Gubernur NTT Siap Batasi Jumlah Pekerja dari Luar

0
515
Foto: Gubernur NTT ketika memberikan keterangan kepada wartawan

NTTsatu.com – KUPANG – Untuk memberikan peluang lapangan kerja bagi para pencari kerja di Nusa Tenggara Timur, Gubernur Viktor Laiskodat berniat membatasi jumlah pekerja dari luar daerah yang direkrut oleh perusahaan yang beroperasi di daerah itu. Jika kebijakan ini tidak dipenuhi dia akan langsung mencabut izin usaha perusahan tersebut.

“Kami akan batasi pekerja dari luar daerah NTT…Kami ingin agar perusahaan yang beroperasi di sini (NTT) merekrut pekerja-pekerja lokal sehingga bisa mempekerjakan para pencari kerja di daerah ini,” katanya kepada wartawan di Kupang, Kamis, 17 Januari 2019.

Dia menegaskan, kebijakan pembatasan jumlah pekerja tersebut, berlaku bagi seluruh perusahaan baik swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN)  maupun Penanaman Modal Asing (PMA) yang beroperasi di NTT, termasuk juga hotel-hotel berbintang yang ada di daerah ini.

Ia mengatakan kebijakan pembatasan jumlah pekerja dari luar itu dengan perbandingan 60 : 40 artinya, 60 persen diprioritaskan untuk pekerja lokal NTT dan 40 persen sisanya untuk pekerja dari luar NTT.

Gubernur Laiskodat menegaskan ia tidak akan segan-segan mencabut izin usaha bagi perusahaan yang tidak mengindahkan kebijakan tersebut.
“Jika tidak ada perusahaan yang mengindahkan kebijakan tersebut dan melanggarnya, maka saya tidak akan segan-segan untuk mencabut izin usahanya,” katanya menegaskan.

Gubernur NTT mengisahkan salah satu pemilik hotel di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Pulau Flores menolak kebijakan tersebut, dengan alasan karena para pekerja lokal NTT belum terampil dan profesional.

“Kalau itu masalahnya bahwa pekerja lokal NTT belum terampil dan profesional, saya akan minta manajemen hotel untuk memberikan pelatihan kepada para pekerja lokal agar bisa terampil dan profesional,” tegasnya.
Gubernur Laiskodat mengakui bahwa sampai sejauh ini belum ada pengusaha yang serius dalam melatih para pekerja lokal dari NTT.

Ia mencontohkan para koki yang bekerja di restoran, umumnya tenaga kerja dari luar NTT, seperti halnya dengan pekerja bangunan, lebih banyak dari luar NTT.

“Hal seperti ini yang perlu kita benahi. Dan saya serius akan menanggani masalah ini, agar anak-anak NTT juga menjadi pelayan di daerahnya sendiri,” pungasknya. (antara/bp)

Komentar ANDA?