Yohanes Rukep Keraf,  Merintis Bandara Hingga Merintis Sekolah 

0
1125

NTTsatu.com — LEMBATA —  “Kami yang hadir di sini bukan orang yang punya. Kami berangkat dari kekurangan, itu pun dengan perjuangan. Kini kami ingin berbuat sesuatu bukan juga berbagi tetapi ingin mengungkapkan bahwa dengan bersama-sama berkolaborasi, kita bisa berbuat sesuatu”, demikian ungkapan Yohanes Rukep Keraf di hadapan Pastor Niko Strawn, SVD.

Dalam audiensi Bersama pengurus Yayasan Koker Niko Beeker pada Senin 2 November, pembina Yayasan itu mengungkapkan kepada pater Niko bahwa teladan persautuan yang berasal darinya, kini tengan diwujudkan antara lain melalui pembangunan sekolah. Ia pun Bersama anggota Yayasan lain tersentuh untuk melakukan sesuautu meski sederhana melalui pendidikan.

Ungkapan yang sama disampaikan saat peletakan Batu Pertama, pada Selasa 3 November. Yohanes yakin, lera wulan tana Ekan memberkati semua niat luhur yang sedang dilakukan melalui pembangunan fisik SMARD.

Perlu Kolaborasi

Bagi pria kelahiran Waiwejak 13 Oktober 1960, untuk membangun sesuatu tidak bisa hanya mengharapkan dari pemerintah. Pemerintah menurutnya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya telah berbuat sesuatu.

Dari pihak masyarakat kita bisa memberikan sesuatu meski sekecil apapun. “Banyak orang pintar, hebat, dan kaya yang sebenarnya bisa berbuat lebih. Ada banyak orang juga yang telah melakuakn hal itu. Tetapi bagi kita yang lain pun kalau berkolaborasi, maka kita juga bisa berbuat sesuatu yang tidak kalah penting dan besarnya,” demikian suami dari Elisabet Daindo Keraf.

Prinsip ini sejalan dengan salah satu nilai yang ditekankan dalam Yayasan Koker Niko Beeker yaitu tentang kolaborasi. Semua orang dengan aneka latar belakang bila Bersatu dan bekerjasama, maka dapat menghasilkan sesuatu.

Di era telekomunikasi seperti ini, lanjut pria yang tamat dari SMP Budi Bakti Waiteba tahun 1976, sebenarnya kita terfasilitasi untuk menyebarkan hal-hal baik dengan peralatan media komunikasi yang kita punyai. Sayangnya banyak orang yang salahgunakan media sosial sehingga bukannya menyebarkan persatuan tetapi malah mewabahi dengan virus kebencian dan iri hati. “Generasi muda berpotensi untuk menyebarkan hal-hal yang baik yang tentu saja perlu didukung oleh kami generasi tua”, demikian pria yang semasa jadi Kabandara Tambolaka, sukses melandasarkan Boieng 737 pada tahun 2010, di salah satu bandara terbaik di NTT hanya setahun setelah menjabat Kanbadara di sana.

Semangat kolaborasi itulah yang mendorong Anis Keraf untuk ikut memprakarsai berdirinya Sekolah Keberbakatan Olahraga San Bernardino (SMARD). Anis selalu mendorong dan menginspirasi semua pengurus untuk bahu membahu dalam melakukan kegiatan pembangunan fisik maupun pengembangan pendidikan.

Anis mengapresiasi semangat yang terus digalakan dalam Yayasan Koker. Semua orang dengan keterbatasan berusaha memberi yang terbaik. Dengan pakta intergritas pula semua anggota Yayasan ingin melakukan setulus mungkin tanpa mencampuradukan dengan kepentingan pribadi. Yang bagusnya, demikian ayah dari 5 anak, 3 di antaranya sudah menjadi PNS, semua anggota Yayasan selalu berprinsip semua telah selesai dengan diri sendiri. Yang mau dilakukan sekarang hanyalah mengabdi dalam ketulusan.

Karena itu menyinggung keberanian meletakan batu pertama, ayah dari Valensius Vendi Keraf yang kini bekerja di Kementerian Perhubungan mengatakan dia sangat apresiasi terhadap keikhlasan semua pihak. Dia yakin semangat tulus seperti ini telah dilakukan banyak orang dan perlu kita dukung.

Kepada pemerintah, pria yang pernah 9 tahun jadi Kabandara di Ende (2000 – 2008) mengatakan bahwa semua sekolah baik swasta maupun negeri sama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lebih lagi menurutnya, sekolah swasta keberbatakan perlu diperhatikan. SMARD, meski berkekurangan, tetapi sejak awal sudah menyumbang para atlit baik Kempo, Volley, Paralayang, maupun atletik. Karena itu perhatian terhadap sekolah swasta dari pemda tentu sangat penting. Peran serta eksekutif dan legislatif tentu sangat diharapkan.

Dari Bandara ke Sekolah

Rintisan sekolah yang tengah dimulai di Lembata bukan hal baru bagi tamatan SDK WAiwejak tahun 1973 ini. Sejak tahun 1993, ia mendapat tugas merintis. Saat itu Bandara Wunopito Lewoleba masih dikategorikan perintis. Setelah 2 tahun berada di Lembata, Bandara itu ‘naik kelas’ menjadi Bandara kelas 5.

Keberanian mengelola bendara yang tadinya kurang mendapatkan perhatian sampai ‘berubah wajah’ menjadi kredit poin bagi Anis. Departemen Perhubungan Udara menangkap bahwa kesederhanaan, ketulusan, dan komitmen pada pekerjaan merupakan modal yang sangat besar yang ada dalam alumnus SMA PGRI Lewoleba tahun 1980 itu.

Kepercayaan demi kepercayaan pun diberikan kepadanya setelah Lewoleba yaitu, Kabandara Soa Bajawa (1999) dan kemudian 9 tahun di Ende (1999- 2008). Dari Ende, Anis dipanggil pulang ke Sumba dan menjadi Kepala Bandara Tambolaka (2009 – 2015). Di sini setelah setahun bekerja, Anis sukses menghadirkan Boeng 737 mendarat di sana. Anis pun mengabdi hingga tahun 2016 sebelum dipindahkan menjadi Kepala Bandara Frans Seda Maumere (2016 – 2018).

Yang menarik, pria yang sangat sederhana, low profile ini mengatakan bahwa Kementerian Perhubungan dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, masih memberikan apresiasi padanya saat dipanggil kembali jadi Kepala Bandara Tambolaka hanya 3 bulan sebelum pensiun. Nampaknya jarang terjadi hal seperti itu. Logikanya, Anis harus pensiun di Maumere tetapi sebuah berkat dan anugerah karena masih pulang sebagai Kabandara di Tambolaka meski hanya 3 bulan sebelum pensiun.

Baginya kembali ke Sumba tentu bukan sebuah kebetulan. Sejak tamat SMA PGRI Lewoleba tahun 1980,ia sudah tinggal dan bekerjadi di Sumba hingga mepersunting Elisabet Daindo Keraf. Ia merasa, orang Sumba itu sangat baik. Dari luar memang kelihatan watak mereka sangat keras, tetapi ketika kita menghadirkan kebaikan maka mereka bahkan lebih baik lagi.

Di akhir wawancara, Anis yang saat ini berada di Lewoleba selain menghadiri peletakaan batu pertama juga menghadiri misa perdana imam baru di Lamalera mengungkapkan bahwa apa yang ia lakukan kini hanyalah sebagai ungkapan syukur dan terimakasih atas apa yang dia terima dari Lembata.

Kesederhanaan orang tua dan keikhlasan dan tekad mendidik anak hanya agar dengan kemampuan membaca dan menulis dapat menghidupi dirinya sendiri sangat kuat terpateri dalam dirinya. Semuanya telah mendorongnya agar di mana pun berada ia selalu meyebarkan kebaikan.

Anis pun yakin bahwa siapapun sebenarnya terlahir untuk berbuat sesuatu. Ada orang yang tugasnya membuka dan merintis sesuatu hal mana terjadi dalam hidupnya. Itu pun karena Tuhan mengirimkan orang-orang baik untuk bekerjasama dalam merintis sesuatu, hal mana juga terjadi saat ikut merintis pendirian dan pembangunan SMARDdi Lembata ini.

Ketika disinggung, alasan mengapa dalam momen peletakan Batu Pertama, ia dengan spontan menyumbang lagi 50 sak semen sebagai dasar pembangunan, Anis menjawab bahwa itu hanya hal kecil yang bisa dilakuakn semua orang. Ia yakin, banyak orang baik di Lembata yang bisa menyumbang lebih dari apa yang ia sumbangkan karena ia tahu bahwa banyak orang baik dan tulus di Lembata. (Robert Bala/bp).

Komentar ANDA?