Lembata, Salah dari Awal: Audiensi Yayasan Koker dan Sulaiman Hamzah

0
1236

NTTSATU.COM — JAKARTA — “Saat memperjuangkan otonomi Lembata, kami dan kita semua yang terlibat membayangkan agar Lembata menjadi lebih maju setelah terpisah dari Flotim. Tetapi setelah 23 tahun otonomi, kita harus akui bahwa hanya bupati Pieter B Keraf yang meletakkan dasar untuk Lembata,” demikian ungkap Sulaiman Hamzah.

Anggota DPR RI Dapil Papua yang meraih Top Legislator Award 2022 mengatakan dasar yang dimaksud adalah pendidikan dan Rumah Sakit. Pendidikan perlu dikelola dengan baik sehingga dari sana terlahir putera dan puteri daerah yang bisa mengembangkan daerahnya.

Itu berarti secara mental mereka perlu cerdas tetapi juga tulus. Kalau pendidikan dikembangkan dengan baik maka SDM berkualitas seperti itu akan menjadi dasar bagi pembangunan Lembata. Yang terjadi banyak orang pintar tetapi tidak memiliki ketulusan dan kejujuran. Akibatnya kita melewati 20an tahun tanpa perubahan yang berarti.

Selain itu, kesehatan fisik menjadi sangat penting. Hal itu ditandai dengan kehadiran Rumah Sakit yang dikelola secara profesional dengan pelayanan yang baik terhadap masyarakat. Yang terjadi masyarakat kita harus pergi ke Kupang melewati perjalanan 15 jam KM Ferry hanya untuk berobat. Dasar inilah yang harus dibangun oleh pemimpin ke depan.

Bagi Sulaiman, kondisi Lembata yang sekarang terjadi itu karena salah dari awal. Penerima Doktor Honoris Causa dari American Institute of Management Studies (2000) itu dengan jelas mengatakan ia paut beri acungan jempol pada Piter B Keraf penjabat bupati yang memberikan dasar yang baik. Sayangnya gebrakannya tidak diikuti oleh pemimpin-pemimpin sesudahnya dan sejak itulah kondisi Lembata menjadi seperti sekarang.

Mendukung Kehadiran Perguruan Tinggi

Mendengar pemaparan Paulus Doni Ruing yang adalah pengawas Yayasan Koker Niko Beeker tentang rencana kehadiran Perguruan Tinggi di Lembata yang rencanakan akan dimulai tahun 2023, Sulaiman Hamzah sangat mendukung. “Meski saya tidak masuk dalam pengurus tetapi karena bekerja demi Lembata saya siap membantu”, demikian ungkapnya.

Anggota DPR periode 2014-2019, dan 2019-2024 ini mengatakan bahwa Perguruan Tinggi perlu dikelola dengan baik sehingga menghasilkan pribadi yang cerdas tetapi juga tulus dan tetap peduli akan kampung halamannya. Baginya, kalau seseorang dididik dengan baik, meski ia sudah pergi jauh tetapi ia akan terus mengingat daerah asalnya. Hal itulah selalu ia ingatkan kepada siapapun orang Lembata yang ia jumpai di luar Lembata agar selalu ikut terlibat membangun lembatata. Meski secara politik ia mewakili Papua tetapi apapun yang terjadi di Lembata ia selalu ingin ambil bagian, demikian ungkap lulusan SD Don Bosco dan SMP Ampera Ile Ape.

Terkait pendirian Perguruan Tinggi Lembata, Sulaiman akui bahwa semau harus bekerjasama, apalagi untuk membangun Perguruan Tinggi dibutuhkan dana yang besar. Hal itu dikatakan menanggapi informasi dari Dr Damianus Dai Koban tentang tuntutan biaya per Prodi yang didirikan sekitar Rp 3,5 miliar, Sulaiman mengatakan bahwa dengan kerjasama bisa tercapai. Ia tidak berjanji tetapi akan membantu menyambungkan Yayasan Koker dengan lembaga yang diharapkan dapat membantu termasuk ke PT Free Port dan perusahaan atau badan lainnya.

Terhadap hal itu, Hamzah yang juga Ketua Bidang Pertanian, Peternakan dan Kemandirian Desa DPP Partai NasDem mengharapkan agar Yayasan Koker Niko Beeker harus profesional dan jujur dan menerapkan manajemen yang profesional. “Kalau kerja dengan jujur maka akan terus dipercaya. Sebaliknya kalau tidak jujur maka tidak dipercaya dan selamanya tidak akan dipercaya lagi”, demikian tandasnya.

Pertemuan pada hari Senin 14 Maret 2022, dan berlangsung selama hampir 2 jam di gedung DPR RI, Jakarta itu berlangsung dalam suasana yang akrab. Niko Hukulima, Sekjen Yayasan Koker mengungkapkan kekagumannya pada figur pak Sulaiman Hamzan: “Karena kita hidup di antara mayoritas orang Katolik dan terbiasa dengan tampang para pastor, biarawan-biarawati, maka orang berpikir bahwa Pak Sulaiman ini pastor Katolik. Orang tidak tahu bahwa ia justru seorang mulim”, demikian Niko yang juga pegiat Koperasi Kredit.

Hal senada diungkapkan oleh Agustinus Gereda Tukan. Dosen dari Universitas Musamus Merauke mengatakan bahwa ia dan banyak orang Flobamora di Papua sangat kagum dan respek. Sejak tahun 2013, pak Sulaiman menjadi Ketua Flobamora dan kami masih terus berharap agar beliau tetapi menjadi orang tua bagi orang Flobamora di Papua.

Wilem Lojor sebagai pendiri Yayasan Koker berulang kali mengucapkan limpah terimakasih atas kesediaan ‘bapak Orang Papua” yang tidak lupa akan kampung halamannya. Baginya, Pak Sulaiman yang sudah dikenal 20 puluh tahun lebih, tidak pernah berubah. Ia tetap sederhana, bijaksana, dan menjadi seorang bapa yang tidak membeda-bedakan orang. Terimakasih Pak Sulaiman.  (team humas koker)

Komentar ANDA?