Ambisi Menyatukan Daratan: Dari Sejarah Panjang Suramadu hingga Proyek Raksasa di Atas Zona Gempa Italia

1bcd0d914e1f657aabe733b1d8ccabab.jpg

Pembangunan jembatan lintas laut selalu menjadi tonggak sejarah krusial bagi perekonomian sebuah wilayah. Di Indonesia, kita mengenal Jembatan Suramadu yang telah beroperasi selama belasan tahun sebagai jembatan nasional terpanjang. Membentang sejauh 5,4 kilometer dengan lebar 2×15 meter, proyek raksasa senilai Rp 4,5 triliun ini dibangun dengan satu tujuan utama, yakni memacu pertumbuhan infrastruktur dan roda ekonomi di Pulau Madura.

Sejarah panjang pembangunannya cukup unik karena melibatkan tiga era presiden yang berbeda. Semuanya bermula pada 20 Juli 2003 di bawah komando Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri. Proyek ini rupanya sempat mangkrak akibat minimnya alokasi dana dari APBN serta terhentinya kesepakatan kerja sama dengan Tiongkok. Pemerintah kemudian mencari jalan keluar atas dua kendala tersebut, hingga akhirnya proyek ini dilanjutkan dan diresmikan pada tahun 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Perjalanan Tarif Tol hingga Digratiskan Sepenuhnya

Pada awal masa operasionalnya, Jembatan Suramadu dikelola selayaknya jalan tol komersial. Pengendara dikenakan tarif yang bervariasi, mulai dari Rp 30 ribu untuk mobil sedan golongan pertama, hingga Rp 90 ribu untuk kendaraan besar. Pengguna sepeda motor pun kala itu harus membayar karcis masuk sebesar Rp 3 ribu.

Seiring berjalannya waktu, beban biaya yang dinilai terlalu mahal ini mulai dipangkas oleh pemerintah. Pengendara motor lebih dulu menikmati akses gratis sejak 2015. Setahun berselang, tarif untuk seluruh golongan mobil dipotong hingga 50 persen. Puncaknya terjadi setelah sembilan tahun jembatan ini berdiri. Pada 27 Oktober 2018, Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan tegas untuk membebaskan seluruh tarif tol Suramadu.

Menurut Dwimawan Heru, yang saat itu menjabat sebagai AVP Corporate Communications Jasa Marga, aturan ini disahkan melalui Peraturan Presiden yang mengubah status Suramadu dari jalan tol berbayar menjadi jalan umum biasa. Keputusan tersebut diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai upaya percepatan pengembangan ekonomi di kawasan Surabaya dan Madura agar mobilitas masyarakat tidak lagi terhambat oleh biaya operasional jembatan.

Eropa Bersiap Membangun Infrastruktur Serupa

Sama halnya dengan ambisi Indonesia menyatukan Jawa dan Madura, Italia saat ini tengah mempersiapkan proyek infrastruktur yang jauh lebih ekstrem. Pemerintah setempat baru saja menyetujui rencana pembangunan jembatan gantung terpanjang di dunia yang akan menghubungkan daratan utama Italia dengan Pulau Sisilia. Didanai penuh oleh negara, proyek bernilai fantastis nyaris 16 miliar dolar AS ini ditargetkan rampung pada 2033 mendatang.

Matteo Salvini selaku Menteri Transportasi setempat dengan bangga menyebut inisiatif ini sebagai proyek infrastruktur terbesar di negara-negara Barat. Para pejabat Italia juga memandang jembatan ini sebagai urat nadi yang sangat vital bagi pengembangan wilayah selatan Italia, sekaligus menjadi bagian penting dari jaringan transportasi lintas Eropa. Pietro Salini, pimpinan eksekutif Webuild yang menggarap proyek ini, meyakini bahwa konstruksi raksasa tersebut akan membawa perubahan transformatif, membuka lapangan kerja baru, dan menstimulasi pertumbuhan ekonomi.

Desain Ambisius di Bawah Ancaman Alam

Rancangan teknis proyek jembatan Sisilia ini memang luar biasa masif. Dua menara raksasa dengan ketinggian nyaris 400 meter akan menjadi penopang utama kabel-kabel yang menahan dek jembatan. Desain ini memungkinkan beban jalan disalurkan langsung ke tanah tanpa membutuhkan penyangga tambahan di tengah perairan. Dari total bentang jembatan sepanjang 3,5 kilometer, sekitar 3,2 kilometer di antaranya akan sepenuhnya melayang di atas laut.

Pembangunan fasilitas pendukungnya juga tidak main-main. Rencana yang ada mencakup pembuatan enam lajur lalu lintas, dua jalur kereta api, lajur darurat, dua lajur servis, hingga trotoar bagi pejalan kaki. Proyek ini nantinya akan terhubung dengan 40 kilometer jalan dan rel kereta baru, tiga stasiun bawah tanah, sejumlah terowongan, serta 10 viaduk. Bahkan, sekitar 80 persen dari total jalan baru tersebut akan dibangun di bawah tanah.

Kendati mendapat dukungan politik yang kuat, tantangan rekayasa teknis dan kondisi alam menjadi ancaman nyata yang tidak bisa diremehkan. Berbeda dengan Suramadu yang perairannya relatif tenang, Selat Messina tempat jembatan ini akan dibangun adalah wilayah yang sangat bergejolak secara geologis. Perairan ini merupakan titik temu dua patahan aktif yang secara historis menginspirasi mitologi Yunani kuno tentang monster laut Scylla dan Charybdis.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Basin Research pada 2023 membuktikan bahwa kondisi dasar laut di selat tersebut terus berubah. Rebecca Dorsey, salah satu peneliti dalam studi tersebut, menjelaskan bahwa interaksi patahan yang aktif ini menciptakan penyempitan tektonik dan lanskap dinamis yang terus bergeser. Mengingat taruhannya yang sangat besar dan risiko gempa bumi yang terus mengintai, perhitungan analisis risiko seismik pada proyek ambisius ini jelas menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.