Siapakah yang Akan Memiliki Harta yang Kau Timbun Itu?

0
254

Oleh : Rm Ambros Ladjar, Pr 

Hari Minggu Biasa XVIII*, 31 Juli 2022.
Bacaan. Pkh 1:2, 2: 21-23 dan Kol 3: 1-5, 9-11 dan Injil   Lk 12: 13-21.

Memiliki harta adalah lumrah selama orang masih hidup. Semua itu menjadi sarana bantu aktivitas hidup manusia. Banyak orang yang pintar mengelolahnya dengan baik maka membuat aman tidurnya. Sebaliknya banyak juga yang tak mampu mengelolahnya maka tidurnya pun jadi gelisah.

Menurut Kitab Pengkotbah semuanya itu akan sia-sia dan tak berguna. Karena kombinasi teknis, iman dan ilmu tak sejalan diikut sertakan dalam praktek lahiriah. Itu berarti membutuh tatakelolah atau manajemen yang baik agar setiap usaha berjalan sukses. Jika tak dikelolah dengan baik maka apapun usaha pasti dengan sendirinya akan jatuh ke tangan orang lain.

Memang kenyataan bahwa hidup manusia dewasa ini telah menjadi sirkuit pemenuhan naluri akan harta dan kebendaan. Semangat akan harta dan kebendaan ini ibarat kobaran api dasyat yang menjilat dan membakar harga diri manusia yang begitu cepat. Karena di benak cuma ada keinginan dan naluri untuk menumpuk materi sehingga menutup ekspresi nilai-nilai mendasar. Akhirnya kehidupan manusia dikendalikan oleh mentalitas kebendaan. Mengukur orang dari kepemilikan harta.

Di atas segalanya, narasi injil berbicara bahwa orang kaya materi, ternyata memiliki hati dan pikiran kerdil yang memiskinkan orang. Dalam perumpamaan hari ini, Yesus bicara tentang gagasan orang kaya yang salah karena egois. Dia hanya menjadi Pemburu harta yang konyol. Sibuk kumpul harta tapi tanpa peduli akan orang lain. Pikirnya dengan harta orang dapat memuaskan jiwanya tapi ternyata keadaan seperti itu malah semakin menekan jiwanya sehingga tak ada sukacita hidup.

Yesus bicara kepada kita soal bagaimana membangun mentalitas dan kesadaran hidup sebagai pengikut-Nya. DIA ingin menunjukan kepada kita sikap-sikap yang harus dimiliki dalam hidup berkaitan dengan barang, materi. Yesus sama sekali tak mematikan kreativitas dan keinginan manusia agar melengkapi segala kebutuhan hidupnya dengan harta dunia. Yesus peringatkan kita agar usaha bersifat kebendaan tak boleh melampaui kerinduan manusia kepada Tuhan.

Memiliki harta kekayaan dunia memang tak dilarang. Sebera banyakpun silakan, sebab pada kenyataan semua itu tidak didapatkan dengan cuma-cuma. Orang harus kerja keras membutuh pikiran, tekad yang kuat. Memang banyak kali juga ternyata tidak wajar, karena didorong oleh keserakahan. Orang bisa kolaborasi dalam kejahatan, tipu daya, jual sesama, korupsi dan tindakan tak terpuji lainnya.

Atas dasar itu Rasul Paulus ajak kita agar lebih dahulu mencari perkara yang di atas bukan yang di bumi. Tuhan harus tetap menjadi nomor satu, tak boleh dibalikan. Yesus mengajak kita kembali kepada kesejatian hidup asli. Hidup yang sederhana, bebas tanpa terikat materi, tak egois, melainkan ada cinta yang tulus memungkinkan orang mampu saling berbagi. Dengan ketenangan batin serupa, kita merasa kaya dalam semangat hidup Yesus. Bagaimana sikap kita membebaskan diri dari belenggu harta benda agar memperoleh hidup kekal ?

Salam sehat di Hari Minggu buat semuanya. *Tetap taat menjalankan Prokes. Jika ADA, Bersyukurlah. Jika TAK ADA, BerDOAlah. Jikalau Belum ada, BerUSAHAlah. Jika masih Kurang Ber- SABARlah. Jika Lebih, BerBAGILAH. Jika Cukup, berSUKACITAlah*. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga anda dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita yang melingkupi hidupmu… Amin🙏🙏🙏🌹✝️🌹🎁🛍️🍇🍇🌽🎉🔥🔥🤝🤝🇮🇩🇮🇩

Pastor Paroki Katedral Kupang

Komentar ANDA?