TITE HENA Jabodetabek Tumbuh Dengan Visi “Herun Dike, Haban Sar’en”

0
223
Foto: Halal Bihalal dan Pelantikan Pengurus Paguyuban Tite Hena Jabodetabek diisi dengan acara-acara hiburan

JAKARTA. NTTsatu.com – Paguyuban TITE HENA Jakarata yang sudah berhasil menghimpun anggotanya sekitar 5000 orang sejak kurang lebih 30 tahun ini terus mengusung visi menjadikan TITE HENA sebagai paguyuban masyarakat Flores Timur Diaspora yang Maju, Dekat, Akrab & Bersaudara (Herun Dike, Haban Sar’en).

Ketua Paguyuban TITE HENA yang baru, Simon Lamakadu menegaskan bahwa wadah ini adalah pemersatu dimana ada kegembiraan, ada harapan, ada solidaritas saling tolong menolong, tengo lia badan di tanah orang.

“Kalau kita kompak, apapun bisa kita lakukan.  Kalau sudah sukses, bantulah saudara-saudaramu yang mungkin belum beruntung. Setelah sukses di rantau jangan lupa tengoklah lewotana kita,” katanya.

Dengan kepengurusan baru yang telah dibentuk dan dilantik pada acara ini,  Simon menegaskan kembali tekadnya bersama jajaran pengurus untuk mengerjakan banyak hal dalam 3 tahun ke depan. Ia juga mengingatkan seluruh warga Flores Timur di Jabodetabek untuk tidak tinggal diam, namun sebaliknya diharapkan untuk dapat membantu dan mendukung pengurus.

“Kepengurusan mayoritas diisi oleh anak muda, dibawah arahan para senior dan dan nasehat para sesepuh.  Sejujurnya ada kegelisahan di hati kecil saya. Bisakah anak muda ini diterima? Tapi para sesepuh menguatkan hati saya, teman-teman senior meyakinkan saya dan teman-teman muda menyatakan dukungannya. Ini adalah kekuatan buat saya 3 tahun kedepan. Maka saya yakin bersama kita bisa,” tegasnya lagi.

Usai melantik pengurus baru, Simon pun secara resmi meluncurkan Gerakan 2RT yakni gerakan pengumpulan dana Rp 2.000 per bulan per orang untuk TITE HENA. Menurut dia, jika seorang saja menyisihkan uang sejumlah itu setiap bulannya, maka dari 5.000 orang warga TITE HENA dalam setahun sanggup mengumpulkan Rp120 juta untuk membiayai kegiatan paguyuban ini. “Kita mulai dari uang kecil saja,” tegasnya.

Sebagai pengejawantahan dari semboyan Herun Dike Haban Sar’en, maka acara malam itu ditutup dengan pesta rakyat di pelataran Anjungan NTT, TMII dimana ratusan orang tumpah ruah dalam keakraban tanpa dibatasi oleh perbedaan apapun. Ibu-ibu berjilbab dan kaum pria yang berpeci, membaur bersama sesama saudara Lamaholot yang beragama Katolik, dengan penuh sukacita membawakan tarian masal Dolo, Sole Oha dan Lili.

Ketua Panitia acara ini, Ahmad Riantoby mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu terselenggaranya acara ini. Dengan persiapan yang relatif singkat, hanya dua bulan, acara ini sanggup mendatangkan lebih dari 500 orang yang bertahan hingga ditutup pada pukul 02 dini hari.

“Tidak ada yang sempurna, namun sebagai sebuah langkah awal, kita sudah memulainya dengan baik. Dan itu berkat dukungan semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu,” (tim media tite hena Jakarta/bp)

Komentar ANDA?