Warga Atadei dan Wulandoni di Lembata Mulai Kesulitan Air Bersih

0
176
Foto: Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Lembata, Petrus Bala Wukak

NTTsatu.com – LEWOLEBA – Warga di dua kecamatan yakni Wulandoni dan Atadei, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur mulai mengeluhkan kesulitan air bersih menyusul kemarau panjang yang terjadi sebulan terakhir dan menyebabkan sejumlah mata air di wilayah itu mengering.

Keluhan itu disampaikan Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Lembata Petrus Bala Wukak ketika dihubungi di Lewoleba, Sabtu, 16 September 2017 usai menggelar reses di wilayah tersebut

Petrus Bala Wukak mengatakan, saat menggelar reses di wilayah Kecamatan Atadei dan Wulandoni, hal menarik yang disampaikan warga adalah soal kesulitan air bersih yang mulai melanda warga di desa-desa pada dua kecamatan itu.

Khusus wilayah Atadei, lanjut Bala Wukak, kesulitan air paling parah terjadi di Desa Lusilame, Lerek, Atalojo, dan sejumlah desa lainnya. Sedangkan di wilayah Kecamatan Wulandoni tersebar di seluruh desa. Kesulitan air bersih itu, jelasnya, disebabkan mengeringnya sejumlah sumber mata air di daerah itu menyusul kemarau panjang yang terjadi belakangan ini.

“Kesulitan mulai dirasakan sebulan terakhir akibat sumber mata air mengering karena kemarau yang berkepanjangan,” kata Bala Wukak.

Untuk itu, lanjutnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata diminta untuk segera menyikapi persoalan yang tengah mendera masyarakat tersebut. Bantuan air sangat dibutuhkan warga demi memenuhi kebutuhan air bersih.

Menurutnya, BPBD Lembata segera menurunkan tim identifikasi ke desa-desa yang mulai kesulitan air tersebut untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat diambil dalam jangka pendek. Bantuan air bersih merupakan penanganan yang harus segera dilakukan menjawab kesulitan yang dihadapi warga saat ini.

Selain kesulitan air, lanjutnya,  warga juga mengeluhkan soal matinya sejumlah tanaman komoditi akibat panas yang melanda. Matinya tanaman komoditi itu jelas akan berpengaruh pada produktivitas hasil tanaman dan berdampak pada penurunan penghasilan warga. Untuk itu,

Dinas Pertanian pun diminta mulai turun mengidentifikasi persoalan yang dihadapi warga dan memikirkan langkah-langkah penanganan kebih lanjut.

Kebakaran lahan, kata Bala Wukak, juga mulai menyebar sejak kemarau panjang berkepanjangan yang menerpa Lembata akhir-akhir ini termasuk di wilayah Atadei dan Wulandoni. Kebakaran yang terjadi kebanyakan disebabkan ketidaksengajaan warga yang membakar lahan saat membuka kebun yang akhirnya meluas ke hutan dan padang yang rumputnya sudah mengering.

Karena itu, urainya, dibutuhkan sosialisasi untuk menyadarkan warga tak lagi membakar lahan saat musim kemarau seperti saat ini. Selain itu, warga juga diarahkan untuk mengatur mekanisme pembakaran lahan agar tak sampai meluas ke wilayah lain.

“Mengingat lahan yang ada sangat rentan terbakar, sehingga jika dipicu sedikit saja kebakaran dapat meluas,” tandasnya.

Sementara itu Wakil Ketua DPRD Lembata Yohanes Derozari mengatakan, kebakaran hutan yang terjadi di hampir seluruh wilayah di Lembata sudah terjadi setiap tahun. Untuk itu, dibutuhkan upaya penyadaran kepada masyarakat melalui sosialisasi yang rutin agar kebakaran dapat diminimalisasi dari tahun ke tahun.

Untuk itu lanjutnya, pemerintah dan Dewan bersama dinas teknis terkait perlu difasilitasi untuk melakukan  sosialisasi dan memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk tidak lagi membakar hutan. Sebab, jika kebakaran lahan terus terjadi jelas akan merusak tanaman produktif milik warga dan akan sangat mengganggu pertumbuhan ekonomi masyarakat Lembata.

“Apalagi sekarang ini sedang musim jambu mete. Kalau kebakaran merambat dan membakar jambu mete maka produksi akan menurun,” kata Derozari.

Ia juga mendorong pemerintah untuk mengadakan fasilitas mobil pemadam kebakaran. Mobil damkar, lanjutnya, sudah sering dibicarakan dengan pemerintah dan diharapkan agar pada 2018 mendatang sudah dapat diadakan untuk membantu saat kebakaran.

“Ke depan perlu dibentuk Dinas Pemadam Kebakaran dilengkapi fasilitas yang memadai supaya bisa atasi tidak saja kebakaran hutan tetapi juga fasilitas umum dan rumah penduduk mengingat perumahan di Kota Lewoleba semakin padat,” tandasnya. (rin)

Komentar ANDA?