Warga Lobohusu – Mabar Konsumsi Air Kali Sepanjang Tahun

0
458
NTTsatu.com — MANGGARAI BARAT — Warga Kampung Lobohusu, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengonsumsi air kali sepanjang tahun.

 

Pasalnya, tidak ada ketersediaan air bersih, sehingga warga bertahun-tahun terpaksa mengambil air dari Kali Wae Mese untuk minum, masak dan mencuci. Akibatnya warga Lobohusu kebanyakan menderita sakit Batu Ginjal dan Diare.

”Tidak ada air bersih sehingga sudah bertahun-tahun dan sampai sekarang kami gunakan air Kali Wae Mese. Dan kami di sini kebanyakan sakit Batu Ginjal dan Diare,” ungkap Ketua RT Lobohusu, Aco Jafar seperti dikutip dari Pembaharuan NTT. com, Sabtu (15/5).

Kata Aco Jafar, dirinya pun pernah didiagnosa dokter menderita Batu Ginjal, karena air yang dikonsumsi mengandung zat kapur.

”Keluhan masyarakat di sini kebanyakan menderita Batu Ginjal. Saya termasuk sakit Batu Ginjal. Dan menurut dokter yang periksa saya, katanya air ini mengandung zat kapur. Dokter sarankan agar saya tidak boleh konsumsi air ini,” ungkapnya.

Kata Jafar, selain mengandung zat kapur, air Kali Wae Mese juga mengandung banyak limbah racun, apalagi pada saat musim bersawah. Kali Wae Mese sebagai sumber air untuk persawahan di sekitar Kampung Lobohusu.

”Air ini banyak mengandung limbah racun. Saat musim bersawah limbah pestisida pasti mengalir ke sini,” katanya.

Menurutnya, karena keterbatasan air bersih, warga masyarakat Lobohusu terpaksa membeli air galon yang dijual seharga Rp 7 ribu/galon dan itu pun tidak setiap hari.

”Kami beli air galon, itu pun tidak setiap hari. Kadang dalam sebulan, hanya satu kali saja masuk ke kampung ini,” kata Jafar.

Jafar mengaku, di Kampung Lobohusu pernah ada proyek bor air minum yang bersumber dari Dinas PUPR Provinsi NTT. Namun air tersebut, tidak bisa untuk minum dan masak, hanya untuk mencuci dan mandi.

”Pernah ada proyek sumur bor dengan kedalaman 34 meter dari permukaan laut. Namun air sumur itu tidak bisa diminum karena zat kapur sangat tinggi, sehingga air itu hanya digunakan untuk mencuci dan mandi,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Nurijah (40) warga Kampung Lobohusu. Dirinya sudah lama mengonsumsi air kali tetapi sedikit terbantu dengan air galon untuk minum. Sedangkan untuk memasak dan keperluan lainnya, tetap menggunakan air kali.

”Saat musim hujan, air Kali Wae Mese sangat keruh karena banjir, tetapi kami terpaksa konsumsi. Ini saja jadi sumber air buat kami. Jadi kalau untuk minum, sebelumnya harus dimasak terlebih dahulu,” kata Nurijah.

Warga lainnya pun pasrah dengan keadaan ini dan berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten, Provinsi maupun Pemerintah Pusat  untuk dapat menyediakan air bersih bagi warga Lobohusu.

“Kami berharap, kondisi ini bisa menjadi perhatian pemerintah,” pungkas Hamida dan warga lainnya. (*/gan)

Komentar ANDA?