Ujaran dan Implikasinya

0
145

Oleh: Hanna Suteja, S.Pd., M.Hum

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ujaran didefinisikan sebagai “kalimat atau bagian kalimat yang dilisankan”; ujaran juga sering disinonimkan dengan ucapan, perkataan.
Akhir-akhir ini cukup banyak kasus tentang ujaran yang menjadi viral di media sosial maupun di media massa. Hal ini terjadi karena adanya kebebasan berbicara bagi semua orang yang dijamin oleh undang-undang. Dengan perkembangan teknologi digital dan bertumbuhnya berbagai platform media massa dan media sosial orang dimungkinkan untuk mengekspresikan pikirannya secara terbuka kepada publik dalam waktu yang singkat. Demikian juga publik dengan mudah mengaksesnya secara real time sehingga mereka pun dapat merespon dengan cepat dan menjadikannya viral.

Ujaran kebencian juga semakin sering terjadi bukan hanya dalam kehidupan nyata, tetapi juga di ruang virtual lewat gawai dalam genggaman kita. Tindakan perundungan dalam bentuk ujaran kebencian begitu mudah dilakukan oleh siapa saja tanpa batas waktu dan tempat. Para korban memang tidak dirundung secara fisik, namun itu tidak berarti dampaknya tidak serius. Akhir-akhir ini tidak jarang media massa memberitakan korban kasus perundungan siber yang bunuh diri karena sudah tidak sanggup menerima ujaran-ujaran yang mempermalukan, melecehkan, dan mungkin juga mengancam mereka. Korban mengalami trauma, dan bahkan ada yang menjadi putus asa sehingga memutuskan mengakhiri hidupnya.

Ujaran yang berisi kebohongan dan provokasi juga semakin marak saat ini. Joseph Goebbels, menteri propaganda Hitler, menggunakan teknik propaganda yang brilian. Goebbels berpendapat dengan terus menerus menyebarkan kebohongan di media massa, orang (secara tidak sadar) akan menerimanya sebagai kebenaran. Sejarah mencatat strategi ini terbukti menjadi alat propaganda Nazi yang efektif. Dampak menerima kebohongan sebagai kebenaran haruslah diwaspadai.

Menjelang pemilu yang akan digelar pada 2024, meskipun masih cukup lama, banyak politisi maupun buzzer mulai menebar hoaks tentang pihak yang berseberangan atau menanamkan konsep tertentu yang tidak menyesatkan demi mencapai tujuan politik mereka. Hasil pemilu 2024 akan sangat menentukan nasib bangsa Indonesia dalam lima tahun ke depan. Jika tidak bersikap kritis terhadap ujaran-ujaran yang tidak bertanggung jawab di media massa dan media sosial, publik akan mudah dibodohi dan menerima itu sebagai kebenaran. Ini tentu akan menjadi bencana bagi bangsa kita jika kita tidak kritis memilah mana ujaran yang berisi kebenaran dan mana kebohongan.

Ujaran bukan hanya suatu perkataan yang abstrak; manisfestasi ujaran sangat mungkin menjadi sebuah tindakan nyata. Ini yang disebutkan oleh Austin sebagai speech act. Sebuah ujaran dalam konteksnya dapat berarti seseorang sedang melakukan tindakan seperti berjanji, memerintah, memohon, mengeluh, mengundang, dan sebagainya.

Sebagai contoh ketika Jokowi mengatakan “Jalan tol Trans Papua resmi dibuka”, implikasi ucapan tersebut adalah sejak saat itu publik dapat mengakses jalan tol tersebut. Jika penulis yang bukan siapa-siapa mengucapkan ujaran tersebut tentu tidak akan berdampak apa pun. Ucapan seorang hakim ketika menyampaikan putusan hukuman kepada terdakwa dalam persidangan tentu bukan hal yang main-main. Perkataan hakim tersebut mengikat dan sah secara hukum sehingga terdakwa harus menjalani hukuman yang ditetapkan. Namun demikian, jika ucapan hakim tersebut tidak dilakukan di pengadilan dan tidak dalam kapasitasnya sebagai hakim sebuah perkara, perkataan tersebut tidak akan berkekuatan hukum. Jadi, konteks, dalam hal ini pelaku, peristiwa, dan tempat sangat mempengaruhi implikasi ketika suatu ujaran diucapkan.

Bagaimana dampak ujaran dalam keseharian masyarakat kita? Pada bulan Januari 2022 ada kejadian tragis di Jakarta yang diakibatkan oleh satu ujaran. Kejadian tragis ini menimpa seorang lansia yang diteriaki maling sesudah mobilnya dianggap menyerempet motor dan kemudian dikejar oleh pemotornya. Laki-laki berusia 89 tahun tersebut dipukuli massa dan akhirnya meninggal dunia.

Kata maling dalam konteks ini bukan sekedar suatu ujaran tanpa makna. Hal seperti ini sudah menjadi fenomena umum di kalangan masyarakat kita; jika ada orang berteriak maling, itu dapat dianggap sebagai suatu ajakan kepada massa yang kebetulan berada di sekitar lokasi untuk bertindak seperti mengejar, menangkap, memukuli si terduga maling. Teriakan maling secara psikologis memicu histeria massa dan menjadi ajakan untuk bertindak menghakimi maling tersebut walaupun belum terbukti kebenarannya. Kasus tewasnya lansia tersebut adalah contoh nyata implikasi suatu ujaran yang menjadi sebuah tindakan.

Sebulan kemudian kasus lain yang juga viral adalah ketika Edy Mulyadi mengkritik Pemerintah perihal Penajam Paser di Kalimantan timur yang dijadikan sebagai ibukota negara baru menggantikan Jakarta. Eddy Mulyadi berujar Kalimantan sebagai tempat jin buang anak, dan tempat tinggal gendruwo dan monyet. Ujaran ini ditanggapi oleh warga Kalimantan bukan hanya sebagai pernyataan yang bersifat informatif; ujaran tersebut mereka artikan sebagai sebuah tindakan penghinaan terhadap orang yang tinggal di Kalimantan. Meskipun Edy Mulyadi berkilah bahwa perkataan tempat jin buang anak merupakan hal yang biasa untuk merujuk tempat terpencil, dan meminta maaf atas ucapannya, warga Kalimantan tetap merasa terhina dan tidak dapat menerimanya begitu saja.

Mereka membawa kasus ini ke ranah hukum, bahkan ada yang mengancam akan membunuh Edy Mulyadi. Jadi implikasi ucapan seseorang tidaklah begitu saja mudah dilupakan dan dihapuskan dengan permintaan maaf saja.

Mulutmu adalah harimaumu adalah ungkapan yang tidak asing bagi kita. Perkataan seseorang yang tidak dipikirkan dengan hati-hati dapat menjadi bumerang yang dapat berbalik mencelakakan orang yang mengucapkannya. Dari ungkapan ini tersirat apa yang dikatakan seseorang dapat berdampak negatif terhadap diri sendiri dengan dampak yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dampak ujaran yang tidak bijaksana dapat menjadi bola liar yang dapat dipersoalkan secara hukum atau memberikan dampak psikologis yang serius karena adanya tekanan publik, ancaman, rasa tidak aman dan stress. Ujaran bukan sekedar ucapan kosong tanpa makna, dan implikasi. Ujaran yang kemudian terealisasi dalam tindakan dapat berdampak positif ataupun negatif bagi diri sendiri atau orang lain. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dengan ucapan kita, dan tetap kritis terhadap ucapan orang lain agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan dampak yang tidak diinginkan.

========

Penulis adalah Dosen bahasa Inggris, Universitas Pelita Harapan, Jakarta.

Komentar ANDA?