Jurnalis ‘Proyek’

0
1421

Jurnalis ‘Proyek’

Isu yang sudah hampir terkonfirmasi tentang penerimaan ‘jatah’ Rp 15 juta per media di Lembata, menjadi topik menarik dan ‘seksi’ pula. Dalam waktu dekat, muncul aneka komentar. Ada yang mendalami permasalahan dan berkomentar. Yang lain sekadar ‘buang di angin’ (bukan buang angin hehe).

Yang jadi pertanyaan: apakah hal itu menjadi kasus tunggal yang terjadi (kalau benar demikian) di Lembata? Apakah wartawan yang mewujudkan misi jurnalistiknya karena sebuah ‘proyek’ hanya terjadi di pulau yang akhir-akhir ini dijuluki ‘helties from the east’?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kita sepakat bersama bahwa sebuah ‘proyek’ tidak selalu dalam arti negatif. “Proyectare’(Latin / Spanyol) berarti Lanzar, dirigir hacia delante o a distancia yang artinya melemparkan atau mengarahkan sesuatu ke masa depan atau ke sebuah jarak jauh. Dalamnya kita harus tahu bahwa ada jurnalis yang memang punya pandangan seperti itu. Mereka patut kita banggakan. Ia bekerja atas dasar idealisme. Ia ‘makan’ sewajarnya dari kerja. Tetapi ada wartawan ‘proyek’ yang kerja berdasarkan ‘pesanan’ yang tentu saja berada di bawah subordinasi pihak lain.

‘Seakan-akan Jurnalis’

Tentang tipe-tipe wartawan, Niken Satywati menampilkan 6 tipe wartawan. Saya belum sempat mendalami klasifikasi itu, yakni siapa penulis asli yang membuat klasifikasi, tetapi dari segi akal sehat, kita bisa menerimanya tanpa harus mengklarifikasi lebih jauh.

Jurnalis profesional dan idealis menjadi kualifikasi bagi jurnalis media mainstream atau non mainstream, kontributor yang terikat pada media tertentu hingga para freelancer yang visioner. Mereka menjalankan profesinya dengan sepenuh hati. Mereka mengangkat isu-isu substansial, isu di luar isu kebanyakan (yang diperoleh melalui investigasi) demi pencerahan publik.

Di bawahnya ada jurnalis yang profesional tetapi kurang atau tidak idealis. Mereka biasanya ambil isu-isu biasa-biasa. Ia akan mengangkat masalah yang lagi ‘dibicarakan’. Kalau soal uang, sering bekerja dependen pada penguasa atau pemberi dana.

Tipe ketiga orang yang bekerja seperti jurnalis. Mereka biasanya berasal dari media yang kurang terkenal tetapi berusaha mewawancarai orang terkenal lalu kemudian meminta bayaran.

Wartawan tanpa Surat Kabar (WTS)

Tiga kategori di atas masih menyisahkan tipe lain dari wartawan yang bisa disebut menempati zona terendah.

Ada wartawan bodrex. Merreka biasanya menimbulkan sakit kepala (padahal bodrex merupakan obat untuk meredakan sakit kepala). Mereka berbekal kartu pers dari perusahaan media tidak terkenal. Mereka biasanya banyak gentayangan ketika ada acara jumpa pers atau acara lain yang tercium aroma ‘uang’. Kalau kegiatan yang tidak beraroma uang mereka biasanya absen (ketahuan heheh).

Tipe lain adalah WTS (Wartawan Tanpa Surat Kabar). Mereka melakukan reportase seperti wartawan. Mereka juga muncul di kegiatan beraroma rupiah namun mereka tidak bekerja untuk media tertentu. Keberadaan mereka sebagai jurnalis hanya sebagai tipuan untuk mendapatkan keuntungan. Wartawan seperti ini biasanya menjadiakn ‘status’ (siluman) sebagai wartawan untuk bekerja sebagai sekretaris atau staf ahli politisi tertentu. Mereka seperti ini biasanya berkeliling ke mana-mana sambil lihat peluang termasuk ada kemungkinan mendapatkan dana termasuk (mengapa tidak) kalau ada peluang untuk jadi calon eksekutif atau legislatif di daerahnya. Kalau gagal, ya mereka kembali ‘ke kandangnya’ sambil terus memproklamirkan diri sebagai ‘wartawan nasional’ hanya karena tinggal di luar daerah.

Yang terakhir adalah pemeras yang mengaku sebagai wartawan. Mereka biasanya datang ke penguasa, orang kaya atau yang punya jabatan dalam pemerintahan. Mereka berlagak menayanakan kasus tertentu, lantas pura-pura menelepon pejabat terkait atau atasan pejabat untuk ‘konfirmasi’ atas ‘kasus yang diliput’. Tipe ini sangat mirip dengan ‘jurnalis bodrex’. Tujuannya agar dengan tekanan itu ia semakin meyakinkan untuk meminta uang.

Gunung Es

Kasus yang terjadi di Lembata tentu saja memprihatinkan. Di sebuah kabupaten yang tergolong Daerah Tertinggal, anggaran yang seharusnya bisa dialokasikan untuk masyarakat, tetapi ‘ditumpahkan’ untuk membiayai media yang bisa saja kredibilitasnya diragukan.

Tetapi kita tidak bisa hanya seperti petugas pemadam kebakaran yang hanya reaktif ketika ada ‘kebakaran’ (masalah). Sebaliknya, peristiwa ini perlu menjadi pintu masuk untuk menyadari lebih jauh. Jelasnya, perlu disadari bahwa ini adalah fenomen ‘gunung es’ dengan problematika di bawahnya yang mengkuatirkan. Darinya analisis lebih dalam perlu dilakukan sebagai pembelajaran.

Pertama, dari tipe-tipe jurnalis seperti terurai di atas, kita (mestinya) sadar bahwa tipe wartawan bukan hanya dua, antara jurnalis ‘profesional baik’ dan wartawan yang ‘abal-abalan’. Yang lebih mengkuatirkan, adalah tipe kamuflatif yang berada di antaranya. Mereka bahkan kerap menjuluki dirinya ‘wartawan nasional’, malah bangga sebagai ‘WTS’ tetapi bila dikaji, ternyata mereka lebih berbahaya. Model jurnalis seperti ini, kalau ada isu biasanya menjadi begitu vokal. Atau ketika ada opini beredar, mereka akan dengan mudah menyerang pribadi karena mengira orang lain seperti mereka dalam menulis.

Kedua, kasus seperti yang terjadi di Lembata tidak serta merta menjadi ajang untuk menggeneralisasi media. Tidak semua media yang mengadakan kerjasama dengan pemerinta itu ‘merupakan media abal-abalan’. Ada (jadi tidak semua) yang melaksanakan fungsi jurnalistik dan ketika ada peluang untuk mendaptkan ‘support’ dari pemerintah, ‘why not’? Mereka tidak malu-malu mengajukan usulan karena untuk pergi meliput juga butuh ‘bensin’. Apakah ada yang salah? Apakah wartawan ini salah ketika ia ‘bisa hidup’ dari perolehan yang sah dan bukan dari upaya memeras?

Jacob Oetama, ketika Orde Baru begitu kuat membreidel media, ia berada pada pilihan yang sangat sulit. Suara hati untuk menghadirkan media yang idealistik tentu disadari. Tetapi di antara arus itu masih ada peluang untuk melaksanakan fungsi kreatif menghadirkan makna. Ia tentu tidak begitu brutal mengkritik. Kadang lemparannya (proyectare) ke peristiwa luar negeri yang dibahas meski orang tahu bahwa yang jadi target adalah dalam negeri. Pada titik ini maka kasus seperti yang terjadi di Lembat tentu saja diproses. Tetapi itu tidak berarti orang harus ‘menghakimi’ sebelum media itu memebela diri.

Ketiga, kita butuh kehadiran pemikir, akademisi, yang bisa membangun pemikiran alternatif. Seorang akademisi yang profesional tidak akan terpancing (apalagi termakan) oleh isu dan ikut menggiring opini publik. Ia harus tahu membangun pemikiran dan menyeleksinya agar cap yang ia bangun mencerahkan orang dan bukannya mengaburkan masalah.

Tentu kita prihatin kalau ada akademisi yang tidak sampai ke titik ini. Mereka malah bekerjasama dengan ‘WTS’ untuk membangun opini yang menjebak. Hal ini kita sayangkan dan berharap semoga kasus di Lembata bisa menjadi sebuah pencerahan tidak hanya bagi Lembata tetapi juga menjangkau lebih luas. Inilah proyeksi idealisme kita bersama. Semoga.

Robert Bala. Pemerhati Media. Tinggal di Jakarta. Penulis buku INSPIRASI HIDUP (Pengalaman Kecil, Sarat Makna). Terbit di Kanisius Jogyakarta.

Komentar ANDA?