Sudah Empat Bulan,  Hasil Audit Proyek Awololong Belum Diserahkan ke POLDA NTT

0
364

NTTsatu.com — KUPANG —  Hasil audit BPKP NTT terkait kasus proyek wisata Awololong, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur sudah 4 (empat) bulan belum diserahkan ke penyidik Polda NTT.

Hal itu memunculkan pertanyaan sejumlah pihak, termasuk masyarakat dan para aktivis pengawal kasus proyek Awololong Lembata. Dan hal ini menghambat jalannya proses penetapan para tersangka.

Hari ini Rabu 18 November 2020, salah satu staf BPKP NTT yang juga Tim Auditor, Sugeng yang ditemui,  enggan memberikan keterangan terkait perkembangan hasil audit BPKP yang sudah 4 (empat) bulan mengendap di BPKP NTT.

“Saya tidak ada hak berikan komentar hasil audit BPKP. Semua satu pintu di Pak Kepala,” kata Sugeng.

Bahkan Sugeng dengan sinis mengatakan awak media “pintar” ketika ditanyakan soal perkembangan audit kasus Awololong.

“Pintar ya?” Kata Sugeng sambil tertawa sinis.

Ketika awak media menanyakan soal keberadaan Kepala BPKP NTT, Iwan Prasetyo Adi untuk dimintai keterangan, Sugeng memberi keterangan berbeda.

Katanya, Kepala BPKP NTT Iwan Prasetyo Adi tidak berada di tempat tetapi sedang mengikuti Rakor di Jakarta.

“Pak kepala tidak ada. Dia ada Rakor di Jakarta,” kata Sugeng.

Sugeng pun tidak mengetahui kapan kembalinya Kepala BPKP NTT, Iwan Prasetyo Adi.

Namun, ternyata keterangan Sugeng berbeda dengan Security Kantor BPKP dan Sopir pribadi Kepala BPKP NTT yang justru mengatakan Kepala BPKP ada di Kupang dan sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat) di Sotis Hotel Kupang.

“Pak kepala ada di sini. Lagi ikut Diklat di Hotel Sotis,” kata Sopir dan Security Kantor BPKP NTT.

Terkait situasi tersebut, Kordinator Ampera Kupang, Emanuel Boli Labaona yang dimintai tanggapan mengatakan, Tim Auditor BPKP harus serius dalam kasus ini dan jangan main-main atau menganggap remeh. Pasalnya, sudah 4 (empat) bulan, publik menanti kejelasan dan konsistensi BPKP NTT terhadap perkembangan kasus Awololong.

“BPKP jangan main-main. Ini sudah empat bulan kita tunggu hasil audit. Kita mau tahu kejelasan hasilnya. Jika tidak kita akan turunkan masa duduki Kantor BPKP NTT. Kami tetap kawal kasus ini. Silakan anda mau berbohong tetapi kami butuh kepastian hasil audit,” pungkas Labaona.  (*/gan)

Komentar ANDA?