Tentu Kamu Akan Mengatakan Pepatah ini Kepada-KU. Hai Tabib, Sembuhkanlah Dirimu Sendiri

0
445

Oleh: Rm. Ambros Ladjar, Pr

Minggu Biasa IV, 30 Januari 2022.
Bacaan: Yeremia 1: 4-5, 17 – 19 dan 1Kor 13: 4 – 13 dan injil Lk 4: 21 – 30.

Melihat dan menilai kehidupan orang lain tentu tak hanya secara lahiriah saja. Hati yang baik belum tentu ada di dalam diri orang yang tampang elok dan cantik. Bisa saja dalam diri orang yang tampang kulit luarnya jelek dan tak menarik di pandang mata, atau juga sebaliknya. Semuanya tergantung persepsi orang.

Tuhan melihat Yeremia sejak masih dalam kandungan ibunya. Di kemudian hari ia ditetapkan Tuhan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Ia harus selamatkan Israel bangsa pilihan Allah. Yesus juga pilihan Allah sebagai Mesias. DIA sudah populer di kalangan orang Nazaret. Sebab sudah banyak mujizat yang IA kerjakan di Kapernaum. Mereka juga sangat berharap agar Yesus juga buat di Nazaret tempat asal-Nya, tapi Yesus tak mau pamer diri. Rujukan sikap-Nya jelas dalam injil. Dulu karya hebat nabi Elia dan Elisa tak terjadi di Israel. Hanya untuk orang diluar Israel. Saat kelaparan, Elia menolong seorang janda di Sarfat di tanah Sidon. Pada masa Elisa banyak orang kusta tapi justru yang disembuhkan hanya Naaman orang dari Siria itu.

Karena Yesus tak mau buat mujizat maka orang menolak DIA. Mereka bangun lalu menghalau Yesus kluar. Mereka bawa DIA ke tebing gunung dekat kota dan hendak melemparkan DIA dari tebing. Pikiran mereka seperti sudah dirasuki iblis dalam bagian awal injil Lk 4: 1-13. Sebetulnya mereka mau paksa Yesus agar bisa salto ketika dilemparkan dari atas tebing. Sesungguhnya mereka sudah lupa bahwa yang hadir di tengah mereka adalah Mesias. Mereka tolak kehadiran Yang Ilahi cuma karena ingin lihat sesuatu yang lebih spektakuler. Yesus akhirnya lolos dari tengah mereka tanpa ada yang mengganggu DIA.

Dari kisah ini, Yesus ajak kita agar selalu waspada. Banyak orang katolik yang rasa diri beriman dan beragama. Rajin dan tekun hadiri semua ritual keagamaan tetapi kadang tak sampai berakar dalam perbuatan. Perilaku mereka sangat bertolak belakang. Orang jadi fanatik dan intoleran serta tak mau kompromi dengan orang lain. Mereka diajarkan mengimani Tuhan Yang Ilahi tapi sikap yang ambigu seringkali mengiring mereka kepada kepentingan dunia. Banyak persaingan tak sehat gara-gara pangkat dan jabatan yang hingga orang lain jadi tumbal. Keinginan Yesus buat mujizat akhirnya hilang karena IA tak mau bilamana orang lihat dulu tanda heran baru percaya.

Harapan yang sama dari rasul Paulus. Kita perlu memiliki integritas hidup iman. Sebab jika ada suasana kasih maka akan muncul penghayatan iman dalam sikap yang benar. Ada sikap sabar, baik hati, tak cemburu akan kehebatan orang. Hidup sukses tapi tak sombong dan besar kepala. Mereka mampu menjauhi diri dari sikap yang tak sopan dan egois. Bukan pemarah atau pendendam, tapi memihak kebenaran dan menjauhi ketidakadilan. Tahan uji dan dapat dipercayai, bukan pribadi yang goyah dan putar balik sesama. Mungkinkah seorang pelayan akan berpaling dan menyesal jika ditolak karena gagal tunjukan kuasanya serupa Yesus?.

Salam sehat di Hari Minggu buat semuanya. *Tetap taat menjalankan Prokes*. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga kita masing-masing dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita hidup. Amin 🙏🙏🙏🌹✝️🌹🎁🛍️🍇🌽🔥🤝🤝🇮🇩🇮🇩

Pastor Paroki Katedral Kupang

Komentar ANDA?