Yesus, Ahok dan Djarot: “Tersalib Karena Konspirasi”

0
186
Foto: Pastor Juan Tuan MSF

Hiruk pikuk Politik Pilkada Gubernur DKI sudah selesai. Namun, Tuan Kopong, MSF seorang pastor asal Adonara yang sekarang bertugas di Philipina menuliskan sebuah permenungannya dibawah judul  “Yesus, Ahok dan Djarot: “Tersalib Karena Konspirasi” berikut ini.

 

Sebagai seorang Imam Katolik yang biasa disapa Gembala, dalam diskusi dengan beberapa teman imam, kami akhirnya menyadari bahwa cara dan semangat kepemimpinan kamipun masih jauh dari sempurna bahkan masih jauh dari totalitas dan keberanian sebagai seorang pemimpin seperti kepemimpinan yang dalam bahasa saya “pengembalaan” Ahok-Djarot.

Sejenak merenungkan gaya “pengembalaan” Ahok-Djarot dalam terang Pengembalaan Yesus. Dia berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengunjungi,  mempersatukan, mengenal, dekat dengan umat dan mengikutiNya. Yesus melakukan “blusukan” untuk memanggil, menyapa dan mengajarkan segala hal berkaitan dengan Kerajaan Allah pada mereka. Meski demikian, Yesuspun selalu menghadapi kaum bumi datar yang terus ingin membunuhNya.

Kaum bumi datar: kaum Farisi, Ahli Taurat dan Imam-imam kepala menjadi cemburu dan sakit hati, lalu membangun konspirasi “politik” untuk mengalahkan Yesus dengan cara menyalibkan Dia agar tidak semakin banyak orang mengukiti Dia dan membenci mereka.

Bahasa Yesus bahwa Dia adalah Anak Allah seakan menjadi senjata baru bagi kaum bumi data yang kemudian diplintir, dan dijadikan isu sentimen agama dan suku oleh kaum Farisi dan Ahli Taurat untuk mengalahkan dan menyalibkan Dia.

Ahok-Djarot pun demikian. Gaya pengembalaan dengan model “blusukan” untuk semakin mengenal masyarakat (domba) dan masyarakat juga semakin mengenal pemimpinnya (Gembala) justru mendapat tantangan dari kaum bumi datar yang ingin mencelakakan mereka. Pintu Balai Kota yang selalu terbuka untuk menerima dan mendengarkan keluhan “para domba” melahirkan rasa iri dan kebencian dalam diri kaum farisi dan ahli taurat Indonesia yang kemudian berkonspirasi mencari cara untuk mengalahkan dan “menyalibkan” Ahok Djarot agar tak banyak orang yang mengikuti mereka.

Konspirasi penyaliban Ahok-Djarot, akhirnya menemui jalan terang ketika bahasa Ahok di Pulau Seribu kemudian diplintir dan diviralkan dalam sentimen agama dan suku oleh kaum farisi dan ahli taurat yang kemudian bersekutu dengan imam-imam kepala (ketua-ketua parpol) yang tidak suka dengan gaya kepemimpinan Ahok –Djarot yang terlampau jujur dan tegas untuk mengalahkan dan menyalibkan Ahok-Djarot.

Tanggal 19 April 2017 menjadi hari “peyaliban” Ahok-Djarot meski pada akhirnya Penyaliban itu seperti juga penyaliban Yesus, bukanlah sebuah kebodohan dan kutukan melainkan sebuah Hikmat, Kebijaksanaan dan Kemenangan yang lahir dalam gerakan silent majority.

Keberanian dan Ketegasan Ahok-Djarot untuk membangun pemerintahan yang jujur, bersih dari Korupsi dan melayani dengan membangun sistem transparansi yang menghambat penerimaan “upeti” kaum koruptor juga tidak jauh berbeda dengan gaya kempemimpinan Yesus yang berani dan tegas ketika Dia mengusir para pedagang, penukar uang dan penjudi dari Bait Allah (Mk 11:15).

Tindakan Yesus yang berani itu adalah perlawanan terhadap kekaisaran Romawi-sahabat Kayafas yang selalu menerima upeti dari pajak para pedang, penukar uang, penjudi. Seperti Yesus yang secara sosial-Antropologis, kematianNya adalah hasil konspirasi politik Romawi dan Kayafas yang menjadikan isu Dia adalah Anak Allah (Lk 22:66-71), demikian juga Ahok-Djarot, “kematian” mereka adalah konspirasi politik yang dikolaborasi dalam satu isu Penistaan Agama lantaran melawan kekuatan kaisar-kaisar kecil Parpol yang bersekutu dengan kaum radikal (farisi dan ahli taurat).

Pengembalaan Yesus sebagai Gembala Baik dan kepemimpinan Ahok-Djarot yang tegas dan berakhir tragis dalam sebuah konspirasi busuk, sebagai imam, adalah sebuah tamparan bagi kepemimpinan atau pengembalaan saya dan rekan imam yang kadang tegas dan berani pada kaum miskin, sederhana namun tak berdaya pada mereka yang memiliki uang dan kekayaan.Bahkan tidak jarang justru menjadi konspirasi penyaliban yang karena takut dan masa bodoh terhadap situasi yang dialami oleh umat.

Istilah Gembal Baik yang disematkan kepada kami para imam hanya sebuah simbol belaka karena tidak berani melawan konspirasi korupsi, konspirasi radikalisme tetapi justru bersekutu dengan mereka. Semoga di hari Minggu Gembala Baik ini, menjadikan saya dan rekan iman untuk berani melawan konspirasi busuk bahkan siap untuk disalibkan lantaran keadilan dan kebenaran. Semoga.

 

Manila: Mayo-07-2017

Fr. Juan Tuan MSF

Komentar ANDA?