Tagu Dedo : HIPMI Harus Mendorong Generasi Muda Berwirausaha.

0
135
Foto: Dirut PT Bank NTT, Daniel Tagu Dedo (ist)

KUPANG. NTTsatu.com – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) harus memberikan pemahaman dan bisa mengubah pola pikir orang muda agar lebih mencoba berwirausaha dari pada harus menjadi TKI.

Hal ini diungkapkan Direktur Utama (Dirut) PT Bank NTT, Daniel Tagu Dedo menanggapi kegiatan Rapay Kerja Daerah (Rakerda) HIPMI NTT di Hotel Aston, kemarin.

Dia mengatakan, potensi NTT di bidang pariwisata sangat banyak, menpesona dan unik, tetapi tidak ada yang mengurus dan tidak dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga menyebabkan penduduk lokal atau masyarakat NTT memiliki perekonomian yang rendah dan tidak terkelola dengan baik.

“Geberasi muda merupakan salah satu potensi terbesar selain sumber daya alam di daerah NTT. Dengan adanya potensi alam yg melimpah seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik. Oleh karena itu hadirnya HIPMI ini diharapkan dapat mengatasi hal tersebut,” harapnya.

Tagu Dedo lebih lanjut mengatakan, banyak generasi muda yang menjadi TKI, khususnya asal NTT. Hal tersebut disebabkan tidak adanya pekerjaan yang menjamin dan bisa membantu mendukung perekonomian keluarga sehingga harus mengambil langkah untuk bekerja di luar negeri.

Kondisi seperti ini kata Tagu Dedo, sangat diharapakan  agar HIPMI dapat membantu serta mendorong membangun Infrastruktur di bidang ekonomi berbasis klaster. Contohnya budi daya rumput laut.

“NTT memiliki hasil produksi sebanyak 4 juta ton rumput laut per tahun. Setiap hektar hanya dibiayai Rp 2 jutah saja, Sayangnya, hasil panen rumput laut petani dibeli oleh orang asing. Seharusnya pengusaha yang membeli hasil panen dari petani-petani NTT, namun Pengusaha lebih milih untuk membangun jalan dan gedung,”  tegasnya.

Dilihat dari penghasilan, rumput laut memiliki potensi untuk industri, karena rumput laut memiliki 72 produk turunan, untuk kosmetik, obat-obatan dan makanan,  Namun dari hasil tersebut lebih di ekspor mentah dari pada produknya, padahal pengusaha lokal dapat memanfaatkan hal tersebut untuk menunjang perekominan. (Ambu/bp)

Komentar ANDA?