Kopi, Sasando Rote, dan “Kamera Ajaib” Pemikat Wisatawan Vietnam

0
218
Foto: Bertholens Aogus Pah, pemain Sasando sedang mengobrol dengan pengunjung dari negara lain dalam perhelatan International Travel Expo Ho Chi Minh City 2016 di Vietnam.

NTTsatu.com – Paviliun ‘Wonderful Indonesia’ pada International Travel Expo (ITE) Ho Chi Minh City (HCMC) 2016 di Saigon Exhibition Center, Vietnam, Kamis (8/9/2016), memikat para pengunjung.

Mari kita tengok terlebih dahulu bentuk paviliun yang dikelola oleh tim dari Kementerian Pariwisata tersebut. Luas paviliun memanjang 15 x 6 meter persegi. Pada ujung utara, terdapat meja informasi. Di sana, disediakan booklet hingga brosur yang berisi tempat pariwisata penjuru Indonesia.

Tim menyediakan pin dan dompet gratis bagi pengunjung. Di sebelahnya, terdapat ‘photo booth’ dengan nuansa Bali. Sejak booth ‘Wonderful Indonesia’ dibuka, sang fotografer tidak pernah berhenti bekerja.

Sementara, pada kedua sisi panjang paviliun, berdiri 18 meja kecil. Meja itu diisi para pelaku industri pariwisata dari Sumatera Utara, DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur. Mereka adalah pengusaha-pengusaha agen perjalanan.

Sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB mereka tidak berhenti berkomunikasi dengan para pengusaha agen perjalanan dari negara lain.

Tujuannya adalah menggali informasi bagaimana mengakses tempat-tempat wisata di Indonesia, apa saja keunggulan tempat wisata itu hingga membicarakan hal-hal yang tidak disediakan di dalam paket perjalanan reguler.

“Hari ini (kemarin), agendanya adalah business to business. Artinya, perusahaan perjalanan Indonesia bertemu dengan perusahaan perjalanan di penjuru dunia. Sementara besok (hari ini) itu business to consumer. Jadi masyarakat umum lah yang mendatangi paviliun kita untuk merancang liburannya,” ujar Asisten Deputi Pengembangan Pasar Asia Tenggara Kemenpar, Rizki Handayani, Kamis (8/9/2016).

Kopi, Sasando hingga Kamera Virtual 360

Bagian selatan paviliun lah yang paling ramai. Hal pertama yang memikat pengunjung adalah kopi. Ronaldo Keni (23) adalah barista asal Nusa Tenggara Timur. Di Ho Chi Minh, ia membawa kopi panggang arabika. Kopi-kopi itu disajikan gratis bagi pengunjung.

“Mereka sangat antusias dengan kopi Indonesia. Ada yang sampai mau beli kopi saya yang masih dibungkus. Padahal, itu kan gratis. hahaha,” ujar pria yang akrab disapa Aldo itu.

Sambil menyeruput kopi khas Indonesia, pengunjung dimanjakan alunan merdu Sasando Rote yang dipetik tangan pemuda yang juga berasal dari Nusa Tenggara Timur, Bertholens Aogus Pah.

Mungkin pembaca masih ingat. Betho pernah tampil di salah satu ajang pencari bakat di televisi nasional. Beragam lagu mengalun dari Sasandonya. Mulai dari ‘Thinking Out Loud’ yang dinyanyikan Ed Sheeran, ‘She Will Be Love’-nya Maroon-5, Sempurna dari Andra and the Backbone, ‘I’m Not the Only One’ yang dinyanyikan Sam Smith hingga Poco-Poco.

Petikan Sasando Bertho membuat pengunjung menhentak-hentakkan kakinya, menepak-nepakkan tangan ke paha hingga mengangguk-anggukkan kepala sesuai irama musik. Bagi yang malu-malu tampak hanya memainkan jari-jemari mereka.

Selain itu, ada pula penampilan saxophone dan flute dari musisi Juhanny Fatmarida Susilo dan penari tradisional asal Bandung, Hanu Hanipah, Nurlaela Purnawati dan Sigit Febriyanto. Mereka membawakan Tari Cendrawasih asal Bali dan tari Piring asal Sumatera Barat.

Pengunjung juga bisa menggambar bagian tubuhnya. Tim ‘Wonderful Indonesia’ mendatangkan, Nurhayati, body painter dari Jakarta. Pengunjung rela mengantre hinga empat atau lima orang agar bagian tubuhnya dirajah oleh tinta Nurhayati.

Nah, yang terakhir paling seru. Meski berada di Ho Chi Minh, Diana Paskarina mampu membawa pengunjung ke tempat-tempat wisata di tanah air, mulai dari Nusa Penida, Crystal Bay Bali hingga Candi Borobudur Magelang.

Diana adalah virtual reality developer. Ia mengembangkan kaca mata yang tersambung dengan video 360 derajat. Ketika pengunjung mengenakan ‘kacamata ajaib’ itu, akan tersaji pemandangan tempat-tempat wisata itu ke penjuru mata memandang.

“Teknologi ini sebenarnya digunakan untuk game. Namun kami aplikasikan ke seperti ini. Tujuannya, memberikan pengalaman yang sebenarnya kepada pengunjung sehingga ia minimal tertarik untuk datang ke tempat wisata itu,” ujar Diana.

Seluruh pengunjung yang mengenakan kaca mata itu, menurut Diana, sangat terkesan. Mereka seakan berada di tempat wisata tersebut sehingga bagi orang di sekelilingnya dianggap aneh.

“Misalnya dia sedang melihat video 360 di laut. Dia bisa teriak-teriak sendiri. Apalagi kalau anak kecil yang pakai, dia bisa berlagak seperti berenang. (kompas.com/bp)

Komentar ANDA?