Berbahagialah Kalian yang Bersemangat Miskin

0
184

Oleh: Rm Ambros Ladjar, Pr

Hari Minggu Biasa ke IV, 29 Januari 2023.
Bacaan. Zefanya 2: 3, 3: 12-13 dan 1Kor 1: 26-31 dan Injil  Mt 5: 1-12.

Kata orang Latin: *Nemo dat quod non habet. Tak seorang pun dapat memberi apa yang tidak dimilikinya*. Kitapun tak mampu membagikan rasa bahagia sekiranya kita sendiri tak pernah mengalami apa arti kebahagiaan itu sendiri. Seandainya bahwa hal itu bisa akan tetapi sudah pasti cumalah suatu kebahagiaan semu belaka.

Dalam Sabda Bahagia hari ini, Yesus menantang kita semua guna menghayati suatu corak kehidupan Ilahi selama masih ada di dunia. Tujuannya agar orang tak lupa hanya karena sibuk mengejar kebahagiaan lahiriah belaka; melainkan juga agar tetap berorientasi kepada kebahagiaan surgawi. Hal ini tak boleh diabaikan tapi harus tetap menjadi sebuah gerakan hidup yang mengarah kepada masa depan. Sebab status semua kita manusia yang bergerak di atas dunia ini tidak abadi.

Nabi Zefanya melihat fakta bahwa tanah Yudea sungguh dihina dan ditaklukan orang Asiria. Hal ini justru bermula dari sikap kesombongan bangsa Israel itu sendiri. Syukur jika masih ada ‘Sisa kecil’ orang yang setia dan percaya kepada kekuatan Allah. Mereka inilah yang tetap bertahan menantikan kebahagiaan sejati dari Allah. Pada saatnya akan ada sukacita jika mereka berlaku rendah hati. Sebaliknya jika tetap sombong maka sudah pasti mereka akan binasa.

Yesus adalah Kabar Sukacita Allah yang menghadirkan Kerajaan Allah itu. Suasana yang didambakan kaum miskin papa dan tertindas. Selain itu mereka yang berlaku rendah hati dan tetap berharap pada kemurahan Allah. Yesus tekankan aspek ini sesuai perjuangan hidup orang sezaman-Nya. Ada beberapa usaha se kelompok orang guna mencapai kebahagiaan di dunia saat ini dan kelak. *Pertama*, yang dikatakan berbahagia adalah mereka yang bersemangat hidup dalam Roh. Mereka secara total mempercayakan diri kepada kehendak Allah. Allah menjadi andalan di saat suka maupun duka. Mereka miskin secara materi tapi teguh beriman, senantiasa haus & lapar akan kebenaran.

*Kedua*, yang berbahagia adalah orang yang memiliki kepedulian. Karena hidup jujur, belas kasih, merekalah pembawa damai maka rela menderita demi kebenaran dan keadilan. Banyak orang berusaha melakukan hal seperti ini namun terkadang dilihat dengan sebelah mata. Padahal segala usaha yang menuntut pengorbanan yang besar dilakukan secara tulus. *Ketiga*, orang yang berbahagia adalah mereka yang tetap setia bertekun. Opsi mereka adalah pribadi Allah yang benar, bukan kuasa dunia dan materi yang menjadi tuntutan perjuangan hidup. Biarpun dibelokan orang lain sampai disiksa dan dianiaya, Iman kepada Kristus tetap eksis, teguh dan tak tergantikan.

Hari ini kita semua diajak agar bijaksana menempatkan diri sebagai pengikut Kristus. Sebab setiap pengajaran Yesus itu sesungguhnya sarat dengan berbagai tuntutan yang tak pernah kita duga sebelumnya. Terkadang tuntutan Yesus itu terasa begitu radikal dan terkesan sangat kontradiktif dengan harapan dan pikiran kita manusia, padahal Tuhan tak mau menyusahkan kita. DIA menginginkan kita menjadi pribadi yang tetap taat dan setia bertekun. Apakah ada rasa bahagia dan bersukacita saya mengikuti Yesus?

*Salam Seroja, Sehat Rohani Jasmani* di Hari Minggu buat semuanya. Tetap taat menjalankan Prokes. Jika ADA, Bersyukurlah. Jika TAK ADA, BerDOALAH. Jikalau BELUM ada, BerUSAHALAH. Jikalau masih KURANG Ber- SABARLAH. Jika LEBIH maka BerBAGILAH. Jika CUKUP, berSUKACITALAH. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga anda dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita yang melingkupi hidupmu… Amin🙏🙏🙏🌹🌹✝️🪷🪷🤝🤝🎁🛍️💰🍇🍇🇮🇩🇮🇩

Pastor Paroki Katedral Kupang

Komentar ANDA?