Sudah Sembilan Kali Gempa, Warga di Lereng Ile Lewotolok Tetap Pesta Kacang

0
220
Foto: Ile Lewotolok yang terus mengeluarkan asap (foto: Endang Unarajan Making)

NTTsatu.com – LEWOLEBA – Meski sudah sembilan kali terjadinya gempa di Lembata dan naiknya status aktivitas gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi status waspada, warga di sekitar lereng gunung tetap menggelar pesta kacang yang saat ini berpuncak di Lewohala, Kecamatan Ile Ape.

“Memang kami tahu ada gempa dan peringatan dari BMKG tentang status waspada untuk gunung Ile Lewotolok, tetapi kami tetap melaksanakan pesta kacang yang merupakan pesta ada di kamping kami,” kata Endang Unarajan Making yang dihubungi sedang berada di Lewohala, Senin, 09 Oktober 2017.

Dia mengatakan, warga di kampung ini dan kampung  lainnya memang tahu peringatan dari BMKG itu serta merasakan adanya gempa bumi yang sudah terjadi sebanyak sembilan kali sejak kemarin, tapi pesta ada ”Makan Kacang” tetap dilaksanakan dan akan berpuncak pada lusa, Rabu, 11 Oktober 2017.

Sementara warga Ile Ape lainnya, Sandro Balawangak yang dihubungi terpisah mengaku, saat ini warga sedang bergembiraria dengan pesta adat makan kacang ini. Terkesan mereka tidak perduli apa yang akan terjadi.

“Masyarakat sibuk dengan pesta kacang. Mereka terus melakukan ritual adal ini mulai hari ini dan akan berpuncak pada hari Rabu lusa,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, BMKG sudah  mengumumkan peningkatan status waspada atas aktivitas Gunung Ile Lewotolok atau Ile Ape di Kabupaten Lembata, namun, aktivitas warga sama sekali tidak terganggu dengan status waspada tersebut.

Sejauh ini status waspada itu belum mempengaruhi aktivitas masyarakat yang tinggal di lereng dan kaki gunung tersebut. Bahkan, warga yang saat ini sedang menggelar pesta kacang pun tetap menjalankan aktivitas seperti biasa tanpa khawatir sedikitpun.

Gunung Ile Lewotolok atau Ile Ape memiliki ketinggian 1.450 meter di atas permukaan laut. Menurut catatan, gunung ini sudah meletus sebanyak delapan kali sejak tahun 1660. Lalu meletus lagi tahun 1819, dua tahun kemudian yakni 1821 kembali meletus. Kemudian pada tahun 1864, 1889 dan terakhir pada tahun 1920.

Tercatat sebanyak 18 desa yang terletak di kaki Ile Lewotolok, Delama belas desa itu masing-masing desa Muruona, Laranwutun, Kolontobo, Petuntawa, Dulitukan, Tanjung Bahagia, Waowala, Amakaka, Bungamuda, Atawatung, Ebak, Mawa, Bao Laliduli, Lamatokan, Jontona, Todanara, dan Watodiri. (rin/bp)

Komentar ANDA?