Untuk Menjadi “Besar” Harus Merantau

0
462
Foto: Muhammad Masykur, Nahkoda Kapal pelayaran PT.MANDIRI LINE, Jakarta

NTTsatu.com – Banyak orang memandang rendah status perantau, karena lebih dikaitkan dengan menjadi pekerja kasar, keras dan “berhamba” pada yang kaya. Tapi bagi lelaki kelahiran Lamakera, pulau Solor, Flores Timur, 17 juli 1977 merantau dengan tujuan mengubah hidup harus muncul dari sebuah tekad didukung dengan perjuangan keras.

Ini ditunjukkan oleh Muhammad Masykur yang tidak pernah bermimpi menjadi Nahkoda kapal. Putra dari pasangan ayah H.Masykur.G.Songge dan Ibu Siti Saleha ini. Berangkat dari Lamakera menuju Kupang dan selanjutnya ke Jakarta dan meraih sukses di ibu kota negara ini.

“untuk menggapai sukses di tanah rantau memang bukan perkara mudah. Tapi kita harus tetap berani
dan bisa mengukur seberapa besar potensi yang kita miliki agar dapat memenangkan suatu persaingan,” katanya melalui jarigan telepon seluler beberapa waktu lalu.

Kisah dimulainya dari masuk dan tampat di Sekolah Dasar (SD) Inpres Lamakera, Solor, Flores Timur. Dari Lamakera,  Masykur  menuju Kupang dan melanjutkan sekolah tingkat pertama di MTs Negeri Kupang.

Lulus MTs tahun 1993, Masykur mengikuti tes masuk di STM Negeri Kupang namun dia gagal dalam seleksi masuk, karena itu dia memutuskan untuk tetap membantu paman berjualan di Kampung Solor.

“Tidak serta merta saya menikmati pekerjaan tersebut karena Ibunda selalu menasihati bahkan membujuk saya untuk melanjutkan Sekolah dan saya sangat luluh dengan ketulusan seorang ibu sehingga tahun 1994 saya memutuskan untuk memgikuti tes masuk di STM Negeri Kupang dengan jurusan Teknik pengerjaan Logam (TPL),” kenangnya.

Masykur menguraikan, dengan doa tertulus seorang ibu dia setelah tamat STMN Kupang, dia mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Ternyaya dia lulus seleksi masuk dan mendapatkan rekomondasi khusus dari sekolah untuk melanjutkan kuliah di UGM Yogyakarta.

“Namun apa daya, saya harus memikirkan kedua orang tua saya yang ekonominya sangat minim walaupun Ayah saya seorang guru Agama namun penghasilannya tidak akan mencukupi biaya SKS saya di UGM terkemuka di Jogjakarta itu,” katanya.

Masykur akhirnya memutuskan untuk meninggakan Kupang dan merantau ke Ibu Kota Jakarta. Disana  dia bertemu dengan Mohammad Jafar  Kansong  Songge yang merupakan kapten kapal dan memintanya untuk bekerja di kapal dengan mengurus  buku  pelaut  dan  surat  keterampilan  pelaut ( SKP ) serta paspor, awal  bekerja di kappal  asistug/kapal  tunda yang bernama  TB.PERKASA 07 milikPT.Titian  Samudera Shipping  dengan  jabatan Jurumudi.

“Tahun 2002 saya  mengikuti  Diklat  perwira  ANT.V Antares  Semarang dan pada bulan agustus mendapat ijasah pelaut. Setelah itu mendapat tawaran menjadi  mualim 1 di kapal  KM.Kurnia Jaya abadi ll di perusahaan  pelayaran Pontianak. Setahun kemudian saya pindah ke perusahaan Pelayaran PT.Victoria  Internusa Perkasa  (VIP) menjadi  mualim 1 di TB.Fajar Jaya dengan route Jakarta To Irian  membawa  material  untuk  pembangunan Gas terbesar di asia ( LNG Tangguh ). Selang beberapa bulan Owner PT.VIP  Mutasikan  kan  saya  ke kapal  LCT. Maju   jaya  menjadi  Mualim 1  selama  1.8 tahun  saya  belajar   manajement  hingga  olah gerak  sandarkan  kapal, setelah sudah  bisa sandarkan kapal  besar  saya memutuskan  berhenti  bekerja  karena  saya  mau  melanjutkan sekolah untuk meningkatkan ijazah  saya agar bisa  memenuhi  persyaratan  menjadi  seorang captain/Nakhoda di kapal,” tuturnya.

Pada  Agustus  tahun 2009 dia melanjutkan  sekolah  pelayaran  untuk  meningkatkan  ijazah ANT.IV di  BP3IP (Balai Besar Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan ILmu Pelayaran ) di Jakarta,  Dalam waktu 1 tahun dia mendapatkan ijasah sebagai Nahkoda Kapal.

“Dan saat ini saya bekerja sebagai Nahkoda pelayaran PT.MANDIRI LINE, Jakarta yang melayani proyek pembangunan gas LNG Tangguh  terbesar di Asia yang terletak di teluk Bintuni Irian, dan pembangunan  proyek  jalan tol Jakarta,” akunya.

Dengan keuletannya hingga berhasil ini, Masykur sangat berharap agar anak-anak NTT tidak boleh ragu  untuk merantau di tanah orang  karena  semua  itu  akan  membuat  lebih  bijak dalam  berpikir.

“Jika kita tidak keluar  merantau. potensi  atau  skill  yang ada pada kita tidak bisa kita eksplorasikan dengan baik. Tidak ada perusahan atau industri besar di NTT yang bisa kita harapkan, karena itu kita perlu berpiir besar,” katanya.(Ambu)

Komentar ANDA?