Harga Bawang Mencekik di Tengah Tren Kenaikan Penjualan Eceran Nasional

f3f2bf01a35c24a7a4677aa079e602b6.jpg

Kondisi pasar di tingkat daerah kini tengah mengalami gejolak yang cukup kontradiktif dengan data makroekonomi nasional. Di saat angka penjualan ritel menunjukkan pertumbuhan, warga di Kabupaten Way Kanan, Lampung, justru harus menghadapi kenyataan pahit terkait melonjaknya harga komoditas bumbu dapur. Kenaikan harga bawang merah dan bawang putih yang cukup signifikan belakangan ini benar-benar membuat para ibu rumah tangga dan pedagang kecil mengelus dada.

Satu Siung Bawang Kini Seharga Seribu Rupiah

Fenomena yang cukup mengejutkan terjadi di pasar-pasar tradisional di Way Kanan, di mana bawang merah kini seolah menjadi barang mewah. Bayangkan saja, untuk satu siung bawang, warga terpaksa merogoh kocek hingga Rp 1.000. Siti, salah seorang warga setempat, mengeluhkan kondisi ini karena beban ekonominya kini semakin berat akibat harga pangan yang terus melambung tinggi. Ia dan banyak warga lainnya menaruh harapan besar agar pemerintah segera turun tangan melakukan intervensi untuk menstabilkan harga di pasar.

Keresahan yang sama juga dirasakan oleh Poniyem, seorang pedagang di pasar Pemda Way Kanan. Ia mengakui bahwa kenaikan harga dua komoditas hortikultura ini sangat memberatkan, baik bagi dirinya sebagai penjual maupun bagi para pelanggan. Menurut pantauannya, pasokan barang sebenarnya tersedia, namun minat beli masyarakat menurun drastis karena harganya yang tidak masuk akal. Poniyem kini menjual bawang merah dan bawang putih di kisaran Rp 48.000 per kilogram, sebuah lonjakan hingga dua kali lipat dibandingkan harga normal sebelumnya.

Siasat Warga Membeli Eceran dan Pengurangan Bumbu Masak

Akibat daya beli yang tergerus, pola konsumsi masyarakat pun berubah secara drastis. Jika biasanya warga membeli dalam takaran kilogram, kini mereka lebih banyak membeli secara eceran dalam jumlah yang sangat terbatas. Poniyem menceritakan bahwa banyak pelanggannya yang kaget saat mendengar harga terbaru, sehingga mereka hanya sanggup membeli seperempat kilogram saja. Bahkan, tidak sedikit warga yang nekat membeli bawang hanya senilai Rp 3.000 demi bisa menyajikan masakan di rumah.

Dampak lonjakan harga ini juga merembet ke sektor usaha kuliner. Pemilik rumah makan di wilayah Blambangan Umpu kini berada dalam posisi dilematis. Teteh, seorang pemilik warung makan, mengungkapkan bahwa dirinya tidak sanggup lagi membeli bawang dalam jumlah banyak seperti biasanya. Jika sebelumnya ia rutin membeli 3 hingga 4 kilogram, kini ia hanya mampu menyisihkan modal untuk satu kilogram saja. Karena merasa tidak tega jika harus menaikkan harga jual makanannya kepada pelanggan, Teteh terpaksa mengambil langkah pahit dengan mengurangi takaran bumbu pada setiap masakannya agar usahanya tetap bisa berjalan.

Pertumbuhan Ritel Nasional yang Melaju Pesat

Menariknya, kesulitan yang dialami warga di tingkat daerah ini terjadi di saat pertumbuhan penjualan ritel Indonesia justru tercatat menyentuh level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan data terbaru, penjualan eceran nasional pada Februari 2026 tumbuh sebesar 6,5% secara tahunan (YoY). Angka ini menunjukkan percepatan dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 5,7%, sekaligus menjadi pertumbuhan tercepat sejak Maret 2024.

Peningkatan performa ritel ini didorong oleh kuatnya belanja rumah tangga selama masa Ramadan dan persiapan hari raya. Sektor makanan, minuman, dan tembakau mencatat pertumbuhan sebesar 8,8%, sementara sektor suku cadang otomotif serta peralatan budaya dan rekreasi juga menunjukkan performa yang solid. Secara bulanan, perdagangan ritel tumbuh 4,1%, yang menandakan adanya pemulihan signifikan setelah sempat mengalami penurunan pada awal tahun. Namun, di balik angka-angka optimistis di tingkat nasional tersebut, realita di dapur warga Way Kanan menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan masih menjadi tantangan besar yang harus segera diselesaikan agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.