Sastra Sebagai Kekayaan Intelektual: Manuver Baru Indonesia dan Pelajaran Berharga dari Spanyol
Ekosistem sastra kita sepertinya mulai bersiap untuk sebuah lompatan yang lebih serius. Belum lama ini, Kementerian Kebudayaan resmi melempar jangkar baru untuk membawa karya-karya penulis lokal ke panggung global melalui dua inisiatif strategis: Laboratorium Penerjemah Sastra dan Laboratorium Promotor Sastra. Langkah ini bukan sekadar program kumpul-kumpul pegiat literasi, tapi sebuah manuver taktis. Saat membuka diskusi publik di Graha Utama Kompleks Kemendikbud Jakarta, Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara gamblang menyoroti betapa krusialnya peran sastra sebagai amunisi diplomasi budaya. Di mata pemerintah, industri buku kita menyimpan cadangan potensi yang masih jauh dari kata maksimal untuk unjuk gigi di luar negeri.
Membangun fondasi agar sastra bisa mendunia jelas butuh infrastruktur manusia. Kebutuhan akan penerjemah sastra yang andal dan agen yang tahu cara “jualan” naskah di pasar internasional adalah realitas yang harus segera dijawab. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra. Ia memetakan penguatan ekosistem ini ke dalam lima ranah utama, mulai dari kreasi, diseminasi, hingga internasionalisasi. Sastra kini didorong agar bisa sejajar dengan empat ekosistem budaya lain yang sedang kencang digarap: film, musik, seni pertunjukan, dan seni rupa. Harapannya, karya-karya kita tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi juga punya daya tawar di luar.
Bicara soal daya tawar sastra di ranah global, kita sebenarnya bisa menengok cara industri buku Spanyol memainkan kartunya. Di kancah internasional, literatur kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai produk cetak, melainkan sebuah aset bernilai tinggi untuk alih wahana. Fernando Benzo, penulis sekaligus Sekretaris Jenderal Federasi Penerbit Spanyol, menyuarakan pandangan yang sangat pragmatis mengenai hal ini. Baginya, buku adalah bentuk kekayaan intelektual (IP) yang sangat aman. Produser film atau televisi cenderung lebih berani bertaruh pada materi adaptasi buku karena sudah ada basis penggemar yang solid dan audiens yang terukur, jauh lebih aman ketimbang menggarap naskah orisinal dari nol.
Sudut pandang Benzo soal “Safe IP” ini akan ia bedah lebih dalam pada 21 Juni mendatang di Festival Film Shanghai. Dalam sebuah sesi dialog bertajuk “Stories Travel Further – Literature and Cinema in Spain-China Dialogue”, yang merupakan bagian dari kampanye panggung dunia “Spain – Where Talent Ignites” jebolan Cannes, Spanyol dengan agresif memamerkan otot industri kreatif mereka. Sesi ini sendiri didesain cukup megah, mempertemukan sineas Spanyol Albert Serra (“Pacifiction”) dengan sutradara Tiongkok Bi Gan (“Resurrection”), lengkap dengan pemutaran film pendek dari Carla Simón, Nicolás Méndez, dan Turbo.
Spanyol sadar betul mereka punya keunggulan komparatif yang luar biasa. Benzo mengibaratkannya dengan sangat menarik, bahwa bensin utama mereka adalah bahasa. Memproduksi sebuah buku berbahasa Spanyol berarti secara otomatis membuka gerbang ke pasar yang berisi sekitar 600 juta penutur di seluruh dunia. Ketika industri literatur yang masif ini dikawinkan dengan kualitas produksi audiovisual mereka yang sedang berada di puncak—sebut saja fenomena global Netflix “La Casa de Papel” (Money Heist)—ledakan sukses di pasar internasional hanyalah soal waktu.
Konsep kawin silang antara IP sastra dan jangkauan global inilah yang membuat Laboratorium Promotor Sastra garapan Kementerian Kebudayaan menemukan urgensinya. Membawa sastra Indonesia keluar bukan cuma urusan mengalihbahasakan teks, tapi penguasaan strategi bisnis. Agen dan promotor kita harus melek urusan agensi sastra, seluk-beluk hak cipta, strategi pitching, pemasaran hak terjemahan, sampai negosiasi kontrak penerbitan kelas dunia. Jérôme Bouchaud dari Astier-Pecher Literary Agency di Paris, yang didapuk sebagai salah satu mentor laboratorium ini, meyakini betul potensi besar karya Indonesia. Lewat bimbingannya, peserta akan diajak menyimulasikan praktik profesional dari dasar, belajar membangun kepercayaan dengan penulis, hingga meracik karya agar siap dikonsumsi pasar asing.
Urusan rasa bahasa juga mendapat porsi perhatian yang sama besarnya melalui Laboratorium Penerjemah Sastra. Kementerian menggandeng Lara Norgaard, penulis esai dan penerjemah fiksi yang sudah terbiasa menjembatani karya dari Indonesia, Brasil, dan Amerika Latin. Keterlibatannya diharapkan bisa memantik lahirnya generasi penerjemah muda yang mampu menangkap nyawa teks asli dan menyajikannya secara luwes ke audiens global.
Pada akhirnya, Indonesia mungkin belum memiliki “bensin” demografis bahasa sebesar Spanyol. Namun, langkah sistematis untuk membenahi dapur penerjemahan dan mengasah insting bisnis para agen sastra ini adalah fondasi krusial. Jika IP lokal kita dikelola dan dipasarkan dengan standar internasional, jalan bagi cerita-cerita dari Nusantara untuk melampaui batas geografisnya—entah dalam bentuk buku, atau mungkin ke depannya sebagai layar perak global—sudah pasti terbuka jauh lebih lebar.