Bunker Jepang Rane di Mbay Jadi Salah Satu Destinasi Wisata Baru di NTT

0
545
Foto: Beberapa wisatawan lokal sedang berada di lorong masuk bunker Rane

NTTsatu.com – MBAY – Bunker Jepang Rane yang terletak di Desa Aeramo. Kecamatan Aesesa tidak begitu jauh dari jantung kota Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo, provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT).

Dari sebuah bukit  pengunjung bisa melihat Bunker Rane yang adalah tempat persumbunyian penjajah Jepang di kota Mbay dengan bentangan dataran persawahan yang dijuluki Surabaya kedua di bumi Nusa Bunga, sebutan untuk pulau Flores.

“Gua  Jepang Rane atau lebih tepat Bunker Jepang Rane adalah satu dari 13 bunker warisan penjajah Jepang sekitar 1942-1945 yang ada di dataran Mbay ibu kota Kabupaten Nagekeo” kata Silvester Teda Sada Sekertaris Dinas Pariwisata kabupaten Nagekeo kepada NTTsatu.com, Rabu 4 Oktober 2017.

Bunker tersebut terletak di kaki bukit Rane, sebuah  bukit indah diselimuti padang bebatuan dan pasir ditambah beberapa pohon rindang tumbuh di lereng bukit  seakan-akan tidak ada dalam benak pengunjung bahwa ada sebuah bunker panjang kurang lebih belasan meter di dalam bukit nan eksotik tersebut.

Bunker Rane kini mulai  ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Kenyataan seperti inilah maka Bunker Rane ini sudah menjadi salah satu destiniasi wisata di Kabupaten  Nagekeo khususnya  dan provinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya.

Silvester, sekertaris Dinas Pariwisata Nagekeo menjelaskan, di bunker Jepang tersebut terdapat  pintu masuk, kemudian ada lorong dengan panjang sekitar 12 meter dan ada pintu keluar dari bunker tersebut.

“Di tempat yang sama, juga terdapat dua buah bunker yang menjadi bunker pengintai dengan kedalaman gua sekitar 3 meter,” katanya.

Dia menjelaskan saat ini kondisi bunker Rane cukup terawat baik, sudah dipagari dan menjadi situs sejarah aset pemerintah daerah ( Pemda)  dan dikelola dinas pendidikan dan kebudayaan Nagekeo.

Ditambakanya, pengunjung terus meningkat pasca penataan, terutama dari kalangan pelajar yang ingin mendalami pengetahuanya tentang tempat bersejarah peninggalan kolonial Jepang di Mbay.

“Tahun 2016 pengunjung mencapai  sekitar 1000 orang, dan pada tahun 2017 terus meningkat. Diperkirakan sampai pada akhir 2017 sekitar 1500-1700 orang,” pungkas Silvester.

Silvester juga mengakui, pemerintah daerah Nagakeo memberikan perhatian serius pada penataan obyek-obyek wisata di daerah ini yang dipreediksikan akan memberikan dampak positip bagi daerah ini. (mus)

Komentar ANDA?