NASDEM…. NASDEM…. (Setelah Pengumuman Anis Baswedan Capres)

0
835

Oleh: Robert Bala 

Pengumuman Anis Baswedan (AB) menjadi calon presiden Nasdem cukup mengejutkan. Meski diumumkan di tengah tragedi Kanjuruhan, tetapi tetap menarik perhatian. Mungkin saja karena para pendukung AB yang banyak sehingga mereka berseru gembira. Tetapi bukan tak mungkin dari pihak netral yang terkejut atas begitu cepatnya Nasdem mengumumkan seorang calon yang bukan dari rahimnya sendiri.

Yang jadi pertanyaan menggoda: apakah keputusan Nasdem ini menguntungkan ataukah sebaliknya menjungkirbalikan Nasdem yang dalam 2 pileg terakhir mengalami kenaikan dari 6% (2014) dan 9% (2019)? Apakah ini pratanda kegembiraan yang menghadirkan tepuk tangan ataukah sebaliknya orang seakan mendesah penuh sesal: Nasdem…. Nasdem….

Sekadar Agen?

Tanpa terlalu tertuju pada fungsi parpol, tetapi umumnya orang paham bahwa parpol berfungsi sebagai sarana pendidikan politik . Juga partai politik ada demi menciptakan iklim yang kondisi bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam arti ini, harusnya bertumbuh kesan bahwa parpol di negeri ini harusnya seperti Nasdem. Ia tidak fanatik untuk harus memajukan kadernya. Bila ada ‘yang lain yang lebih baik’, mengapa tidak dipilih.

Sampai di sini bisa dipahami. Tetapi bila merujuk pada fungsi lain dari parpol adalah untuk rekrutmen politik untuk pengisian pejabat publik, maka apa yang dilakukan Nasdem secara kedalam untuk membentuk kadernya? Apakah mereka sungguh disiapkan menjadi calon pimpinan ke depannya atau sekadar sebagai agen (hampir-hampir mau samakan dengan calo) untuk merekrut calon lain di luar partainya?

Artinya, sebelum melirik ke luar, semestinya membentuk kader secara ke dalam. Apalagi waktu yang masih lama (2 tahun) bagi parpol untuk membentuk kadernya. Atau kalaupun harus mengantar kader sendiri, inilah waktu terbaik untuk ‘uji publik’. Meski kemudian terpental, tetapi minimal ada anak sendiri yang dipromosikan.

Dalam arti ini kita mengerti mengapa Gerindra tetap kekeh dengan Prabowo. PKB sudah mengusung Muhaimin Iskandar, meski hanya sebagai Wapres, hal yang sama dengan AHY dari Demokrat yang digadang-gadang bakal mendampingi AB. PDIP meski terkesan dipaksa-paksakan tetapi telah mengajukan Puan Maharani (dan Cak Imin) melalui diplomasi Pecel. Artinya hal ini menjadi begitu terbuka bagi partai untuk mengantar kadernya dalam diplomasi membuat orang minimal penasaran.

Lalu apa yang diperoleh Nasdem kali ini? Mengikuti tanggapan publik melalui media massa, maka ada dua reaksi. Di satu pihak, bagi yang sudah menyanjung AB, tanggapan lebih ke arah syukur: “Akhirnya orang yang selalu dijegal (kata mereka) akhirnya diangkat malah diumumkan menjadi capres”. Agak sedikit (hampir tidak ada) dari kelompok yang sudah mencintai AB mengungkapkan syukur pada Nasdem sebagai pengusung.

Hal itu berbeda dari yang sudah sangat mencintai Nasdem. Cukup dominan komentar bernada sesal. Politik identias selama Pilgub DKI, kinerja AB di Jakarta, dan sederetan lain bukti (yang katanya fakta) diajukan sebagai pendukung rasa sesal. Singkatnya, pengumuman itu membuat orang hanya berucap “Nasdem….. Nasdem….”.

Kuatkan Akar

Orang di luar parpol (seperti saya) sebenarnya tidak perlu ‘sok tahu’ tentang rahasia dapur Nasdem. Semua keputusan tentu telah dihitung secara sangat matang, termasuk dampak terburuk yang bakal terjadi.

Kalau boleh berpendapat, Nasdem memiliki kebebasan dan kewenangan untuk menetapkan capresnya. Tetapi ada beberapa hal berikut yang mungkin saja perlu diperhitungkan.

Pertama, adalah fakta bahwa dalam dua pileg terakhir, Nasdem mengalami kenaikan yang signifikan. Di 2014, Nasdem mencapai 6,72%. Sebuah perolehan yang cukup fantastis. Keberhasilan diraik kembali 2019 dengan mencapai 9,05. Lalu apakah itu juga berarti ke tahun ketiga akan menanjak ke belasan persen? Kita berharap demikian. Tetapi kenaiakn 2x tidak serta merta menjadi alasan untuk menyimpulkan bahwa ada kenaikan lagi di 2024. Ia terbuka untuk mengatakan sebaliknya (hal mana tentu tidak diinginkan Nasdem). Tetapi peluang itu menjadi sangat terbuka. Keputusan yang terlalu cepat (bukan gegabah tentunya) bisa menjadi kontraproduktif bagi Nasdem.

Kedua, kenaikan signifikan yang sudah terjadi, apakah melalui penggemblenengan kader sehingga menjadi militant? Apakah pemimpin-pemimpin itu lahir dari rahimnya sendiri ataukah hasil ‘lirikan’ kader tetangga? Kata orang, biasanya rumput tetangga lebih hijau dan mungkin dalam hal ini bisa dibenarkan untuk Nasdem. Selama pilkada yang diikuti, terutama 2019, cukup banyak pesohor yang digandeng dan ternyata mendapatkan hasil yang positif. Bahkan kader dari partai lain terpesona dengan ‘parpol (yang katanya) tanpa mahar’ itu.

Memang dari figur yang pindah ke Nasdem juga ada yang tidak lolos. Lihat saja Okky Asokawati dari PPP ke NasDem yang gagal. Juga Krisna Murti dari PKB yang gagal. Tetapi banyak pesohor yang sukses saat berpindah ke Nasdem. Venna Melinda, Fauzi Amro, Roberth Rouw yang sukses dari Nasdem. Di NTT, Raimundus Fernandez yang sangat populer, dengan segera ‘diNasdemkan’ dan langsung membirukan TTU jadi Nasdem.

Itu berarti sebenarnya dasar Nasdem belum terlalu kuat. Bisa dipahami, sebagai parpol, Nasdem baru berumur 10 tahun. Kita tentu mengharapkan agar Nasdem bisa lebih kokoh ke depan, hal mana harus dimulai dengan lebih memperkuat akarnya. Sebaliknya kita tidak mau agar suara sesal yang diungkapkan spontan kini: “Nasdem….. Nasdem……” kembali terungkap di Pileg 2024 dan Pilpres nanti. ***

=======

Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

Komentar ANDA?