Keberanian Romo Magnis dan Kepanikan Eggy Sudjana

0
847
Foto: Pater Juan Tuan MSF, seorang imam misionaris asal Adonara, NTT yang bertugas di Manila, Filipina

Oleh: Juan Tuan MSF

  

SELASA, 10 Oktober 2017, adalah episode kepanikan Eggy Sudjana dan timnya dengan melaporkan para pelapor yang melaporkan Eggy atas ucapannya beberapa hari yang lalu termasuk melaporkan Romo Magnis Suseno.

Melaporkan seorang Romo Magnis Suseno SJ yang tidak sekedar Budayawan namun juga seorang aktivis sosial dan kemanusiaan yang mana selama ini Romo Magnis secara aktif menunjukan keterlibatannya di dalam membela keadilan dan kebenaran entah melalui tulisan-tulisan maupun aksi-aksi damai kemanusiaan, semakin memperlihatkan kepanikan sekaligus ketakutan seorang Eggy bersama timnya di dalam menyikapi persoalan yang sedang menjerat Eggy.

Secara pribadi, saya salut dan sepakat dengan Romo Magnis yang menolak menarik ucapannya soal kata “bodoh” yang dilontarkan oleh Romo Magnis di salah satu media kepada Eggy lantaran ucapannya yang mempersoalakan sila pertama Pancasila. Romo Magnis mengatakan bahwa ucapannya itu sudah tepat dan siap mengikuti proses hukum kalau laporan Eggi ditindaklanjuti.

Kalau saudara Eggy tidak ingin dikatakan demikian, jangankan Romo Magnis yang mengatakan, siapapun termasuk saya pasti juga bisa mengatakan demikian, maka saudara Eggy seharusnya sadar bahwa tugasnya sebagai seorang pengacara cukup berbicara soal masalah gugatan atau hal yang berhubungan dengan pekerjaannya dan tidak usah membicarakan hal yang bukan urusan dan bahkan tidak paham soal keimanan dan refleksi agama lain.

Kalau hari ini saudara Eggy melaporkan Romo Magnis dan para pelapor yang melaporkannya, secara sederhana saya memahami bahwa saudara Eggy sedang mengalami kepanikan dan mengakui kesalahannya atas ucapannya sendiri. Saudara Eggy sedang memperotontonkan pembelaan diri atas kesalahan ucapnya yang tak memiliki landasan apapun.

Saya jadi merasa lucu, ketika saudara Eggy yang melemparkan ucapannya, justru menyembunyikan kembali ucapannya dengan cara melaporkan Romo Magnis dan pihak lain yang sempat melaporkan dia.

Menurut hemat saya; dengan melaporkan Romo Magnis dan para pelapor lainnya, saudara Eggy seharusnya bertanya; apakah pernyataannya itu sudah dilontarkan secara logis, sistematis dan kritis.

Berpikir logis menuntut pemikiran yang sistematis yaitu rangkaian pemikiran yang berhubungan satu sama lain atau saling berkaitan secara logis. Tanpa disertai pemikiran yang logis-sistematis dan koheren, tidak mungkin dicapai kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sedangkan

Berpikir kritis artinya menjaga kemauan untuk terus-menerus mengevaluasi argumentasi yang mengklaim dirinya adalah benar. Seseorang yang berpikiran kritis tidak akan mudah meyakini suatu kebenaran begitu saja tanpa benar-benar menguji keabsahan kebenaran tersebut.

Maka jika hari ini Romo Magnis mengungkapkan ucapan itu dan para pelapor yang melaporkan saudara Eggy itu berarti pernyataan saudara Eggy tidak hanya sekedar merupakan ujaran kebencian yang bisa memecah belah persatuan, namun juga karena tidak Logis, Sistematis dan Kritis.

Seperti kata Filsuf Aristoteles; ‘Hidup yang tidak direfleksikan, tidak pantas dijalani’, demikian juga dengan ucapan dan tindakan saudara Eggy; ‘Ucapan yang tidak direfleksikan sejatinya , tidak pantas diucapkan’. Ketika hari ini Eggy melaporkan Romo Magnis dan yang lainnya, sejatinya Eggy memang tidak pernah mau merfeleksikan ucapannya yang sejatinya juga tidak pantas diucapkan karena tidak memiliki landasan logis, sistematis dan kritis.

Oleh karena itu, hanya sebuah kepanikan dan kegaduhan pikiran saudara Eggy ketika melaporkan Romo Magnis dan pelapor lainny. Kami tidak membiarkan saudara Eggy dan timnya membungkam suara-suara kemanusiaan untuk keutusan NKRI dan Pancasila. Kami bersama dan membela mereka. Save Romo Magnis dan yang lainnya dari kepanikan saudara Eggy.

 

Manila: Oktubre-11-2017
Fr. Juan Tuan MSF

*) Penulis adalah seorang imam asal Adonara, NTT yang bertugas di Manila, Filipina

Komentar ANDA?