SMAK Frater Ndao Ende Mengedapankan Pendidikan Berkarakter dan Kepedulian Sosial

0
359

NTTSATU.COM — ENDE —  SMA Katolik Frater Ndao Ende mendefinisikan Merdeka Belajar sebagai hasrat untuk menggali sesuatu ilmu dari sebuah pendidikan Berkarakter dengan terikat pada visi misi konggregasi Bunda Hati Kudus (BHK) yaitu menjadi komunitas pendidik bagi generasi muda yang berkepribadian utuh, cerdas, peduli kreatif dan tangguh berdasarkan Spiritualitas Hati, menghayati relasi yang tak terpisahkan antara Hati Kudus Yesus dan Maria sebagai daya gerak, kreatif bagi pengembangan seluruh sumber daya sekolah .

Hal ini disampaikan kepala sekolah SMAK Frater Ndao Ende , Frater Maria Arnold BHK kepada media oneline NTTsatu.com, belum lama ini diruangan kerja.

SMAK Frater Ndao Ende memberikan kebebasan kepada siswanya untuk memilih isu-isu yang ingin dipilih dalam pembelajaran. Saat kelas X, sekolah memberitahu isu-isu apa saja yang bisa diangkat para siswa untuk tugas akhir mereka nantinya.

“Konsep kami belajar itu adalah seluas jagat. Tapi bagaimana kita mensistemasi semua itu dengan kurikulum ini,” ujar Kepala Sekolah SMAK Frater Ndao Ende, Frater Maria Arnold BHK.

SMAK frater Ndao Ende Berbasis keprihatian dan kepedulian, bukan Agama.  Frater Arnold BHK mengatakan Dalam dunia pendidikan dikenal dua sistem pembelajaran yaitu pembelajaran langsung (direct instruction) dan pembelajaran tidak langsung (indirect instruction). Seringkali pembelajaran tidak langsung (indirect instruction) diyakini memberikan efek yang cukup efektif dalam memunculkan pendidikan karakter. Salah satu cara penerapan pembelajaran tidak langsung (indirect instruction) adalah dengan melalui pengalaman.

Melalui pengalaman itulah memunculkan soft skill pada peserta didik. Diyakini bahwa soft skill sangat menentukan kesuksesan seseorang baik itu di bidang pekerjaannya maupun kehidupannya di masyarakat. Maka, sangat penting bagi peserta didik melakukan berbagai aktivitas di sekolah terutama melalui organisasi kesiswaan di sekolah baik itu organisasi intra sekolah seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Kerohanian , Majelis Permusyawaran Kelas (MPK) maupun organisasi ekstra sekolah seperti Palang Merah Remaja (PMR), Paskibraka, Karya Ilmiah Remaja (KIR) dan lainnya.

Melalui kegiatan-kegiatan di organisasi itulah peserta didik dapat mengalami pengalaman-pengalaman sebagai pembelajaran menumbuh kembangkan nilai-nilai karakter
mengasah kepedulian, latihan bekerjasama, dan menyelesaikan masalah akan didapat dari kegiatan tersebut.

Banyak hal yang bisa dilakukan peserta didik sebagai latihan menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Kegiatan tersebut merupakan program kerja OSIS yang telah disusun sebelumnya. Di lain waktu, para peserta didik melakukan bakti sosial dengan membagikan beberapa paket sembako kepada warga sekitar sekolah.

Pada lain kesempatan, para peserta didik menggalang dana membantu teman sekolahnya yang saat itu mengalami kecelakaan. Kepedulian seperti itu semoga dijaga dan dilestarikan.

Menurut Frater Maria Arnold BHK semakin tinggi pengetahuan seseorang, seharusnya membuatnya semakin peduli. Kepedulian menjadi nilai sikap yang tercantum pada penilaian sikap pada kurikulum Merdeka. Mari ajak peserta didik kita untuk menerapkan ilmu padi. Semakin berisi semakin menunduk. Semakin pintar, kita harus semakin merendah. Juga peduli kepada masyarakat dan lingkungan. Sebab negeri kita bukanlah kekurangan orang pintar namun kekurangan orang yang peduli dengan berbagai masalah yang melanda, kemudian mau menjadi bagian dari solusi.

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali,”  ujarnya.  (ino)

Komentar ANDA?