Warga Tolak 31,5 Ton Beras Berkutu dari Dolog Maumere

0
162
Foto: Puluhan ton beras sejahtera (rastra) yang berada di Kantor Desa Namangkewa Kecamatan Kewapante, Sabtu (11/11), terpaksa dikembalikan ke Gudang Dolog Maumere karena beras tersebut sudah mengandung kutu

NTTsatu.com – MAUMERE– Warga Desa Namangkewa Kecamatan Kewapante, Kabupagten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) Sabtu (11/11), menolak 31,5 ton beras rastra yang disalurkan Sub Divre Perum Bulog Maumere. Penolakan warga karena beras tersebut sudah berkutu dan tidak pantas dikonsumsi.

Seperti disaksikan media ini, Sabtu (11/11), di Kantor Desa Namangkewa yang terletak di Jalan Raya Kewapante, ribuan karung beras diangkut kembali ke truk untuk dibawa pulang ke Gudang Dolog Maumere di Jalan Ahmad Yani. Masyarakat mendesak Sub Divre Perum Bulog Maumere menggantikan jatah rastra mereka dengan beras yang berkualitas baik.

Kepala Desa Namangkewa Nikolaus Nong Bale yang ditemui di kantor desa menyebutkan rastra yang disalurkan itu untuk 175 kepala keluarga miskin yang ada di desa. Rastra ini sekaligus untuk dua tahap di tahun 2017, karena warga setempat belum menerima jatah rastra tahap pertama dan tahap kedua.

Untuk dua tahap ini, totral rastra yang harus diterima yakni sebanyak 31,5 ton. Setiap kepala keluarga mendapatkan 180 kilogram. Warga masyarakat sudah membayar Rp 40.680.000 dari total yang seharusnya Rp 50.400.000.

Kekurangan sebesar Rp 9.720.000 akan dibayar kemudian. Biaya rastra ini sudah ditransfer aparat desa melalui BRI Cabang Maumere pada Jumat (10/11).

“Jadi hari ini masyarakat sudah datang untuk ambil rastra, masing-masing kepala keluarga 180 kilogram. Kami coba buka satu karung beras, ternyata sudah banyak kutu di dalam beras. Coba buka karung yang lain, sama saja. Akhirnya masyarakat putuskan menolak, dan meminta Bulog ganti,” jelas Nikolaus Nong Bale.

Kepala Sub Divre Perum Bulog Maumere I Putu Suantara yang baru lima hari bertugas di Maumere menyebutkan rastra yang sudah sempat disalurkan untuk warga Desa Namangkewa yakni sebanyak 20,7 ton. Pihaknya berhenti menyalurkan sisa rastra jatah desa itu, setelah mendapat klaim dari kepala desa. Rastra yang sudah disalurkan kemudian ditarik pulang, dan dia berjanji menggantikan dengan rastra yang berkualitas baik.

Dia menjelaskan Desa Namangkewa sudah mengirimkan surat permohonan alokasi (SPA) sejak Juni 2017 lalu. Saat itu belum bisa langsung disalurkan karena masih ada kendala teknis pada masyarakat desa. Pihaknya baru merealisasikan penyaluran pada Sabtu (11/11).

“Atas kejadian ini saya memohon maaf, dan kami siap menggantikan dengan beras yang lebih baik. Beras ini ada di dalam karung, kami sendiri tidak tahu bagaimana kondisinya. Terhadap temuan ini, kami akan menggantikannya,” ungkap I Putu Suantara.

Sebelumnya pada akhir Oktober 2017 lalu, media ini pernah memberitakan kurang lebih 1.100 ton rastra saat berada di Gudang Dolog Divisi Region Maumere di Jalan Sudirman Kelurahan Waioti Maumere. Di antaranya terdapat 550 ton yang diduga turun mutu, atau menurun dari standar kualitas rastra.

Kepala Sub Divre Perum Bulog Maumere Piter E. Dehaan yang ditemui di Gedung Dolog, Senin (23/10), menjelaskan rastra yang turun mutu itu akibat penyimpanan yang sudah melebihi waktu.

Menurut dia, kualitas rastra hanya bertahan jika disimpan selama 6 bulan. Kalau lebih dari 6 bulan, maka praktis rastra akan turun mutu.

“Jadi masa waktu penyimpanan rastra maksimal 6 bulan. Kalau lebih dari itu maka otomatis kualitasnya akan berkurang. Kalau kondisi seperti ini, secara teknis kami menyebutnya turun mutu. Hal ini sering kami alami,” jelas Piter E. Dehaan.

(vic)

Komentar ANDA?