Tahun ini, Sudah 37 TKI asal NTT Meninggal di Luar Negeri

0
243
Foto: Doa bersama yang digelar di depan Rujab Gubernur NTT, Minggu, 23 Oktober 2016 malam

KUPANG, NTTsatu.com – Sejak Januari hingga Oktober 2016 ini, sudah sebanyak 37 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal dan dipulangkan ke kampung halamannya. Terakhir dua jenasah TKI yang meninggal di Hongkong dan Malaysia dan dikirim kembali melalui Kupang.

“Total sudah 37 TKI/TKW yang meninggal di luar negeri,” kata Kepala Seksi Penyiapan dan Penempatan TKI BNP3TKI NTT, John Salukh, Senin, 24 Oktober 2016.

Dari 37 TKI yang meninggal itu, menurut dia, 36 diantaranya adalah TKI yang bekerja di Malaysia, hanya satu TKI yang meninggal di Hongkong. TKI yang meninggal tersebut rata- rata adalah TKI ilegal yang diberangkatkan dari NTT.

“Hanya empat TKI yang legal. Sebenarnya semua legal, namun dokumen mereka palsu, sehingga dianggap ilegal,” katanya.

Jumlah ini, lanjut dia, merupakan TKI yang berhasil dipulangkan ke kampung halamannya, sedangkan masih banyak korban yang tidak bisa dipulangkan, dan harus dimakamkan di Malaysia. “Ada beberapa TKI yang terpaksa dimakamkan di Malaysia, karena alamat di NTT tidak jelas,” ujarnya.

Dua TKI terakhir yang meninggal dan dipulangkan ke Kupang yakni Aprianty Radja Haba (Hongkong) dan Lukas Keju Malana (Malana). Aprianty diketahui meninggal di Hongkong, karena menderita sakit asma, sedangkan Lukas tak diketahui penyebab kematiannya.

Kedua jenasah TKI tersebut telah dipulangkan ke Kupang, dan tiba di Bandara El Tari Kupang pada Minggu, 23 Oktober 2016 siang. Kini jenasah Aprianty telah diambil keluarga, sedangkan Lukas masih disemayamkan di RSUD Johanis Kupang untuk selanjutnya akan dikirim ke Sumba Barat, besok, Selasa, 25 Oktober 2016.

Gelar doa Bersama

Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama denominasi lintas agama menggelar ibadah di depan rumah jabatan Gubernur NTT, Minggu, 23 Oktober 2016 sebagai bentuk keprihatinan masalah tenaga kerja Indonesia (TKI) asal NTT yang dinilai kurang mendapat perhatian dari Pemerintah setempat.

Sebelum menggelar ibadah puluhan umat dan jemaat ini melakukan long march dari Depan Kantor Kejaksa Tinggi (Kejati) NTT dengan membawa sebuah peti mati yang bertuliskan nama beberapa TKI yang telah meninggal di luar negeri.

“Hari ini kami terima lagi dua TKI yang meninggal di Malaysia dan Hongkong. Kami prihatin, karena banyak TKI yang meninggal di luar negeri,” kata Pendeta Emi Sagertian, komisi advokasi hukum dan perdamaian Sinode GMIT.

Dia mengatakan, NTT sudah darurat traffiking, sehingga butuh penanganan serius dari pemerintah. Karena GMIT tetap akan terus melakukan gerakan advokasi terkait masalah traffiking. “Kami minta kesediaan pemerintah untuk tanggulangi masalah TPPO,” ujarnya.

Dua TKI yang meninggal di Hongkong dan Malaysia yakni Aprianty Radja Haba, dan Lukas Leju Malana, Minggu, 23 Oktober 2016 sekitar pukul 13.00 Wita tiba di Bandara El Tari Kupang. Jenasah Aprianty telah diambil dan disemayamkan di rumah keluarganya, sedangkan jenasah Lukas Leju Malana disemayamkan di RSUD Johanis Kupang, dan akan dipulangkan ke kampung halamannya di Sumba Barat pada Selasa, 25 Oktober 2016. (*/bp)

Komentar ANDA?