sketsa, kita dokumentasi forensiknya dengan menggunakan foto, kita buat pelaporan, dan itu kita berikan penyidik,” kata Aji.

Bagi Aji, yang merupakan dokter forensik lulusan Universitas Indonesia, untuk menangani kasus kriminal sederhana proses olah TKP aspek mediknya biasanya berkisar 1-2 jam. Namun informasi forensik jadi lebih sulit didapat ketika jenazah atau mayat tak dikenal. Prosesnya bisa seminggu, dua minggu, bahkan bulanan.

Dengan segala kerumitan dan proses olah TKP yang saling terkait antar divisi di polda, Aji mengaku pekerjaan ini memang melelahkan, namun selalu membuatnya puas.

“Kita mengolah TKP, memberikan informasi kepada penyidik dan informasi itu dipakai oleh penyidik. Kepuasan kita adalah saat kasus tersebut terungkap.” (merdeka.com/bp)

Komentar ANDA?