Stanis Deri Burin: Penggubah Lagu Inkulturasi Yang Tidak Lekang Dimakan Waktu

0
492
Foto: Bapak Stanis Deri Burin (foto: Paul Burin)

EMPAT TAHUN  lalu ketika bersama keluarga mengikuti misa kudus Malam Paskah di gereja Paroki Lambunga, Kecamatan Klubagolit, Adonara, Flores Timur, koor dengan suara merdu menyanyikan lagu “Tite Persaja” saat Credo (Aku Percaya), saya kaget. Istri saya yang berada di samping keheranan karena melihat kekagetan saya itu.

“Pa, kenapa kaget begitu?, Saya spontan menjawab lagu itu karya Bapa Stanis Deri Burin ayahnya ade Paul Burin. Iya benar, saya juga tahu kalau lagu itu diciptakan bapak Stanis dan saya juga sudah dengar lagu ini berulang kali saat ikut misa baik di Adonara maupun di Lembata,” kata istri saya yang terus bernyanyi bersama koor hingga lagu itu selesai.

Saya kemudian mengingat kembali kisa-kisah masa kecil dulu di kampung, Di Paroki St. Yoseph Boto, Lembata, saat Pekan Suci selalu dirayakan bersama  umat paroki yang berkumpul di Boto sebagai pusat Parokinya. Tanggungan bergilir mulai hari Kamis Putih hingga Minggu Paskah.

Semua stasi berdatangan dan diinapkan di rumah-rumah umat di pusat paroki. Mulai dari stasi Belang, Bata, Lamalewar, Atawuwur, Puor, Imulolong dan Posiwatu. Ada juga pertandingan-pertandingan bola kaki dan voli yang menyemarakan Pekan Suci ini.

Menariknya pada malam Paskah setiap stasi menanggung beberapa lagu pada Perayaan malam Paskah itu. Biasanya stasi Puor yang selalu dipercayakan membawakan lagu Credo. Saat itulah, lagu Tite Persaja dinyanyikan diiringi. Lagu dalam bahasa Lamaholot ini memang sangat menggugah nurani umat.

Koor dari stasi Puor selalu menyanyikan lagu-lagu karya Bapak Stanis, apalagi kalau beliau yang langsung menjadi dirijennya. Semua mata akan tertuju pada koor stasi Puor yang selalu menyanyi dengan begitu merdu dan indah mengikuti gerak tangan dan seluruh badan sang dirijen Stanis Deri Burin.

Beberapa hari lalu Paul Burin, putra Bapak Stanis dalam akun facebook-nya mengungkit kembali memori terhadap sosok Bapa Stanis yang kini berusia 92 tahun dan tinggal di Puor kamping halamannya.

Paul menulis, tiga hari di kampung menemani Bapa Stanis. Meski sedang sakit,  banyak cerita ia sampaikan. Cerita tentang masa mudanya. Tentang bermain bola, menjadi guru mulai dari Tobiwutung, Ile Ape sampai ke Puor. Menjadi pelatih bolakaki klub  Spirit, klub bola yang cukup disegani kala merumput pada masanya hingga menciptakan lagu-lagu gerejani.

Memorinya masih cukup bagus di usia ke-92  tahun ini.  Saya menanyakan banyak hal tentang proses kreatif mencipta lagu. Apakah dari puluhan lagu inkulturatif itu ada yang punya nilai lebih. Ia menjawab semua lagu itu ia senang karena terlahir dari sebuah proses pergumulan.

Bapa Stanis juga bercerita bahwa  diksi atau pilihan kata  selalu ia konsultasikan dengan  beberapa tokoh adat di kampung, antara lain almarhum Bapa Markus Kale Wadan dan Nene Lodofikus Kalang. Ia menyebut Bapa Markus dan Nene Lodofikus  itu inspirator dalam mencipta lagu.

Bapa Stanis juga bercerita,  suatu saat ketika karyanya dicatut pihak lain, Bapa Bonsu Hendrik Pito Burin, ayah Vian Burin  memrotesnya langsung. Bapa Hendrik mengatakan dengan tegas bahwa lagu itu karya Bapa Stanis.

Ada sebuah lagu judulnya, Tobi Nora Bao (pohon asam dan pohon beringin). Lagu ini biasa dinyanyikan pada sesi  antarbacaan saat misa  Kisahnya bahwa dua pohon ini seakan berlomba untuk tumbuh sepanjang musim. Saripatinya bahwa tanaman saja tumbuh menjulang untuk menemui sang pencipta. Sesungguhnya iman kita pun terus  tumbuh menemui Dia di atas sana. 

Bapa Stanis bercerita, inspirasi itu muncul ketika pulang dari Lamalera menemui Pastor Paroki Lamalera, Pater Arnoldus Dupont,  SVD, mendiskusikan bantuan semen untuk Desa Puor. Waktu itu, bapa Stanis  sebagai Ketua Lembaga Sosial Desa (LSD). Dua Pohon itu tumbuh  di Kali Petupuk,  dekat Desa Posiwatu. Dan dari Kali Ptupuk itulah lahirlah lagu berjudul Tobi Nora Bao.

Masih banyak kisah yang ia sampaikan. Saya hanya ingin mengajak bicara berlama2 agar memorinya rileks. Ternyata,  saya mendapatkan banyak hal dan petuah darinya.

Apa yang disampaikan Paul Burin itu memang benar. Puluhan lagu gerejani karya Bapak Stanis Deri Burin kini sudah dinyanyikan hampir di semua gereja di Keuskupan Larantuka. Lagu-lagu itu memang sangat mendalam maknanya dan selalu menjadi bahan refleksi untuk sebuah kehidupan yang mesti dijalani bersama sebagai umat Tuhan. (bonne pukan)

Komentar ANDA?