Wanita-Wanita Perkasa itu Namanya Pneta Alap 

0
461

NTTsatu.com –LEMBATA -‘ Sejak kecil kami sudah kenal yang namanya Pneta Alep. Kami di Painara atau Labala Gunung menyebut mereka “belabaja”.
Wanita-wanita perkasa itu tiba di Waiwejak kampung saya, Atawolo, Watuwawer, Lerek, Bauraja dll pagi-pagi sekali jam 6. Berarti Mereka berangkat dari Lamalera setelah jam 24.00 tengah. Pasalnya mereka harus jalan kaki dengan menjunjung bakul yang berat berisi daging ikan paus dan hasil laut lainnya, untuk dibarter ke kampung-kampung di pegunungan Painara.

Dari Lamalera mereka harus menyusuri pantai dan teluk Wulandoni dan Labala, sebelum mendaki ke Atawolo, Waiwejak dan lain-lain. Mereka selalu memasuki kampung-kampung di gunung pagi hari, sebelum orang kampung pergi ke kebun.

Di musim lefa, antara Mei-Oktober, yang mereka bawa adalah daging ikan paus, baik yang sudah kering maupun yang masih baru. Di luar musim Lefa dimana tak ada lagi ikan paus , sperm whale atau kotekelema yang ditangkap, para perempuan perkasa ini tetap pergi peneta.

Yang mereka bawa umumnya ikan terbang (Hirundicthyus Oxycephalus) yang sudah dikeringkan, walau nilai tukarnya tidak sebanding dengan daging ikan paus. Mereka juga membawa garam, periuk,belanga, kapur sirih, krupuk, buah nona dan lain-lain.

Di kampung-kampung, mereka membawa dagangannya jualan door to door, dari rumah ke rumah. untuk melakukan transaksi barter di desa-desa.

Dagangannya dibarter dengan hasil bumi seperti jagung, ubi-ubian, pisang, kelapa , labu, kacang tanah dan kacang lainnya, dan lain-lain. Dengan demikian mereka datang memikul beban berat, kembalinya pun dengan menjunjung bakul yang lebih berat berisi aneka hasil bumi.

Jika ada hari pasar di pasar barter Wulandoni dan Labala, wanita-wanita perkasa ini tetap datang dengan ikan jualannya, menemui pelanggan atau partnernya (Prefo), untuk bertukar barang kebutuhan pokok. Umumnya prefo ini sudah dianggap keluarga.

Para wanita perkasa ini sesungguhnya menjalani budaya peneta tidak hanya dengan berjualan mencari nafkah, mereka sekaligus menata ekonomi keluarganya secara disiplin dan ketat, karena Laut itu kehidupan mereka dan Lefa Alap serta Lamafa harapan mereka.

Lefa Alep dan Pneta Alep, merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Bila Lefa Alep mendapat ikan di laut, tapi tidak ada pneta alep,……entah apa jadinya.

Lefa Alep pergi ke laut mengambil “titipan”, Pneta Alep menukarkannya dengan transaksi door to door atau pada prefo di pasar barter.

Pneta Alep sesungguhnya gambaran nyata wanita pejuang. Mereka memiliki keberanian ekstra pergi berhari-hari tanpa dikawal lelaki dan bekal seadanya. Mereka pergi dengan tekad tunggal, dagangannya harus laku dan habis. Mereka harus sehat dan kuat menjalani hidup yang keras penuh perjuangan dan pengorbanan seperi Lefa Alep.

Pneta Alep pergi peneta sambil berpikir tentang ekonomi, berjuang untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya, dengan hanya bermodalkan hasil laut.

Kini banyak putra – putri asal Lamalera yang berhasil di berbagai bidang profesi dan disiplin ilmu. Ada Prof.DR, bejibun sarjana, sederet panjang pastor, biarawan dan biarawati, guru hingga dosen, pejabat tinggi hingga menteri, pengusaha dan pimpinan perusahaan nasional dan lain-lain.

Sebut saja beberapa nama Prof.Dr.Gorys Keraf Guru Besar dari Kampung kecil Lamalera ,P.Alex Beding imam pertama Tanah Lembata, tokoh Pers NTT, DR.Sonny Keraf,Mantan Menteri Lingkungan Hidup ,Marcel Beding, Wartawan Senior Kompas, Markus Sidhu Batafor, Mantan Perwira Tinggi TNI yang jadi Tokoh Pemberdayaan Masyarakat, Pius Kia Tapoona, pebisnis Asuransi Nasional, Pieter Boliona Keraf, Penjabat Bupati Lembata,Yosef Bura Bataona, Pemimpin Perusahaan Nasional diJakatya, Fince Bataona, jurnalis dan novelis”Lamafa”, Ben Oleona, jurnalis senior, Goris dan John Batafor, Pegiat Literasi dan Pejuang Kemanusiaan “Taman Daun” dan masih banyak lagi.

Mereka dan anak-anak Lamalera cerdas – cerdas, bukan saja karena sejak kecil tiap hari makan ikan laut bergizi tinggi pembentuk kecerdasan otak. Alam keras Lamalera telah ikut membentuk mereka menjadi insan pejuang sejati yang tahan banting. Dan Lefa Alap serta Pneta Alap punya peran dan andil besar ,telah turut membentuk dan memotivasi mereka sehingga tumbuh jadi insan pejuang mandiri yang sukses.

Saat sedang mewawancarai seorang bisnisman sukses asal desa ikan sembur ini di sebuah hotel berbintang lima di ibukota Jakarta, tiba-tiba ingatan saya terlempar jauh ke masa doeloe di kampung, saat orang tua saya ber”prefo” dengan wanita-wanita perkasa dari pantai Lamalera ini.

Di sana ada cucuran keringat lefa alap menyabung nyawa hadapi keganasan koteklema yang ngamuk kena hujaman tempuling lamafa. Dan di sana ada tetesan keringat dan bunyi desah nafas tersengal terengah Pneta Alep yang dengan kaki telanjang dan beban berat menapaki dan jelajahi desa-desa di gunung, agar keluarga terus hidup dan anak-anak bisa sekolah.

Salut ,Hormat dan Banggaku buat Ina-Ina Pneta Alap. Juga buat Lefa Alep dan Lamafa. Keringat Pejuangan dan Pengorbananmu tidak sia-sia.Telah ikut angkat banyak anak jadi orang Memanusiakan Manusia.*** Thomas Ataladjar ****

Komentar ANDA?