Yanuba Hadirkan Balai Belajar untuk Pekerja Anak

0
171

KUPANG. NTTsatu.com- Yayasan Nusa Bunga Abadi (Yanuba) Provinsi NTT menghadirkan Balai Belajar untuk mengakomodasi para pekerja anak dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Proses pembelajaran untuk pekerja anak dilaksanakan setiap hari minggu mulai pukul 11.00 sampai 17.00 Wita.

Ketua Yanuba Provinsi NTT, Mien Pattymangoe Hadjon yang dihubungi di di Kupang, Senin, 25 Mei 2015 mengatakan, jumlah peserta yang mengikuti pembelajaran di Balai Belajar sebanyak 50 orang yang terdiri dari tingkat SD sebanyak 20 orang, serta SMP dan SMA masing- masing berjumlah 15 orang.

Mereka yang didampingi tersebut selama ini bersekolah di pendidikan formal. Karena harus membantu orangtua yang nota bene berasal dari keluarga kurang mampu, maka sebelum dan sesudah pulang sekolah mereka harus bekerja. Rata- rata mereka bekerja sesuai dengan pekerjaan yang digeluti orangtua yakni pemulung, tukang gerobak dan penjual koran.

Dengan bekerja, tentunya jam belajar mereka sangat tersita. Kalaupun pada malam hari, konsentrasi belajar sangat menurun karena kondisi fisik sudah lelah akibat bekerja pada siang hari.

Ia menyampaikan, walau jumlah pekerja anak di Kota Kupang lebih dari jumlah yang ditangani saat ini, tapi pihaknya hanya fokus untuk pekerja anak yang tinggal bersama orangtua kandung. Tentunya, orang tua mereka juga harus dari latar belakang keluarga kurang mampu seperti pemulung, tukang gerobak, dan penjual kue. Survei yang dilakukan dengan mendatangi setiap rumah pekerja anak.

Ketua Forum Komunikasi Pemerhati Perjuangan Hak-hak Perempuan (Forkom P2HP) NTT ini mengungkapkan, setiap hari Minggu diselenggarakan pendidikan untuk anak- anak dari keluarga kurang mampu itu di Balai Belajar. Hasilnya, nilai rapor sejumlah anak di sekolah formal cukup bagus, bahkan ada yang sampai menempati ranking tiga besar dan Putria Nuba terpilih sebagai peserta olimpiada matematika.

“Saya sangat terharu ketika ditelepon orangtua tentang prestasi yang diraih anak mereka. Karena itu, kehadiran Balai Belajar punya nilai positif bagi pekerja anak itu,” kata Mien.

Ia menerangkan, walau proses pembelajaran hanya sekali dalam seminggu, tapi metode pengajaran dan pembelajaran sangat disukai dan membantu para peserta didik. Para guru yang mengajar di Balai Belajar berasal dari sekolah formal, seperti SMAK Giovani Kupang.

Selain diajarkan mata pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia, juga pembinaan karakter dan bidang seni musik. Bahkan di bidang seni musik ini, mereka pernah tampil di aula rumah jabatan gubernur dalam kegiatan sarasehan Forkom P2HP beberapa waktu lalu.

Menurut anggota Dewan Pakar Kaukus Politik Perempuan Indonesia (KPPI) NTT ini menegaskan, walau mereka anak jalanan, tapi mereka adalah generasi penerus bangsa. Mereka terpaksa menjadi pekerja karena kemiskinan orangtua. Diyakini, tidak ada satu anak pun dilahirkan sebagai pekerja anak. Mereka juga memiliki kesempatan yang sama menjadi pemimpin bangsa dan daerah ini.

“Saya bermimpi, pada saatnya para pekerja anak ini menjadi pemimpin masa depan. Tentunya, cita- cita kita bersama adalah mereka meninggalkan dunia anak jalanan dan pemulung,” tandas Mien.

Mantan anggota DPRD NTT periode 1987- 1992 ini menyatakan, lembaga yang dipimpinnya fokus untuk pekerja anak karena terinspirasi dengan kerja International Labour Organization (ILO). Dimana pihaknya pernah membangun kerja sama dengan ILO yang mengajarkan tentang metode pembelajaran yang ramah anak di sekolah- sekolah yang ada pekerja anak. Sayangnya, pemda tidak melanjutkan metode pembelajaran tersebut pasca berakhirnya program ILO.

“Karena pernah bekerjasama dengan ILO, sehingga saya terinspirasi untuk terus melaksanakan program pendampingan terhadap pekerja anak di NTT umumnya, Kota Kupang khususnya,” ujar Mien.

Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini (Paudni) dan Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Beni Wahon mengatakan, pada prinsipnya pemerintah siap membantu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan non formal. Namun yang penting adalah lembaganya resmi dan memiliki peserta didik. Dukungan dana yang diberikan pun disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. (iki)

Komentar ANDA?