Tangani Kekerasan Perempuan dan Anak Harus Selaras Budaya

0
143
Foto: Gubernur Frans Lebu Raya sedang memperhatikan mobil bantuan untuk Dinas Pemberdayaa Peremuan yang dilengkapi aneka fasilitas. (Foto: Humas Setda NTT)

KUPANG. NTTsatu.com – Gubernur NTT, Frans Lebu Raya menegaskan, segala upaya yang dilakukan nuntuk menurunkan dan menghilangkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak harus sejalan dengan kultur atau budaya masyarakat setempat.

Hal itu dikemukakan oleh Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya pada acara Penyerahan Mobil Perlindungan Perempuan dan Anak di Ruang Rapat Gubernur, Kamis, 26 Januari 2017.

Gubernur NTT menegaskan bahwa tindak kekerasan harus dipandang dari berbagai aspek, baik itu aspek ekonomi, sosial dan budaya.

‘’Kekerasan bukan hanya persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) tetapi juga harus ditilik dari aspek budaya. Misalnya budaya belis yang banyak dipelintir sebagai upaya jual beli perempuan. Pandangan itu, tidak serta merta dijawab dengan menghilangkan budaya belis dalam masyarakat. Karena, sejatinya belis berkaitan dengan harga diri dan pemakluman  terhadap orang lain, bahwa wanita tersebut telah dipersunting. Sikap dan pandangan terhadap perempuan harus menjadi pemahaman bersama sehingga tercipta rasa saling menghargai,” kata Gubernur Lebu Raya.

Lebih lanjut Gubernur menghimbau jajaran Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  agar melibatkan berbagai komponen masyarakat  dalam upaya meminimalisir kekerasan terhadap perempuan dan anak.

”Ajaklah tokoh-tokoh agama dan masyarakat  untuk mendiskusikan masalah perempuan dan anak. Rangkullah kalangan media massa, agar mewartakan hal-hal positif terkait persoalan ini. Sosialisasi harus dimulai dari keluarga karena keluarga adalah fondasi dasar pendidikan,” harapnya.

Terkait dengan bantuan mobil perlindungan perempuan dan anak sejumlah delapan unit itu, Gubernur menyatakan beberapa kriteria Kabupaten/Kota penerima bantuan. Salah-satu kriterianya didasarkan pada kinerja dan prestasi, dalam memfasilitasi upaya penurunan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Penilaian  ini dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berdasarkan hasil kajian tim dari Universitas Nusa Cendana, Kupang.

Diharapkan bantuan ini menjadi pemicu bagi daerah lainnya, untuk semakin gencar menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Gunakanlah fasilitas mobil ini dengan baik,  demi memperluas jangkauan pelayanan dan sosialisasi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak,“   kata Gubbernur.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT, Maria Bernadeth Usboko menyatakan, pemberian mobil tersebut bertujuan untuk mengurangi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

”NTT patut berbangga karena mendapatkan bantuan lebih banyak dibandingkan dengan provinsi lainnya. Selain bantuan delapan mobil, ada juga bantuan operasional berupa dua unit motor yang sementara dalam perjalanan. Mobil-mobil ini dilengkapi dengan fasilitas kesehatan standar, genset dan alat-alat sosialisasi seperti layar dan LCD. Ada opetrator khusus yang telah dilatih oleh kementerian untuk mengoperasikan mobil ini,” jelas Erni Usboko.

Dia meyakini bahwa seluruh kabupaten di NTT nantinya akan mendapat bantuan serupa. Adapun kedelapan mobil tersebut diberikan kepada Pemerintah Provinsi NTT, Kota Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Rote Ndao, Sumba Timur dan Manggarai. (humas setda ntt/bp)

Komentar ANDA?