Terpidana Mati Katolik Sudah Terima Minyak Suci

0
239

NTTsatu.com – Lima dari sembilan terpidana mati kasus narkoba yang sudah menjalani eksekusi di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, ternyata sudah menerima “ritus terakhir” atau sakramen Minyak Suci layaknya umat Katolik.

Mereka adalah Rodrigo Gularte (Brazil), Sylvester Obiekwe Nwolise (Nigeria), Mary Jane Veloso (Filipina), Okwudili Oyatanze (Nigeria) dan Raheem Agbaje Salami (Nigeria).

“Pemberian Sakramen Minyak Suci, Pertobatan and Viaticum diberikan dua hari lalu,” kata Pastor Nikolaus Ola Paukuma, OMI dari Paroki St. Stephanus di Cilacap seperti cilansir ucanews.com, Selasa (28/4).

Namun salah satu terpidana mati – Okwudili – menolak menerima Sakramen Minyak Suci. “Kata dia itu hanya untuk orang mati. Kami tidak bisa memaksakan apa pun,” lanjutnya.

Selain memberikan “ritus terakhir,” Pastor Nikolaus dan lima imam lainnya secara bergantian memberikan pendampingan spiritual kepada kelima terpidana mati itu.

“Sejak Hari Jumat sudah mulai pendampingan karena sudah ada informasi. (Kami) masuk (ke lapas) untuk mengadakan Misa dalam Bahasa Inggris dan memberikan pendampingan lain,” kata imam itu.

Ia juga menceritakan bahwa Misa Kudus juga diadakan di gereja paroki pada Senin (27/4) sore. Selain sejumlah keluarga dari terpidana mati, umat Katolik setempat turut hadir. “Kemarin itu bentuk dukungan bersama umat,” lanjutnya.

Bentuk pendampingan lain yang diberikan oleh Gereja Katolik adalah membuat para terpidana mati merasa nyaman saat bercengkerama dengan keluarga mereka. “Betul-betul kami tidak terlalu memberi harapan yang berlebihan. Kita mau membuat mereka lebih enjoy,” katanya.

Pastor Nikolaus juga menceritakan bahwa sebagian terpidana mati sudah siap menjalani eksekusi, namun sebagian belum siap.

“Kalau Mary Jane, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia selalu bilang, misalnya kepada kedua anaknya, jangan berpikir ibu mati karena melakukan sesuatu yang salah, tapi berbahagialah kepada ibu karena ibu mati menanggung dosa orang lain,” kenangnya.

Lain halnya dengan Raheem. Ia mengaku sebagai orang kecil yang suaranya tidak terdengar. “Dia punya nama baptis Stefanus. Dia berpesan agar dimakamkan di Madiun, hanya salibnya jangan ditulis Raheem tapi Stefanus,” kata Pastor Nikolaus. (ucanews.com)

Komentar ANDA?