“SiMPle saja” (Narasi tentang Sinun Petrus Manuk / SPM)

0
383

Oleh: Robert Bala 

“Bawa datang dokumen itu, saya langsung ‘wegor’ (tanda tangan)”, demikian kata Sinun Petrus Manuk (SPM) di Rumah Dinas Penjabat Bupati Lembata, Desember 2016. Saat itu ia menjadi Penjabat Bupati Lembata. Saat bersamaan masih menjabat sebagai Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT.

Jawaban seorang ‘SPM’ sepertinya tidak ada beban dan keraguan hal mana menjadi ciri banyak pe(n)jabat sekarang. Ada yang mau ambil keputusan tetapi ragu-ragu. Soalnya banyak pe(n)jabat sudah ‘dibui’ karena salah prosedur. SPM sendiri justru tanpa beban, ia langsung tanda tangan.

Begitu mudahnya menyetujui usulan pendirian SMA Sekolah Keberbakatan Olahraga San Bernardino (SMARD) yang akan menjadi SKO swasta petama di Indonesia itu tentu dilandasi pertimbangan tetapi sekaligus keyakinan pribadi. Ia tentu saja melihat kelengkapan data yang kami serahkan. Tetapi juga ia yakin, bahwa di baliknya terdapat orang yang punya dedikasi yang tinggi yang juga tidak akan mempersulit dirinya kelak.

Itulah pengalaman pertama kontak dengan pria yang pernah melewati hampir 4 tahun di Lerek. Barangkali jiwa petualangannya yang bahkan sudah sejak SD (bak kisah Si Bolang), telah memungkinkan dirinya untuk mandiri lebih awal dan matang lebih cepat

Pengalaman pertama itu kemudian ditambahkan dengan beberapa pengalaman lain. Setahun sebelumnya, di tengah kesibukannya sebagai Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT, ia datang ke Jakarta. Ia punya agenda yang kelihatan sangat banyak sehingga memungkinkan dia untuk mengemukakan alasan untuk tidak bertemu.

Tetapi itu bukan ‘SPM’. Dia lihat ada peluang yaitu saat ia turun dari pesawat. Ia meminta kami menunggu di jalan keluar Bandara Soetta. Kami pun bertemu (dengan hanya berdiri). Bagi kami itu sudah cukup. Ide disampaikan tentang Pesta Emas SMP Lerek dan peresmian gereja St. Paulus Atawolo.

Kisah ketiga sekali lagi menarik malah lebih menarik. Kalau 2 cerita sebelumnya dilakukan saat ia punya ‘kuasa’dan jabatan. Tetapi kali ini justru saat ia sudah pension.

Kisanya begini. Saya melihat di Medsos ada pembagian torrent air di tempat yang membutuhkan. Saya pun kontak tanggal 6 September 2021 karena di SMARD kita sangat butuhkan tandon air 2.500 liter. Keesokan harinya dia WA menginformasikan bahwa tandon air telah dikirim dan akan tiba di Pelabuhan Waijarang 7/9/2021. Jadi seSiMPle itu. Sesederhana itu SPM menyelesaikan masalah.

Berikutnya terjadi di bulan Juli 2022 ini. Saya diinformasikan bahwa ada kesulitan akses dapodik di sekolah. Setelah berpikir beberapa lama, meski merasa tidak enak karena meminta bantuan untuk hal ‘sepeleh’ pada seorang Penjabat bupati dan Kadis propinsi, tetapi saya coba jauhkan urat rasa malu saya. Saya pun minta bantuan.

Lima menit kemudian ia balas dengan nomor WA orang yang tangani. Ia juga kemudian menelepon sendiri pegawai dimaksud. Pada siang hari, masalah itu selesai karena diarahkan langsung oleh pegawai yang dimaksud.

Eksekusi

Saya tidak mau kaitkan semua narasi ini dengan politik. Banyak orang tentu sudah punya pendapat masing-masing dan jago juga. Saya hanya menceritakan hal ini untuk mengungkapkan bahwa apakah menjadi seorang pemimpin harus ‘SiMPle’ seperti itu sebagaimana dihadirkan oleh Sinun Petrus Manuk? Ataun kalau tidak terpilih menjadi seorang pemimpin, apakah pemimpin yang dipercayakan akan melaksanakan model yang ‘SiMPle’ seperti Sinun Petrus Manuk?

Bisa saja kita menemukan banyak contoh yang tentu saja pembaca sudah kenal dan terbuka untuk dikisahkan. Tetapi saya mengungkapkan apa yang saya alami tanpa rekayasa sebagai kesaksian bahwa model seperti itu yang sangat dirindukan. Kerinduan akan model ini tentu saja dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa banyak sekali kepemimpinan eksekutif yang tidak seperti itu. Mereka sangat ragu-ragu dan karena itu memilih untuk ‘bersih’ dan tidak dipersalahkan ketimbang mengambil resiko.

Benar ketika Noam Chomsky, professor linguistic dari Institute Teknologi Massachusetts itu berucap: I am opposed to the accumulation of executive power anywhere (Saya menentang akumulasi kekuasaan eksekutif di mana pun). Dia menentang karena banya eksekutif yang lebih memilih zona nyama ketimbang beresiko. Mereka lebih memilih kegiatan yang ‘membagi-bagi bansos’ karena itu lebih membuatnya dicintai ketimbang melatih masyarakat untuk berpikir mandiri.

Dengan narasi singkat ini tentu pembaca sepakat kalau kita tidak sedang mengultuskan satu pribadi dalam hal ini SPM. Pembaca sendiri bisa juga memberikan komentar dengan menghadirkan pemimpin lain yang memiliki model kepemimpinan yang sama: humanis, gesit, berani mengambil resiko. Kalau ditampilkan di sini maka hal itu karena diketahui dan dialami penulis. Dengan demikian tidak ada upaya mengultuskan pribadi. Ia hanyalah narasi yang bisa dilawan dengan narasi lain. Karena soal narasi, tidak soal benar salahnya tetapi sejauh ia berkesan atau tidak. Dan tentu saja soal kesan itu menyangkut hati yang kadang kontra dengan logika yang ada.

Lalu apa yang membuat seorang pemimpin bisa memiliki kualitas mengagumkan seperti itu? Jaggi Vasudev, yang umum dikenal sebagai Sadhguru punya jawaban yang tepat. Yogi dan mistikus asal India itu mengungkapkan jawabannya: Integrity, insight, and inclusiveness are the three essential qualities of leadership (Integritas, wawasan, dan inklusivitas adalah tiga kualitas penting dari kepemimpinan). Hanya orang yang punya integritas yang akan membuatnya berani berbuat dan memutuskan karena tahu bahwa ia tidak punya beban dan tidak akan dipersalahkan. Kalau pun dipersalahkan, ia yakin bahwa keputusan itu tepat karena ia sudah meneropongnya lebih jauh. Ia punya wawasan luas yang telah jadi bahan pertimbangan.

Pada akhirnya keputusan yang diambil tidak untuk dirinya melainkan secara inklusif terbuka demi kepentingan banyak orang. Hanya hal dasar seperti ini yang membuat seseorang menjadi sederhana (SiMPle’) seperti yang bisa pelajari dari seorang Sinun Petrus Manuk (SPM).

=======

Robert Bala. Penulis buku INSPIRASI HIDUP (Kisah Kecil di Tengah Pandemi), Kanisius, 2021.

Komentar ANDA?