Agupena Cabang Lembata Dilantik dan Dikukuhkan Sebagai Pahlawan Literasi

0
313

NTTsatu.com — LEMBATA — Segala sesuatu ada waktunya. Akan ada perputaran musim, dari musim kemarau ke musim penghujan. Demikian juga, dalam organisasi atau institusi, akan terjadi regenerasi kepengurusan atau personalia mencapai purna tugas.

Tentunya, proses regenerasi ini tidak terjadi begitu saja. Jika pergantian musim ada penandanya, maka kepengurusan sebuah organisasi pun ada batas waktunya. Semua berotasi menurut hukum alam dan juga masa waktu yang telah ditetapkan.
Dalam sebuah organisasi, kaderisasi menjadi penting sekaligus mendesak. Kaderasi bisa terjadi dalam proses formal maupun informal.

Di dalam proses itu diperlukan adanya legitimasi agar proses kaderisasi benar-benar legitim dalam menjalankan tugas yang diemban. Legitimasi itu berlangsung dalam sebuah momen pengukuhan dan pelantikan, demikian dikatakan Feldin Rano Kelen, S.Pd selaku Ketua Panitia dalam momen Pengukuhan dan Pelantikan pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (AGUPENA) Cabang Kabupaten Lembata Selasa (10/11/2020) yang bertempat di Aula SMPN 1 Nubatukan-Lewoleba-Lembata-NTT.

Sementara itu, Ketua Agupena Cabang Lembata, terpilih Antonius da Silva, S.Pd, mengawali sambutannya dengan menyajikan sebuah ilustrasi tentang burung biru, burung jalak. Menurutnya, jika kita memerhatikan secara saksama, burung-burung itu bepergian mencari makan dalam jumlah yang besar dan selalu membentuk formasi seperti huruf ”V” seperti panah.

Setelah diteliti ternyata formasi itu bukan sekedar gagah-gagahan dari burung-burung itu, tetapi strategi itu merupakan kekompakan mereka untuk menjaga keseimbangan dan menjaga mereka dari predator/pemangsa, katanya lanjut.

Lebih lanjut Adi mengisahkan, ketika mereka dalam formasi itu ada salah seorang teman mereka kelelahan, maka burung yang lainnya berjalan pelan dan dari belakang akan memapah dia untuk kembali ke formasi yang sesungguhnya. Bahkan ketika burung yang berada paling depan, sebagai ujung tombak kecapaian, dia akan mundur ke belakang dan teman-teman yang lainnya akan menggantikannya di posisi paling depan.

Guru milenial pengampuh mata pelajaran Bahasa Inggris di SPENSAFOUR ini menegaskan, tugas sebagai ketua tidaklah ringan. Butuh berkorban waktu, tenaga bahkan finansial. Realita yang digambarkan oleh burung-burung dalam ilustrasi sebelumnya menurutnya adalah juga realita pegurus Agupena Cabang Lembata.

“Saya yakin dan percaya, cepat atau lambat, kita akan kecapaian dan sebagai pemimpin, saya akan lebih dahulu kelelahan. Saya berharap, bersama teman-teman yang dilantik, kita bersama menuju kesuksesan itu walaupun tertati-tati. Tetapi kita dalam formasi tadi, membentuk formasi huruf “V” supaya bisa saling mengisi, bertanggung jawab dan tidak saling menghalangi. Kita mestinya berjuang dalam militansi dan soliditas, agar nantinya kita pantas menjadi pemenang dan layak dijuluki pahlawan literasi” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Rahman Firdaus, M.Pd, Ketua Demisioner Agupena Cabang Lembata mengatakan, kreatif merupakan cara bagaimana mengeksekusi sebuah ide. Ia mengucapkan proficiat dan selamat kepada teman-teman yang terpilih dan dilantik sebagai pengurus periode 2020-2023. Guru menurutnya, bukan sekedar apa yang sedang diajarkan, tetapi guru adalah bagaimana mengajar. Ia menegaskan, eksistensi Agupena tentunya akan menjawab apapun yang menjadi kebutuhan guru.

“Kita tidak sekedar berfokus pada apa yang kita ajar tetapi bagaimana kita mengajar dan mewujudnyatakan dalam sebuah karya tulis entah ilmiah, non ilmiah, nahan bacaan dan lain sebagainya,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, ada banyak hal yang belum dijalankan sampai tuntas.  Menurutnya, semua itu telah disampaikannya secara pribadi empat mata dengan Ketua Agupena terpilih dengan pesan agar beberapa hal yang belum sempat ditunaikannya, kepengurusan baru boleh melanjutkan apa yang menjadi harapannya ke depan.

“Hal positif dilanjutkan. Sebaliknya jikalau ada hal yang kurang atau belum memberi kontribusi masksimal, kita benahi bersama,” ujarnya.

Pembina sekaligus pemred Jurnal Asa Guru Agupena Lembata ini pun membeberkan, alasan pemilihan tanggal 10 November 2020 sebagai momen yang tepat pelantikan dan pengukuhan.

Ia mengemukakan dua alasan. Pertama, Agupena Cabang Lembata diharapkan sebagai pahlawan literasi di kabupaten Lembata. Agupena Cabang Lembata harus menjadi ujung tombak dalam setiap rangkaian literasi.

Kedua, Agupena Cabang Lembata, tidak hanya mengarahkan program-programnya pada hal-hal yang sifatnya ilmiah atau spesifik keguruan, tetapi mesti mengembangkan sayapnya pada hal-hal yang berkaitan dengan sosial kemasyarakatan seperti yang tertuang dalam empat kompetensi.

Akhirya, ia berpesan agar setiap guru mesti mengeksekusi diri menjadi inspirasi dan menjadikan rekan guru lain menjadi inspirasi bagi orang lain.

Thomas Akaraya Sogen, S.Pd., MBA, selaku Ketua Agupena Wilayah NTT, yang hadir melantik pengurus Agupena terpilih Cabang Lembata periode 2020-2023 mengatakan, pemilihan tanggal 10 November 2020 sebagai hari pelantikan dilandasi oleh alasan bahwa secara nasional seluruh rakyat Indonesia merayakan hari pahlawan. Dan menurutnya, dari aspek literasi Agupena dipandang telah menjadi pahlawan di bidang literasi.

“Oleh karena itu, jika ada anggota Agupena yang dipandang tidak giat berliterasi, saya minta dengan hormat, pamit baik-baik dari Agupena. Karena yang ada di Agupena, semuanya harus berusaha menjadi pahlawan. Tidak ada alasan untuk kepentingan lain di luar itu,” ujarnya tegas.

Di momen special pelantikan menurutnya, pengurus periode ini mesti berefleksi, agar dalam perjalanan kalau mengalami hambatan, maka merefleksilah dengan bertolak ke tempat yang lebih dalam sebab tugas pengurus adalah mengemban amanah berliterasi sepanjang berada dalam wadah organisasi ini (Agupena-red).
Agupena Cabang Lembata, menurutnya sejak awal sudah berkiprah begitu baik.

“Memang, masih ada cabang lain yang jauh lebih aktif, jauh menunjukkan eksistensinya. Tetapi, Agupena Lembata menjadi salah satu cabang yang dinilai cukup baik, sebab ada banyak cabang yang sampai dengan saat ini, hanya sekedar papan nama. Setelah menerima SK kepengurusan, tidak buat apa-apa,” ujarnya prihatin.

Menurutnya, ada beberapa cabang yang mati sungguhan. Tidak berbuat apa-apa. “Ada cabang yang hanya papan nama. Kalau hanya seperti itu sebaiknya saya bekukan,” ujarnya tegas.

Ia juga menegaskan, mudah-mudahan Agupena Cabang Lembata, lebih menunjukkan eksistensinya. Tidak cuma memprotes praktik kepenulisan di luar Agupena yang tidak sesuai praktik keguruan.

“Silahkan di luar sana terjadi praktek bisnis kepenulisan, tugas kita adalah meluruskan. Bertindak sesuai dengan aturan yang ada. Kalau dia mau berbisnis, silahkan. Supaya kita tidak dianggap menghalangi bisnis orang. Tidak baik bagi saya. Kita bersaing secara sehat dalam konteks yang benar,” ungkapnya.

Menghadapi sedikit kemelut di Lembata, ia tetap pada prinsip. Silahkan yang melakukan praktek di luar sana yang bertentangan dengan aturan. Silahkan. Kita organisasi profesi, bukan organisasi nirlaba, bisnis dan sejenisnya. “Tugas kita adalah menjalankan amanah di bidang tulis-menulis sesuai dengan apa yang diisayaratkan dalam aturan,” katanya.

Lebih lanjut katanya, kegiatan bimbingan PTS, PTK di tingkat kecamatan, sepanjang ada dasar hukum, silahkan. Tugas kita adalah melakukan bimbingan tidak benar, maka saat kita protes harus mengikuti aturan.

“Kita tidak melakukan proses bisnis, kita melakukan profesionalisme kita sebagai organisasi yang bergerak di bidang tulis menulis,” tegasnya.

Soal pemuatan di jurnal, menurutnya, merupakan kewajiban Tim Redaksi. “Tulisan merupakan tanggung jawab pemulis, bukan tanggung jawab penerbit. Misalnya, ada plagiasi, itu tanggung jawab penulis. Tugas kita adalah meneliti kebenaran, sesuai dengan kaidah kepenulisan atau tidak,” ungkapnya.

Ia mengatakan, jika ada guru yang mau memasukan artikel di jurnal Asa Guru, maka diteliti sesuai kaidah kepenulisan. Selain itu, Agupena wajib mengedukasi guru, dengan bertindak secara baik menurut aturan.

“Jangan lupa melibatkan teman-teman guru SD, SMP dan SMA/SMK/MA. Lakukan konsolidasi juga bangun komunikasi dengan teman-teman guru di semua tingkatan. Sehigga organisasi ini menjadi mendunia. Perlu juga koordinator ranting di tingkat kecamatan, sehingga kegiatan ditangani teman-teman di sana,” harapnya.

Ia mengingatkan, jangan sampai menjadi pengurus Agupena, lalu pekerjaan sebagai guru terbengkelai. “Agupena Cabang Lembata perlu berbangga sebagai satu-satunya cabang di Indonesia yang punya jurnal cetak,” katanya.

Menurutnya, yang harus dipertimbangkan ke depan adalah jangan hanya melibatkan guru-guru Lembata di Asa Guru, karena itu menurunkan nilai. Dalam aturan penilaian, jurnal yang hanya memuat naskah dari kabupaten Lembata hanya manjadi kategori jurnal kabupaten/kota dengan angka kredit 1 (satu). Sedangkan, provinsi dua angka kredit dan nasional 3 angka kredit.

“Saya senang, kalau semua cabang punya jurnal,” katanya. Ia menegaskan, semoga di Lembata, tidak terjadi guru yang ke golongan VI/a tidak membuat PTK. Oleh karena itu, lanjutnya, naskah-naskah bisa saling berbagi antara wilayah dan kabupaten untuk meningkatkan tingkatan jurnal.

Di akhir sambutannya, ia mengatakan, organisasi itu ada dan memberi manfaat bagi anggota bukan hanya untuk pengurusnya. Lanjutnya, memang pengurus juga anggota tetapi orientasi harus ke semua anggota. Ia tegas mengingatkan, jangan sampai Agupena jalan tanpa program. Rapat kerja, menurutnya, perlu dibuat setiap tahun untuk mengevaluasi seluruh proses selam setahun berjalan.

“Mudah-mudahan di tangan pak Adi da Silva juga badan pengurus yang didominasi oleh guru-guru milenial, Agupena Lembata, berkiprah lebih jauh. Kalau tidak ada kegiatan, renungkan sembari berjalan ke laut yang lebih dalam. Pak Adi dan kawan-kawan melanjutkan yang sudah ada. Tingkatkan terus, agar teman-teman guru merasakan kehadiran Agupena di Lembata,” ujarnya menutup pembicaraanya.

Sementara itu, Kadis Lembata melalui Aloysius Gesuk, S.Pd. SD, Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan Dinas PKO Kabupaten Lembata, mengucapkan terima kasih kepada pengurus sebelumnya yang telah berusaha membawa citra Lembata, sebagai organisasi profesi yang mendongkrak kompetensi guru sehingga benar-benar profesional dari segi tulis-menulis.

Menurut Alo Gesuk, bukan hanya sekedar omong di depan kelas tetapi mesti bisa membahasakan atau menuliskan idenya. Maka menurutnya, ide boleh ada tetapi jika tidak tertuang, itu omong kosong.

“Bahasa lisan mudah dilupakan, tetapi bahasa tulis akan tetap bertahan sampai kapan pun. Sebuah dokumen akan tetap ada dan menceritakan kepada generasi berikutnya tentang apa yang dilakukan,” ungkapnya.

Alo Gesuk berharap, ketua terpilih dan jajaran pengurusnya mesti serius melanjutkan tugas keprofesian di Agupena. “Guru tidak menunjukkan eksistensi sebagai guru atau meningkatkan empat kompetensi guru, kalau dirinya tidak menuangkan ide dan gagasan untuk menunjang kompetensi-kompetensi tersebut bertumbuh dan berkembang,” ungkapnya.

Tugas pengurus menurutnya, hendaknya betul-betul menjadikan organisasi ini sebagai terminal, tempat menampung ide dan gagasan untuk dibuat dalam tulisan-tulisan.

“Pengurus Agupena Periode 2020-2023 didominasi oleh guru-guru yang masih muda, energik, maka tampilkan hal-hal yang baik dan tunjukkan hal-hal yang nyata,” katanya.

Mengutip Mangunwijaya, Alo Gesuk mengatakan dua hal. Pertama, pentingnya ikut ambil bagian dalam kebersamaan di mana banyak orang berpendidikan berkumpul. Kedua, membiasakan diri dengan membaca.

“Organisasi Agupena tugasnya mengumpulkan orang yang berlatarbelakang profesi guru. Maka, di tengah dunia yang mengidolakan individualitas, teman-teman masih mau berkumpul untuk saling memajukan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, bagaimana mungkin orang mau membaca, jika tidak ada tulisan yang tersedia. Bagamana orang mampu menuangkan ide, tetapi tidak ditulis dan disebarkan kepada teman yang lain, agar rekan yang kita ajak, juga mampu seperti para guru hebat. “Teman-teman di organisasi dan kami di pemerintahan adalah mitra yang memikirkan dan membangun Lembata dengan cara masing-masing. Ada sesuatu yang dipersembahkan kepada Lembata melalui organisasi profesi ini,” ungkapnya.

Pewarta: Albertus Muda

Komentar ANDA?