Surat Terbuka Untuk Yang Terkasih MUI: Saya Mencintai Agama Islam, Mohon Tertibkan Mualaf Yang Suka Bohong!

0
20020

PERTAMA-TAMA jika surat saya ini “salah” alamat saya dengan segala kerendahan hati memohon maaf sebesar-besarnya, tetapi karena menurut pemahaman saya sebagai seorang Katolik (Pastor), saya memahami bahwa Majelis Ulama Indonesia yang didalamnya adalah para Ulama yang saleh dan memiliki pengetahuan agama Islam yang tidak bisa diragukan lagi maka saya menuliskan surat ini.

Alasan saya menuliskan surat ini adalah:

1. Sebagai umat Katolik dan seorang pastor, dengan segala kebebasan dan kehendak baik serta itikad baik, saya mencintai agama Islam sebagai salah satu agama besar di Indonesia yang mengajarkan kebaikan dan kebenaran untuk kebaikan bersama.

2.Agama Islam adalah agama yang Rahmatan Lil’Alamin yang membimbing setiap umatnya untuk mengikuti jalan kebaikan dan ajaran-ajaran suci dari Nabi Muhammad.

3.Sebagai umat Katolik dan seorang pastor, saya sangat menghargai dan mencintai para kyai yang selalu mengajarkan kebaikan dan kebenaran dan sangat menghormati ajaran-ajaran mereka yang membawa kedamaian dan kesejukan.

4.Sebagai umat Katolik dan seorang pastor saya menyadari bahwa tugas MUI adalah memberikan penilaian moral terhadap tutur kata, sikap dan tindak tanduk umat Islam berdasarkan ajaran suci Al-Quran.

Berpijak pada beberapa alasan di atas maka saya meminta MUI untuk menertibkan mereka-mereka yang mualaf untuk menghayati dan menghidupi iman serta ajaran agama Islam secara benar untuk kebaikan dan kedamaian bersama.

Saya tidak membenci mereka yang mualaf. Saya juga tidak melarang mereka untuk mualaf. Menjadi penganut agama apapun itu adalah hak asasi. Saya sendiripun memahami dan setuju bahwa seseorang yang berpindah ke agama yang baru itu adalah panggilan Allah sendiri dan merupakan jawaban pribadi yang didasari pada kehendak dan kebebasan pribadi. Tentunya ada pengalaman imanen dan transenden yang dialami dan bukan karena paksaan atau materi.

Saya menuliskan surat ini karena sekali lagi saya mencintai agama Islam. Maka sayapun menjadi sedih, kasihan dan tidak menerima begitu saja ketika agama Islam dinodai dan dinista oleh kebohongan para mualaf yang mengaku mantan pastor dan lulusan terbaik universitas Vatikan, mantan pastor yang mengurus administrasi di KWI, mantan misionaris lulusan sekolah injil di Vatikan yang bapaknya seorang kardinal, mantan biarawati, mantan misionaris (perempuan) yang mengaku sekolah di seminari.

Semua yang mengaku mantan dan sekarang mualaf ketika ditelusuri dan dicheck kebenarannya di dalam dokumen Gereja Indonesia ataupun schematismus kongregasi maupun keuskupan ternyata TIDAK ADA DAN TIDAK PERNAH DITAHBISKAN MENJADI IMAM ATAU PASTOR SERTA TIDAK PERNAH MENJADI SUSTER DAN MISIONARIS. Bahkan di Vatikan sendiri tidak ada universitas maupun sekolah injil.

Yang mengaku mantan pastor dan lulusan terbaik universitas Vatikan ternyata TIDAK MENYELESAIKAN pendidikannya di seminari. Yang mengaku mantan pastor Jesuit (SJ) juga tidak terdaftar dalam dokumen para imam Jesuit bahkan tidak dikenal.

Yang mengaku mantan biarawati atau suster juga tidak pernah menjadi anggota kongregasi yang disebutkan tetapi hanya pada masa persiapan yaitu aspiran di mana masih CALON dalam tahap pembinaan. Yang mengaku sekolah di seminari juga menggelikan karena seminari dalam Gereja Katolik tidak pernah menerima kaum perempuan. Yang diterima adalah laki-laki normal dan belum pernah menikah.

Artinya yang mengaku-ngaku mantan pastor, biarawati, misionaris, bapaknya kardinal dan perempuan yang pernah sekolah di seminari adalah KEBOHONGAN yang dipertontonkan yang dengan jelas menodai ajaran suci agama Islam.

Oleh karena kebohongan-kebohongan yang terus dipertontonkan oleh oknum mualaf yang mengaku mantan pastor, misionaris, biarawati, bapaknya kardinal, sekolah di seminari mendorong saya untuk menuliskan surat kepada MUI, meneritbkan mereka semata-mata untuk menjadi nilai-nilai luhur dari ajaran agama Islam.

Mereka menjadi mualaf adalah hak dan kebebasan mereka. Namun kemudian alasan mualaf selalu disertai dengan kata mantan ini dan itu, sebenarnya UNTUK APA dan demi TUJUAN APA? Hanya MUI yang terhormat yang bisa bertanya kepada mereka dan mampu menilainya.

Salam damai dari Manila
01-September 2020
Pater Tuan Kopong MSF

Komentar ANDA?