Jadikan Petani Pemilik Teknologi

0
92
Foto: Gubernur NTT, Frans Lebu Raya foto bersama tim FAO Representatif of Indonesia

UPANG. NTTsatu.com – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki  daerah yang terbilang sangat kering, karena itu teknologi pertanian harus terus dikembangkan, agar hasil pangan dapat memberikan manfaat yang diinginkan. Teknologi pertanian itu harus menjadi milik petani.

“Saya berharap, berbagai macam teknologi pertanian yang dibagikan, mulai dari  kelompok sampai kepada individu bisa memudahkan para petani dalam mengolah lahan dan meningkatkan produksi pertaniannya. Teknologi yang sudah diciptakan, mestinya menjadi milik petani, mereka tidak boleh sekedar menjadi pengguna saja,” kata Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, saat menerima kunjungan FAO Representative of Indonesia di ruang kerjanya, Jumat (23/9).

Dikatakannya, apabila teknologi telah menjadi milik petani maka semua pihak akan merasa lebih aman. Selain itu, mereka sendiri pasti akan lebih termotivasi untuk menciptakan hasil produksi pertanian yang memuaskan, menciptakan ketersediaan pangan yang akan tetap ada dan tidak merusak lahan. Varietas baru, bisa mereka kembangkan sendiri, lahan pun tetap subur.

“Memang,  proses edukasi ini membutuhkan waktu yang lama. Akan tetapi, kita membutuhkan itu, itulah proses. Kita merasa puas, ketika masyarakat tani sudah memiliki teknologi, yang mampu mereka kembangkan sendiri, membantu mereka dalam mengolah lahan garapannya. Dengan demikian, peran para penyuluh pertanian  menjadi sangat penting” lanjut  Frans Lebu Raya.

Gubernur mengakui, pemerintah provinsi NTT masih membutuhakan dukungan dari FAO Representative of Indonesia. “Kami menginginkan NTT terus maju. Kalau petani maju, NTT pasti lebih maju lagi. Oleh karena itu, kita harus bersama-sama memberdayakan para petani, dengan memanfaatkan teknologi yang semakin pesat berkembangan. Saya berharap, pertemuan ini dapat berlanjut,” pintanya.

Dia juga berharap, FAO Representative of Indonesia – RDTL dapat menempatkan orang-orang pada kabupaten yang tepat, agar semua orang yang mau belajar, tidak mengalami kendala untuk berkunjung dan belajar. 6.000 orang yang telah dibina, agar juga dapat menularkan  keterampilan mereka kepada sesamanya.

Mr. Mark Smulder, Kepala Perwakilan FAO Indonesia-RDTL  mengatakan bahwa tujuan kunjungan ini adalah untuk menyampaikan kehadiran dan kesiapan FAO Representative, dalam mendukung program Pemerintah.

“Kami melihat, para petani sangat membutuhkan pendampingan, baik yang berada di NTT maupun di NTB. Sudah hampir 5 Tahun FAO Representative Indonesia –RDTL berkiprah di NTT. Kehadiran kami di NTT telah mendapat respon yang menggembirakan. Masyarakat menilai kehadiran kami sangat membantu mereka, terutama dengan fasilitas dan alat-alat teknologi yang kami kenalkan,”  ungkap Mark.

Dia berharap, kedepannya bisa terjalin kerja sama yang lebih intensif. Mereka juga mengharapkan dukungan pemerintah daerah untuk mengambil peran lebih banyak.

“Kondisi iklim di NTT, khususnya terkait Elnino yang hebat, memang berpotensi memberikan dampak signifikan bagi hasil produksi. Akan tetapi, produksi pangan di TTU misalnya, tidak mengecewakan. Saya baru tahu, kalau di TTU itu hasil pangannya menggembirakan,  dengan menggunakan teknik tanam olah lobang. Teknik penanaman tersebut tidak menggunakan  pupuk kimia, mereka menggunakan pupuk organic,” kata Ambrosius Kodo, Kasubid Produksi pada Bidang PP2, Bappeda Provinsi NTT.

Turut mendampingi Mark Smulder pada kunjungan tersebut diantaranya Mr.Harlen Hale, Regional Advisor, Dr. Ageng Herianto, Assitant FAO Representative, Anny Mulyani, Wakil National Project, Kordinator Balitbang, Tejaningsi,SE,MA,  Fungsional Perencana Bappenas bersama aparatur unit  Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB. (humas setda NTT)

Komentar ANDA?