Status Waspada Ile Lewotolok, Aktivas Warga Tidak Terganggu

0
319
Foto: Gunung Ile Lewotolok yang ditetapkan oleh BMKG dengan status waspada. (ist)

NTTsatu.com – LEWOLEBA – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan peningkatan status waspada atas aktivitas Gunung Ile Lewotolok atau Ile Ape di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) namun, aktivitas warga sama sekali tidak terganggu dengan status waspada tersebut.

Sejauh ini status waspada itu belum mempengaruhi aktivitas masyarakat yang tinggal di lereng dan kaki gunung tersebut. Bahkan, warga yang saat ini sedang menggelar pesta kacang pun tetap menjalankan aktivitas seperti biasa tanpa khawatir sedikitpun.

Sekretaris Desa Todanara Kecamatan Ile Ape Timur Hermanus Tobi Matarau Minggu (8/10) mengatakan, semalam saat mengetahui adanya pengumuman resmi dari BMKG terkait peningkatan status waspada Ike Lewotolok, ia dan sejumlah warga sedang berada di lereng gunung itu. Paginya ia bersama sejumlah pemuda Todanara sempat melakukan pendakian hingga ke puncak gunung di Lewohala.

“Kondisi tidak terlalu mengkhawatirkan. Masyarakat sudah terbiasa dengan perubahan yang terjadi. Aktivitas gunung masih seperti sebelumnya. Kalau malam kita lihat pijar api lahar panas. Tidak ada perubahan yang luar biasa,” kata Matarau.

Masyarakat, lanjutnya, masih beraktivitas seperti biasa dan tak ada kekhawatiran sama sekali. Upacara makan kacang yang sedang dilaksanakan masyarakat pun masih berjalan seperti biasa dan puncak peningkatan jumlah warga mulai hari ini.

Meski demikian, peringatan BMKG harus tetap diwaspadai. “Memang masih seperti kemarin-kemarin, tetapi peringatan itu juga harus kami waspadai,” katanya.

Dijelaskannya, dalam tradisi masyarakat, jika muncul pijaran larva jelang musim tanam maka masyarakat yakin panen akan berhasil apalagi jika didukung hujan yang cukup.

Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday yang dihubungi menjekaskan, dengan adanya pengumuman peningkatan status waspada oleh BMKG, Pemkab Lembata telah berkoordinasi dengan semua komponen masyarakat sipil dan NGO seperti Plan Internasional yang sebelumnya telah mendampingi masyarakat dalam mendukung kewaspadaan dini menghadapi bencana.

“Kita juga sudah berkoordinasi dengan masyarakat yang mendiami lereng gunung Ile Lewotolok yang saat ini swdang menggelar pesta kacang yang sudah memasuki puncak prosesi di Lewohala agar selalu waspada,” katanya.

Gunung Ile Lewotolok atau Ile Ape memiliki ketinggian 1.450 meter di atas permukaan laut. Menurut catatan, gunung ini sudah meletus sebanyak delapan kali sejak tahun 1660. Lalu meletus lagi tahun 1819, dua tahun kemudian yakni 1821 kembali meletus. Kemudian pada tahun 1864, 1889 dan terakhir pada tahun 1920.

Tercatat sebanyak 18 desa yang terletak di kaki Ile Lewotolok, Delama belas desa itu masing-masing desa Muruona, Laranwutun, Kolontobo, Petuntawa, Dulitukan, Tanjung Bahagia, Waowala, Amakaka, Bungamuda, Atawatung, Ebak, Mawa, Bao Laliduli, Lamatokan, Jontona, Todanara, dan Watodiri.

Komentar ANDA?