UNTUK KITA INGAT: BAHWA KEBAHAGIAAN ITU KITA CIPTAKAN.

0
508

Oleh: Thomas Tokan Pureklolon.

Di pagi ini di balik meja kerja di tempat kediamanku, aku ingin menulis sesuatu (sebuah refleksi) tentang makna sebuah kebahagiaan.
Adalah seorang motivator, Margaret Lee Runbeck; dalam sebuah tesisnya berbunyi: “Kebahagiaan bukan sebuah tempat untuk dituju, melainkan sebuah cara dalam melakukan perjalanan.”

Sebuah pertanyaan menantang pada awal refleksi ini: Menurut Anda, apa definisi bahagia? Atau sebuah pertanyaan yang lebih bersifat progresif: Sudahkah Anda merasa bahagia saat ini?
Inilah sebuah refleksi yang bisa punya dua sisi secara inheren yakni sebagai penulis refleksi dan juga sebagai penikmat refleksi.

Oleh karenanya kata ganti untuk penulis refleksi dan penikmat refleksi, saya hadirkan kata ‘kita’.
Tidak sedikit dari kita mengukur sebuah tingkat kebahagiaan dari keberlimpahan materi yang dimiliki. Padahal belum tentu bergelimang harta bukan sebagai penjamin sebuah kebahagiaan. Kita pasti tahu dan pernah membaca bahwa, Robin Williams, seorang aktor peraih oscaryang dikabarkan mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Banyak orang sangat terkejut seakan tidak percaya dengan pemberitaan ini.

Menurut mereka, tidak mungkin seorang aktor ternama seperti Robin Williams yang tentu notabenenya aktor papan atas, punya kehidupan yang super mapan, bergelimang harta, dan bertabur popularitas yang tinggi, justru mengakhiri hidupnya pencapaian orang lain. ketika seseorang iri dengan keberhasilan orang lain, pada saat yang sama kebahagiaan menjadi sangat enggan mendekati.

Kedua, sering mengeluh. Poin ini pun masih sering dijumpai di setiap lorong-lorong kehidupan ini, bahkan jangan-jangan sering dilalui dan jalani disetiap kehidupan ini. Mengeluh tidak pernah dan tidak akan mengubah keadaan seseorang.

Berhati-hatilah, penyakit mengeluh bisa menular dengan caranya yang akut. Bagi Anda yang punya teman dan saudara yang mengidap “mengeluh akut”, berhati-hatilah. Kalau bisa, saya ajak Anda untuk sembuhkanlah. Ketiga, Egois. Kita merasa tidak bahagia saat yang kita pikirkan atau yang ada di pikiran kita hanyalah diri kita. Bagi seseorang, kebahagiaan itu dirasakan dari kedalaman, dan tidak ada sangkut-pautnya dengan orang lain.

Keempat, sinis. Pernahkah seseorang mengomentari kehidupan orang lain? Saya yakin jawabannya bukan pernah lagi, tapi sering. Saat seseorang melakukan sesuatu dan berhasil baik, barangkali dengan sinis kita bisa mengomentarinya.

Kelima, pelit. Untuk yang satu ini, entahkan pembaca masuk dalam katagori ini? Satu hal yang perlu diingat adalah orang pelit tidak akan merasa bahagia karena mereka mengidap rasa takut yang akut. Orang pelit karena mereka memang pelit dan enggan berbagi. Jika mereka dermawan, mereka akan merasa tersaingi dan kalah bersaing.

Coba kita perhatikan secara saksama dalam pergumulan hidup ini, apakah ada orang-orang sukses memiliki mental pelit? Justru “mereka sukses karena mau berbagi”.

Itulah sebuah refleksi singkat bahwa bahagia itu tetap kita “ciptakan”. dengan cara yang mencekam, konyol, dan sebagian orang tentu menganggapnya sebagai sebuah tindakan yang terhina.

Menurut pemberitaan dan pengakuan sang istrinya, ia menuturkan jika suaminya beberapa waktu sebelum meninggal, sempat mengalami depresi yang hebat, kesulitan tidur, dan mengidap sebuah kecemasan yang akut.

Tentu kabar ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua, paling tidak yang sedang membaca refleksi ini. Saat kekayaan berlimpah menjadi milik pribadi, jabatan bergengsi telah diraihnya secara sempurna, dan popularitas yang dimiliki terus melangit; Semuanya hadir begitu saja dan telah menjadi hal yang di-Tuhankan (Thomas T. Pureklolon, Neo-Nasionalisme dan Ideologi Global, 2019), maka tidak akan menjadi garansi bagi kita, untuk dan bisa menikmati nilai dari sebuah kehidupan yang diraihnya dengan kerja keras, penuh perjuangan dan air mata selama ini.

Kita memang merasa bahagia ketika mendapat kesuksesan, namun kesuksesan yang kita tentukan pun harus memiliki definisi yang searah dan benar dengan hakikinya kehidupan ini yang selalu bermakna, bernilai, dan tentu bertujuan mulia.

Untuk bisa mengukur dan menentukan bahwa saat ini seseorang tampil bahagia atau belum bahagia, ada hal yang harus diperiksa. Barangkali, ada lima tanda kehidupan, bahwa seseorang sedang tidak menikmati kebahagiaan:

Pertama adalah, gampang iri. Hal ini sering dialami bahkan mumakin dilakukan ketika seseorang melihat nikmatilah proses hidup dalam sebuah kesadaran karena kebahagiaan merupakan sebuah cara dalam melakukan perjalanan dalam sebuah kesadaran. Begitu.

Jakarta, 25 Mei 2020.

*) Penulis: Dosen, Universitas Pelita Harapan.

Komentar ANDA?