Ambisi Jakarta Tembus 50 Kota Global di Tengah Kepungan Polusi Udara

e7c8864c3a13a891ec6b5695337634bd.jpg

Pemerintah Provinsi Jakarta kini tengah memasang target tinggi untuk membawa ibu kota masuk ke dalam jajaran 50 besar kota global. Visi besar ini mendapat sokongan penuh dari Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta. Tentu saja, mengubah wajah kota menjadi berkelas dunia bukanlah perkara instan. Ketua Umum HIPPI Jakarta, Uchy Hardiman, menyebut proses panjang ini butuh ketekunan, kalkulasi pembiayaan yang matang, serta sosok pemimpin tegas yang sanggup merangkul berbagai kalangan.

Visi Ekosistem Inklusif dan Dukungan Pengusaha

Dukungan para pengusaha lokal ini menggema kuat usai gelaran Rapat Kerja Daerah (Rakerda) di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Kamis (12/6) lalu. Mengusung tema sinergi untuk ekosistem UMKM yang inklusif, HIPPI bertekad menelurkan langkah-langkah konkret. Uchy tampak sangat optimis melihat posisi Jakarta yang saat ini bertengger di peringkat ke-74 dalam Global City Index. Berbekal kerja keras dan doa, ia yakin Jakarta kelak mampu berdiri sejajar dengan raksasa dunia macam New York, London, Tokyo, Paris, Beijing, Singapura, hingga Los Angeles.

Optimisme ini turut diamini oleh sejumlah tokoh yang hadir dalam Rakerda tersebut. Beberapa di antaranya adalah Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino, Ketum KADIN Jakarta Diana Dewi, Kepala Dinas KPKP Jakarta Hasudungan Sidabalok, serta Deputi Bidang Kewirausahaan Siti Azizah. Semuanya sepakat bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama.

Menghadapi Masalah Klasik Perkotaan

Meski mimpinya setinggi langit, realita di lapangan masih menuntut banyak pembenahan. Status kota global tidak cuma diukur dari urusan gampang berbisnis atau konektivitas transportasi. Kekuatan ekonomi, tata kelola pemerintahan, inovasi digital, sampai kualitas layanan publik dan keberlanjutan lingkungan hidup ikut jadi indikator krusial.

Pihak HIPPI sendiri sadar betul akan tantangan ini. Mereka menyoroti perlunya perbaikan layanan birokrasi dan penyelesaian tuntas penyakit klasik Jakarta. Selama kemacetan lalu lintas, tata ruang yang semrawut, banjir, dan ketimpangan sosial belum dibereskan, iklim Jakarta akan sulit menyamai kota-kota global lainnya. Ironisnya, saat tengah mengejar standar internasional di sektor keberlanjutan lingkungan, warga justru dihadapkan pada krisis nyata di depan mata.

Darurat Kualitas Udara

Bicara soal lingkungan, kondisi udara Jakarta belakangan ini justru bikin waswas. Pada Senin (13/4) pagi, situs pemantau IQAir mencatat indeks kualitas udara (AQI) ibu kota menyentuh angka 153 pada pukul 06.00 WIB. Angka ini secara gamblang melabeli udara Jakarta sebagai “tidak sehat” dan bercokol di urutan kedua terburuk se-Indonesia. Posisi puncak dipegang oleh Serpong dengan 155 poin, sementara di bawah Jakarta ada Bekasi (137), Tangerang Selatan (124), dan Tangerang (105).

Konsentrasi polutan PM2.5 di udara Jakarta menembus 58 mikrogram per meter kubik. Asal tahu saja, partikel halus berisi debu, asap, dan jelaga ini besarnya tidak sampai 2,5 mikron, namun levelnya sudah 11,6 kali lipat lebih tinggi dari batas aman tahunan yang dipatok Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Paparan jangka panjang jelas bukan main-main karena sangat berisiko memicu kematian dini, terutama bagi mereka yang punya riwayat penyakit jantung dan paru-paru. Warga pun mau tak mau diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, wajib memakai masker, menutup rapat jendela rumah, hingga menyalakan penjernih udara.

Langkah Antisipasi di Musim Kemarau

Kondisi udara yang kian memprihatinkan ini memaksa Pemprov DKI Jakarta untuk putar otak lebih cepat. Terlebih lagi, polusi diprediksi akan makin parah saat musim kemarau yang diperkirakan melanda mulai awal Mei hingga Agustus mendatang.

Sebagai bentuk antisipasi, pemerintah daerah kini tengah mengevaluasi Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) dari berbagai sisi. Mereka mulai membedah tren pergerakan PM2.5, menghitung beban emisi dari masing-masing sektor, sampai mengkaji dampak langsungnya terhadap kesehatan warga. Langkah cepat juga sedang digenjot, termasuk memperketat aturan uji emisi kendaraan bermotor dan mendongkrak kualitas sistem pemantauan udara di berbagai titik. Rangkaian upaya pembenahan lingkungan ini pada akhirnya menjadi ujian nyata, apakah Jakarta benar-benar siap naik kelas menjadi kota global seutuhnya atau sekadar sebatas impian di atas kertas.