Sudah 1.233 Pengungsi Ile Ape Pulang Kampung

0
209
Foto: Anggota DPRD Lembata, Petrus Bala Wukan ketika menyerahkan “bekal” bagi para pengungsi Ile Lewotolok yang akan kembali ke kampung halamannya masing-masing

NTTsatu.com – KUPANG – Jumlah pengungsi dari dua kecamatan di Ile Ape, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berada di Lewoleba sebanyak 2,107 orang, hingga hari  Sabtu, 21 Oktober 2017 yang sudah pulang sebanyak 1.233 orang sedangkan sisanya sebanyak 874 orang masih berada di Lewoleba ibu kota Kabupaten Lembata.

“Teman-teman wartawan, selamat malam, ijin melaporkan data pengungsi per 21 Oktober 2017: mungkin berguna.  Jumlah awalnya sebanyak 2.107 orang, yang sudah kembali ke rumah/desa : 1.233 orang sehingga yang masih tersisa sebanyak 874 orang,” tulis wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday melalui pesan whatsApp yang diterima redaksi NTTsatu.com, Sabtu, 21 Oktober 2017 malam.

Wabup Thomas Ola Langoday kemudian merincikan, jumlah pengungsi tersebut berasal dari Desa lamagute  sebanyak 351 orang. Sebanyak   338 orang mengungsi ke Lewoleba sedangkan 13 orang lainnya mengungsi ke desa tetangga.

Dari desa  waimatan  sebanyak 439 orang:  184 di rumah jabatan bupati, 92 di rumah keluarga dan sisanya sebanyak  163 di desa tetangga.

Kemudian Dusun 1 desa lamawara sebanyak 84 orang mereka mengungsi di  waipukang sekitar kantor camat Ile Ape.

 

Pelajar Ikut KBM di Lewoleba

Sebanyak 30 anak pengungsi dari Desa Waimatan, Lembata, NTT yang hingga kini masih bertahan di kamp pengungsian mulai kemarin Jumat, 20 Oktober 2017 sudah kembali masuk sekolah. Mereka dititipkan sementara di SMP Don Bosco Lewoleba.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Don Bosco Fabianus Ala mengatakan, sebanyak 30 siswa pengungsi korban gempa dan ancaman erupsi Gunung Api Ike Lewotolok sudah mulai masuk sekolah.

Semula, pihak sekolah menginginkan agar para siswa kelas VII, VIII, dan IX tersebut berbaur dengan para siswa SMP Don Bosco. Namun, para guru dari SMPN Satap Hamahena Waimatan meminta agar mereka ditempatkan pada kelas tersendiri.

“Pertimbangannya karena ada bahan yang berbeda yang harus diberikan apalagi sudah terlambat selama satu minggu. Jadi guru-guru Satap Hamahena minta mereka kelas sendiri,” kata Fabianus.

Sehingga, para siswa yang sudah masuk sejak pagi dipulangkan terlebih dahulu ke penampungan pengungsi. Setelah para siswa SMP Don Bosco pulang barulah mereka masuk untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. (*bp)

Komentar ANDA?