Wanita Lusiduawutun Lembata Lebih Suka Menenun

0
939
Foto: Mama Fransiska Lelo Bakon sedang menenun

Desa Lusiduawutung Kecamatan Nagawutung cukup terkenal dengan tenun ikatnya. Tenun ikat telah menjadi profesi baru bagi ibu- ibu di desa ini. Ibu- ibu ini seyogyanya mereka adalah petani tulen yang kesehariannya di ladang membantu suami. Namun seiring perjalanan waktu kaum ibu dan wanita secara umum mulai menekuni kerajinan ini. Mereka menjadi jarang  di kebun dan mulai menggeluti profesi ini.

Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan mama Fransiska Lelo Bakon, Ibu rumah tangga yang mengaku lebih senang menenun ini menuturkan bahwa profesi baru sebagai seorang penenun ikat ternyata lebih bernilai ekonomis dibandingkan sebagai petani.

Dari sisi pendapatan sebagai pengrajin kain sarung dia bisa memperoleh pendapatan yang lumayan.

“Lebih baik saya di rumah tenun sarung jual dari pada ke kebun dan berjemur panas sepanjang hari  karena belum tentu bisa mendatangkan penghasilan seperti  saya menenun sarung,” kata Lelo Bakon.

Menurut mama Fransiska Lelo, dalam sebulan dia bisa menghasilkan 3 kain sarung dengan harga per sarung Rp. 400.000. Dalam waktu sebulan dia bisa mendapatkan pemasukan sebesar Rp 1.200.000.

Oleh karena kualitas dan model sarung Lewopenutung-Lusiduawutun sudah cukup terkenal di pasaran maka dalam sebulan selalu saja ada pembeli dan itu cukup untuk kebutuhan sebulan.

Belum lagi sarung juga menjadi kebutuhan adat di desa Lusiduawutun dan desa- desa sekitranya. Peluang ini cukup memberi jaminan kepada para pegiat tenun ikat di kampung ini.

Frasiska Lelo Bakon mengharapkan agar pemerintah terutama Dinas terkait lebih serius memperhatikan kerajinan tenun ikat di Desa Lusiduawutun dengan mengembangkan peluang pasar. “Ibu-ibu disini akan semakin rajin menenun kalau pasarannya pasti. Kami semua senang sekali menenun asalkan ada yang membeli. Selama ini kami tidak punya strategi khusus untuk pemasaran sehingga kami minta dibantu untuk pasarannya” kata Fransiska.

Saat ini terdapat tiga kelompok ibu- ibu pengrajin tenun ikat. Kelompok ini mendapat suport dana senilai  Rp. 7,5 juta per kelompok dari SPP (Simpan Pinjam Perempuan) untuk mengembangkan usaha tenun ikat. Mereka juga mendapatkan bantuan berupa sebuah bangunan rumah tenun.

Motif khas tenunan Lusiduawutun dinamakan motif Bfajak dan Kera Blepit. Bahan baku pembuatan sarung rata-rata menggunakan bahan yang dibeli dari toko mengingat pembuatan dengan bahan lokal memakan waktu yang cukup panjang sekitar dua bulan baru bisa menghasilkan satu buah sarung.

Untuk memenuhi permintaan konsumen, ibu- ibu desa Lusiduawutun lebih memilih untuk menggunakan bahan baku dari toko namun untuk kebutuhan adat mereka juga membuat sarung adat dari bahan lokal. (Humas TI Setda Lembata)

Komentar ANDA?