STAR Gelar Diskusi Potensi Wisata Manggarai

0
270

RUTENG. NTTsatu.com – Solidaritas Wartawan Manggarai (STAR) menggelar diskusi   Potensi Wisata Manggarai bertajuk “Curhat Potensi Wisata Manggarai”. Diskusi ini digelar sebelum melakukan Tour Jurnalis obyek wisata Kabupaten Manggarai di pantai Utara pada 13 – 15 Febuari.

juga

Diskusi pada Kamis, 12 Pebrruari 2016 di di Dapur D- Martha Kelurahan Lawir-Kota Ruteng ibu kota Kabupten Manggarai ini menghadirkan narasumber Wakil DPRD Manggarai Paul Peos, pelaku wisata Leo Nyoman dan Yuvens Janggat, Pihak Dinas Pariwisata dan Budaya, Bernadus Nasur Ketua Forum Tata Kelola Pariwisata (FTKP) Manggarai ,dan Tokoh masyarakat .

Leo Nyoman Ketua PT Flores Eksotik Tourist  yang sudah puluhan tahun berlanglang buana di dunia Pariwisata menjelaskan, sampai  dengan tahun 2016  hanya dua obyek pariwisata di Manggarai yang tenar di mata wisatawan yaitu  Lingko Cara dan Rumah adat di kampung Wae Rebo.

“Wae Rebo dan Lingko Cara persawahan laba-laba dikenal oleh wisatawan manca Negara dan domestik, sementara obyek lainya dikunjungi oleh beberapa turis asing saja,” kata Leo.

Dikatakanya ketika dia berdiskusi dengan dengan beberapa wisman , saat  mereka berwisata ke  Flores adalah  sampah di obyek wisata dan kota yang perlu di perhatikan untuk membangun potensi wisata.

“Sampah juga menjadi masalah utama dalam pembangunan wisata di Manggarai,” katanya.

Yuvens Janggat pelaku wisata dan kuliner Manggarai menyampaikan isi curhatanya kepada awak media  dalam diskusi tersebut dengan membandingkan 52 komunitas biarawan/biarawati di kota Ruteng dari berbagai negara di penjuru dunia.

Yuvens  melihat kehadiran komunitas gereja   sebagai  potensi wisata yang dapat digunakan untuk meningkatakan ekonomi masyrakat.

“Coba  dipikirkan kalau belanja, lauk dan sayur rata-rata per biara Rp 5 juta sudah pasti peredaran uang sudah berkisar ratusan juta per bulan. Namun hal ini tidak ditangkap oleh masyarakat Manggarai sebagai sebuah peluang usaha. Slama ini, pasokan sayur dan lauk masih dari Bima-NTB dan Ngada,’’ katanya.

Selain itu, pengembangan wisata religius semestinya dibangun dari sekarang dengan mengadakan ritus religius  rutinitas  bisa mendatangkan wisaman untuk berziarah di Manggarai.

Paul Peos Wakil Ketua DPRD Manggarai dari PDI Perjuangan selaku pelaku kebijakan anggaran pada saat diskusi meminta kepada pihak instansi terkait pembangunan pariwisata harus memberikan argumen yang jelas dan kuat agar dana bisa dianggarkan untuk pembangunan wisata di Manggarai.

Dia juga meminta anggaran promosi wisata Manggarai mestinya juga diplotkan untuk promosi pariwisata dengan melibatkan seluruh insan pers.

“Kerja sama  dengan insan pers tentunya akan lebih berpengaruh pada promosi wisata di Manggarai sehingga diknela dunia,” katanya.

Sementara  Bernadus Nasur Ketua FTKP sekaligus anggota DPRD Manggarai dari Partai Hanura memaparkan sejarah berdirinya FTKP, Visi-misi dan program-programnya terkait pengelolaan wisata di Manggarai.

“Kita ingin Pendapatan Asli Daerah (PAD) Manggarai meningkat dari pariwisata tidak kalah dengan kabupaten Manggarai Barat,” tegasnya.

Selaku ketua FTKP, selama ini dia selalu menggandeng pihak pers manggarai sebagagai ujung depan dalam mempromosikan pariwisata di Manggarai.

Diskusi tersebut menghasilkan beberapa rencana aksi yang akan dilakukan baik itu awak media, pelaku pariwisata, FTKP, tokoh masyarakat dan Pihak Dinas Pariwisata dan Budaya yaitu  soal kebersihan obyek wisata dan kota, pemberdayaaan masyarakat lokal sekitar obyek wisata, promosi wisata lewat media dan rencana aksi lain terkait pengembangan obyek wisata di Manggarai . (Hironimus Dale)

======

Keterangan Foto: Suasana diskusi bersama awak Media di Rumah Makan Dapur D-Marta

 

Komentar ANDA?